Category Puisi

Takhta di Ruang Tengah

Sedikit sekali peluh yang Ia tinggalkan di siniUluran tangannya pun terasa asingDi sini, di tempat ini,Ibu memilih seumur hidupnyadengan lelaki yang dulu Ia kira mampu berusaha Tanpa malu Ia menetapkan dirinya sebagai pemintaEntahlah, mungkin karena sudah terbiasaTanpa malu Ia memaki…

Retak

Mungkin kalanya “kita” memang tak semestinya sejiwaMenentang batas-batas takdirMemaksa keadaan Satu tangkai bunga Semakin layuRingkih GugurHilangAbstrak  Api pun padamBersama sisa-sisa (r)asaTenggelam Mungkin sekarang,satu kesempatan Mungkin kalanya “kita” tak harus berjuang sejauh iniMemaksa restuMendaki ego tinggi Satu perintah“Hancurkan”TerguncangMatiTotal Tak pernah terpikirKisah kita menemui…

Rengkuh

Rengkuh diriku,  meski harus melalui hancurnya sebuah bintang  Meski jari manis ini tidak bisa bertaut karena terlampau ringkih  Kubilang, rengkuhlah raga ini  Yang terlalu banyak menyimpan kegamangan  Dari bait-bait yang hanya mencapai ujung lidah  Dari kasih yang kerap bermuara di…

Dunia Gelembung

Dunia Gelembung Aku adalah seorang anak.Saat ini, aku sedang bermain gelembung.Bermain gelembung itu sangat menyenangkan, ya.Lho, gelembung itu terbang semakin jauh.Eh, apa aku terlalu lama bermain, ya?Apakah aku harus kembali ke rumah sekarang?Namun, aku masih mau bermain…Ah, ya sudahlah.Mau tak…

Sebatas Lengkara

Seindah apa pun sesuatu, ia hanya berhenti pada tataran rupa dan tidak menyentuh makna yang lebih dalam. Kita hanya sampai pada tahap mengagumi, tidak dapat memiliki; sebatas keindahan yang tidak jadi kenyataan. Sekalipun rasa itu nyata, ia tak mampu didefinisikan…

Ini Putus Asa?

Sadar Sedari Ternyata itu pilihanmu, kau dipaksa membenci airDi bumi yang penuh dengan air, bahkan isi dirimuTernyata, aku mendorongmu ke sakit yang selalu kau paksa lupakanKau indahkan lukamu dengan hadirku? Aku membunuhmu perlahan dan kau ingin mati dengan indah olehku,…

Yang Tersisa Hanya Aku

Apa yang Aku Mau Bunga di kamarku sudah layu, kapan kamu akan menggantinya?Hatiku sudah mulai kosong, kapan kamu akan mengisinya?Tulisanku sudah mulai pudar, kapan kamu akan memberikan tintanya?Air mataku sudah habis terkuras, kapan kamu akan menghentikannya? Tapi apa kamu tahu…

Wulang

Kumpulan Puisi Rifqi Septian Dewantara Wulang kelak kau akan mengerti, petuah sari yang dicium dari rahimakallah, menjadi kelopak melati depan teras rumahmu. hati bukanlah musabab pada segala yang tak berucap. melainkan susur doa yang terselip pada tubuh-adab-akalmu. lalu hamparan harap…