Pernahkah kalian membayangkan kalau rumah beserta benda-benda di dalamnya merupakan saksi bisu hidup kita? Bahwa isi perut bangunan dengan banyak sudutnya itu adalah bagian dari pondasi yang membesarkan kita? Apakah lantainya pernah merasakan sakit ketika diinjak-injak atau kejatuhan suatu benda? Apakah temboknya merasakan sentuhan dari tangan-tangan mungil yang menggambar di sana? Mana yang lebih ia suka, apakah saat hening atau saat banyak suara bergema?
Joachim Trier, seorang sutradara dan penulis skenario Denmark-Norwegia yang terkenal dengan pendekatan sinematografi elegannya. Joachim kerap menarik penontonnya menyelami alur eksistensial melankolis yang membawa kita pada pengalaman baru dalam sinema. Karya-karya Joachim yang berhasil meraih berbagai penghargaan yaitu; Reprise (2006), The Worst Person In The World (2021), dan Sentimental Value (2025).
Tidak seperti dramaturgi tiga babak sederhana ala Hollywood, Joachim Trier menyajikan sesuatu yang implisit. Menyaksikan karyanya berarti menghadapi tantangan komprehensi, menuntut empati, serta membaca maksud dan tujuannya dari motion picture yang disajikan. Joachim Trier enggan dengan pendekatan konvensional, ia lebih memilih untuk memberikan penggalan-penggalan pengalaman yang harus dikupas sendiri oleh penonton, sehingga dapat menemukan dan merasakan emosi baru ketika menonton filmnya.
Hal tersebut pastinya dibarengi oleh penyajian sinematografi yang memanjakan mata. Seringkali sebuah adegan akan diambil dengan tempo yang lambat, yang membuat penonton mendapatkan waktu untuk berkontemplasi atau sekadar slowing the mind membaca literasi dari sebuah film.

Seperti di dalam film Sentimental Value (2025) yang dimulai dengan sorotan detail sebuah rumah: kicauan burung, angin berdesir, dan tekstur cat warna di kayu yang sudah berumur. Joachim Trier mempersonifikasikan rumah tersebut hingga terasa hidup.
Pendekatan tersebut diperjelas lagi dengan narasi pembuka yang mengisahkan pengalaman masa kecil salah satu karakter mengenai bagaimana dia memandang rumah tersebut dan membuat puisi tentangnya.
Sentimental Value menceritakan tentang apa?
Film ini menceritakan pertemuan Gustav Borg dan anak-anaknya di hari kematian sang ibu. Gustav memilih pergi dari rumah setelah bercerai dengan istrinya, membuat pertemuan kembali mereka terasa canggung dan penuh luka lama yang belum terselesaikan. Terutama untuk Nora, sebagai anak pertama, yang harus melalui banyak kesulitan setelah ditinggal pergi sang ayah.
Kembalinya Gustav ke hidup Nora ternyata memiliki maksud lain selain berkumpul dengan keluarga yang berduka. Nora yang berprofesi sebagai aktris teater, mendapatkan tawaran bermain film yang akan disutradarai oleh Gustav. Nora yang sudah terlalu dibutakan oleh emosi terhadap ayahnya menolak tawaran itu tanpa tahu apa isi filmnya.
Akibat tawarannya ditolak mentah-mentah, Gustav pun merasa putus asa untuk melanjutkan pembuatan filmnya. Sampai akhirnya dia bertemu dengan Rachel Kemp, aktris Amerika yang sangat mengagumi karya-karya Gustav. Di momen Rachel membaca skrip film yang ditulis oleh Gustav, dia langsung bersedia untuk memerankan tokoh utama film tersebut.
Seiring berjalannya latihan akting untuk film terbaru, Gustav menyadari ada hal yang kurang menghidupi ceritanya. Seberapa besar usaha Rachel untuk melebur ke tokoh utama, seperti menulis ulang dialog percakapan yang tadinya berbahasa Norwegia menjadi Inggris, mewarnai rambutnya yang tadinya pirang menjadi coklat, Gustav masih merasa ada potongan yang tidak lengkap.
Di waktu yang bersamaan, banyak situasi di mana Gustav harus bertemu Nora dan Agnes—anak keduanya berkali-kali. Seperti ketika ulang tahun Erik, anaknya (Agnes), atau saat Gustav memiliki ide untuk Erik bermain di filmnya sebagai aktor tambahan.
Di saat-saat tersebut, banyak perjalanan mengulas sejarah keluarga: dimulai dari masa kecil Gustav, masa kecil Nora dan Agnes ketika ibu mereka masih hidup, momen Nora mencuri-curi dengar obrolan ibunya yang sebagai psikolog bersama kliennya. Kejadian demi kejadian itu membentuk benang nasib yang saling memengaruhi, menjabarkan alasan psikologis kenapa setiap individu melakukan sesuatu.
Banyak hal yang masih menunggu untuk diungkap, dipahami, dan diterima dari kumpulan kisah keluarga Borg. Gustav yang merasa bisa sepenuhnya mengungkapkan isi pikiran dan hatinya melalui film, ia mencari kedamaian dengan menulis kisah masa kecilnya bersama ibunya di film terbaru. Hal ini memiliki makna ganda, yaitu menelusuri nostalgia tersebut yang berkesinambungan dengan cara hidup Nora selama ini yang selalu mencari-cari jawaban atas alur kehidupannya.

“Someone said praying isn’t really talking to God. It’s acknowledging the despair. To throw yourself on the ground because that’s all you can do.”
Merupakan salah satu dialog terkenal yang dikemukakan oleh Gustav dalam skrip filmnya. Pernyataan tersebut menjembatani rasa saling mengerti antara Gustav dan Nora, hingga akhirnya Nora bersedia memberikan kesempatan untuk membaca seluruh skrip film.

Ketika Nora membacakan setiap dialognya, ia semakin hanyut oleh sisi ayahnya yang tidak dikenalnya selama ini. Nora mulai mengerti alasan Gustav menginginkan ia yang memerankan tokoh utama di film tersebut. Bahwa cerita yang ditulis oleh Gustav merupakan pengakuan jejak eksistensi, permohonan yang ingin didengar, kisah yang ingin menemukan akhirnya. Semua poin itu tidak bisa diraih tanpa campur tangan personil dari keluarga Borg itu sendiri. Potongan kekurangan yang selama ini dirasakan oleh Gustav, dapat menjadi lengkap ketika Nora hendak berpartisipasi.
Seperti penggalan dialog di atas, tabir bahasa merupakan suatu hal krusial untuk mendapatkan esensi. Nora, dengan identitas seorang anggota keluarga Borg, berbicara bahasa Norwegia, dan ikut andil dalam kisah keluarga, menjadi satu-satunya orang yang dapat menghidupi tokoh utama di film Gustav.
Jadi, seperti apa ending yang semua tokoh harapkan? Joachim Trier bukan sekadar membuat kisah art imitates life biasa, melainkan dia menggagas tuturan yang jauh lebih kompleks mengenai pencarian keseimbangan antara ekspresi artistik dan personal.
Menyelipkan kisah pribadi bisa terasa membebaskan, tetapi bisa juga menyengsarakan karena terlalu dekatnya kisah tersebut dengan diri kita. Bukan suatu hal yang mustahil untuk seseorang menghabiskan seumur hidupnya mengartikan keresahan yang ia rasakan.
Sentimental Value mengajak kita untuk mengupas sebuah emosi yang sulit dinamakan. Meskipun film ini melankolis, penonton bukan dibuat menangis, melainkan harus memikirkan arti tangisan tersebut. Sebuah karya yang mengedepankan kemampuan emotional intelligence ini merupakan tontonan yang akan membangun rasa empati, toleransi, dan refleksi.
Referensi:
Bahr, L. (2025, November 3). “Sentimental Value” review: A moving father-daughter drama. AP News. https://apnews.com/article/movie-review-sentimental-value-8f4bd31d09bb420dbc50e69639d9bc8a
OxStu Culture. (2025, October 12). Sentimental Value (2025): A Review – The Oxford Student. The Oxford Student. https://www.oxfordstudent.com/2025/10/12/sentimental-value-2025-a-review/
Seventh Row. (2026, January 29). Seventh Row. https://seventh-row.com/directors-we-love/joachim-trier/