Category Cerpen

Bapak Pulang

Oleh: Nigina Auliarachmah Hari sudah menjelang sore ketika lelaki itu sampai di depan gapura sebuah kampung. Mobil elf yang dia tumpangi beberapa detik lalu telah melaju kembali dengan cepat. Dengan perasaan yang campur aduk, dia mulai melangkahkan kakinya memasuki kampung…

PAGI ITU, SEJUK

Hari ini cerah, aku kira akan ada badai nanti sore, tapi sepertinya hanya dugaanku saja.   Namaku Man saat ini, namun saat kecil namaku Son, nama kecil yang keren, bukan? Mungkin saat tua nanti namaku menjadi Old Man, entahlah.  …

MENJEMPUT MALAM

Karya: Riswanto (Sastra Indonesia 2015) Kehadiranmu kali ini disambut dengan suka cita, bahkan manager kafe menyalamimu begitu tahu pelanggan setianya telah kembali. Betapa tidak, mereka mengakrabi rutinitas kunjunganmu menjelang akhir pekan: kamu akan datang tepat pukul 5 petang, berhenti sejenak…

Ada-ada Saja

Memang ada saja yang menarik selain perempuan-perempuan muda yang bersolek pada upacara penerimaan murid baru. Pagi itu, sebelum nasi sempat ditanak oleh ibu-ibu rumah tangga, seorang pemuda berlari memecah udara. Pemuda itu nampak seperti bayang-bayang. Di belakangnya beberapa orang tanpa…

PERAMPAS REMBULAN

Oleh Dzikri Maulana (Sastra Indonesia 2015) “Di sisi jendela kamar, aku diam-diam berkelahi bersama perasaan, bersama hempasan angin malam,hingga akhirnya pergi mencari jawaban tentang rembulan dan cinta” Dengan sekotak kado berwarna jingga serta disisipi sebuah surat kecoklatan, kukirim kepadamu sebuah…

Kepada Aksara, tentang Kata yang Belum Tereja Olehnya

Dini hari rupanya masih mau berkompromi denganku. Angin pun berhembus ke seluruh penjuru kamar tanpa menyisakan ruang sedikitpun. Semua dipenuhi olehnya. Menyesakkan atau menyegarkan, itu bergantung pada penghirupnya bukan? Dan aku lebih memilih menjadikannya sebagai hal yang menyegarkan.   Hai. Aku sengaja menulis…

Vide et Crede Vicious

Oleh: Robi Afrizan Saputra (Sastra Indonesia 2014) Gara-gara uang 500 rupiah nenek bungkuk itu berjalan kira-kira sejauh 5 km. Tongkat kayu lapuknya hampir patah. Tangkainya digerogoti rayap-rayap setan. Belum lagi sejumlah ijuk di punggung yang membuatnya bertambah bungkuk. Tampaklah ia…

Menunggu Hujan

Bus berhenti. Rintik hujan membuat seorang lelaki menaiki bus itu dengan sedikit berlari. Ia tidak membawa tas atau semacamnya. Ia hanya membawa sebuah buku. Buku yang terlihat kumal dan kini tampak basah di satu sisi, akibat melindungi kepala lelaki itu…