Bayangkan jika kamu mendapatkan panggilan telepon yang menyatakan bahwa kamu memperoleh warisan sebesar 5 miliar, apa yang akan kamu lakukan? Langsung menerimanya tanpa ragu? Atau justru mengira itu suatu penipuan?
Begitu lah kira-kira prolog film Waswas Warisan yang disutradarai oleh Oktaviana Arda Laila. Film pendek ini merupakan karya Production House 0207, yaitu kelas Proses Kreatif Produksi Film Pendek Mahasiswa Sastra Indonesia Unpad angkatan 2024. Film bergenre komedi-absurd ini berhasil membawa keresahan masyarakat ke permukaan, juga mengupas karakteristik manusia Indonesia yang kerap terjebak di antara kebutuhan dan ketamakan.

Film Waswas Warisan bukan sekadar bercerita, tetapi juga menggambarkan penyakit sosial melalui tokoh-tokohnya. Karakter-karakter dalam film ini terasa tidak asing dan amat melekat dengan watak khas orang Indonesia—yang sadar maupun tidak sadar, kita jumpai sehari-hari. Penggambaran pertama diwakilkan oleh sosok Abdullah yang bertopeng religi seakan-akan hidupnya hanya untuk Tuhan. Ia menolak untuk percaya pada panggilan telepon yang menyatakan bahwa dirinya mendapatkan warisan sebesar 5 miliar. Namun, lain di mulut, lain di hati. Abdullah pun tergiur jua dengan warisan itu. Terkadang, kita menemukan orang yang bercitra religi, tetapi citraan itu hanyalah topeng untuk membalut hatinya yang masih tergiur oleh hal-hal bersifat duniawi.
Berkebalikan dengan Abdullah, hadirlah Selvi sebagai simbol dari kesuksesan yang dibayangkan oleh banyak orang. Namun, kenyataannya, kesuksesan yang diraih Selvi bersifat semu. Ia merupakan gambaran dari masyarakat urban yang menjadi budak siklus hustle culture yang menuntut kerja tanpa henti sebagai standar kesuksesan. Hal ini membuatnya menjadi tinggi hati dan merendahkan orang lain, nada bicaranya pun selalu tinggi.
Tokoh Rais muncul sebagai potret dari korban sistematik kapitalis yang memeras tenaga kerja manusia dengan upah yang tidak sesuai bahkan untuk melahirkan nyawa baru—kelahiran anaknya. Dalam hal ini, calon anak serta keluarga kecil Rais dapat menjadi “korban” dari kekejaman sistemik.
Pemuda pengangguran bernama Dimas menjadi simbol atas harapan anak muda yang mati dibunuh realitas. Hal ini menyebabkan Dimas putus asa dan tidak mau berusaha, satu-satunya usaha yang ia lakukan hanyalah berjudi online. Meskipun tidak dapat dibenarkan tindakan yang dilakukan oleh Dimas, tetapi yang perlu digaris bawahi adalah keputusasaan sebagian anak muda yang dampaknya dapat menjalar kemana-mana, khususnya hal-hal negatif.
Terakhir, tokoh Clara hadir sebagai “ujian” bagi tokoh-tokoh lainnya. Ujian yang dihadirkan di sini berupa eksperimen sosial dengan iming-iming warisan sebesar 5 miliar kepada tokoh-tokoh yang ada. Eksperimen sosial yang dilakukan oleh Clara merupakan pedang bermata dua. Sebab, eksperimen itu tidak hanya bertujuan untuk menguji sifat asli manusia (keserakahan), tetapi juga menimbulkan kemarahan kolektif akibat mempermainkan martabat manusia.
Eksperimen sosial dalam film Waswas Warisan juga merupakan cerminan dari realita sosial saat ini. Mari kita lihat media sosial seperti TikTok, Instagram, juga YouTube. Berapa banyak konten prank yang menjual kemiskinan sebagai hiburan? Hiburan dihadirkan dengan memanfaatkan kondisi ekonomi sebagian masyarakat yang lebih rendah, seolah-olah “mempermainkan” masyarakat kelas bawah. Fenomena ini tidak seharusnya lahir, sebab bahayanya dapat membentuk perspektif publik secara perlahan bahwa kesulitan ekonomi bukanlah masalah serius, melainkan sekadar bahan candaan saja.
Pada akhirnya, Waswas Warisan bukan tentang orang yang paling berhak atas “warisan” tersebut, melainkan tentang rasa kemanusiaan yang tersisa saat diuji dengan kepalsuan dan ketamakan.
Referensi:
Lubis, M. (2025). Manusia Indonesia. Yayasan Pustaka Obor Indonesia.
Tauhid, M., Rahmat, M. B., Fadhlurrahman, H. D., Azizah, D. D., & Syafira, K. (2025). Fenomena Hustle Culture di Era Kontemporer dan Pandangan Al-Qur’an Tentang Etos Kerja: Analisis Penafsiran M. Quraish Shihab. KACA (Karunia Cahaya Allah): Jurnal Dialogis Ilmu Ushuluddin. https://doi.org/10.36781/kaca.v15i2.1131