Sayap-Sayap Patah: Sebuah Tragedi yang Didramatisasi

Ita Rosita Setianingsih
117 views

Tahun ini, dunia sinema Indonesia melahirkan banyak karya apik yang menarik minat masyarakat luas. Beberapa di antaranya memecahkan rekor karena berhasil menembus  jumlah penonton yang luar biasa dalam waktu yang cukup singkat. Hadirnya berbagai film baru di layar lebar Indonesia berhasil meramaikan kembali bioskop yang sempat sepi semenjak pandemi Covid-19 selama dua tahun terakhir.

Dunia sinema tanah air kembali kedatangan film dengan genre drama-aksi yang berhasil memikat penonton Indonesia. Sebuah film berjudul Sayap-Sayap Patah yang merupakan hasil kolaborasi antara Maxima Pictures dan Denny Siregar Production telah tayang di bioskop pada 18 Agustus 2022 dan berhasil meraup 2 juta lebih penonton selama masa penayangannya.

Selain untuk mengenang anggota polisi yang gugur saat tragedi pemberontakan narapidana terorisme di Mako Brimob pada 2018 lalu, Sayap-Sayap Patah juga hadir atas alasan pribadi sang sutradara, Rudi Soedjarwo. Cukup sentimental ketika membaca unggahan Rudi pada akun Instagram (19/08) pribadinya, yang mengatakan bahwa telah menjadi harapan Sang Ayah agar dirinya kelak dapat menjadi anggota kepolisian. Meski hal tersebut tidak terwujud, ia berhasil memuat kehidupan polisi dalam sebuah film dan mempersembahkan film ini untuk sang Ibu.

Secuil Tentang Isi Film

Terinspirasi dari peristiwa nyata, Sayap-Sayap Patah memuat kisah  tragedi pemberontakan para narapidana terorisme yang dipimpin oleh seorang gembong teroris bernama Leong. Mereka berhasil menguasai Mako Brimob dan menyandera beberapa personel Densus 88 hingga menimbulkan korban jiwa.

Film ini berfokus pada tokoh Aji yang diperankan oleh aktor ternama Indonesia, Nicholas Saputra. Aji merupakan seorang anggota Densus 88 sekaligus seorang suami yang istrinya tengah hamil tua. Tanggung jawabnya sebagai anggota Densus 88 membawa Aji pada tugas yang cukup berat, yaitu membongkar serta memberantas aksi terorisme. Aji bersama timnya bertugas di garda terdepan untuk menangani aksi radikalisme tersebut dengan nyawa mereka sebagai taruhannya.

Dengan segala macam kemungkinan yang dapat terjadi, Nani, istri Aji yang tengah hamil tua (diperankan oleh Ariel Tatum) selalu diliputi rasa takut dan cemas ketika menantikan kepulangan sang suami. Hal tersebut membuat Nani stres hingga menyebabkan masalah pada kehamilannya. Masalah itu juga memberikan dampak buruk pada hubungan keduanya. Komunikasi antara keduanya memburuk sampai akhirnya Nani memutuskan untuk kembali ke rumah sang Ibu di Jakarta dan meninggalkan Aji yang masih bertugas di Surabaya demi menjaga kehamilannya.

Berpotensi Sekaligus Penuh Kontroversi

Memuat kisah tentang kehidupan keluarga polisi, Sayap-Sayap Patah memiliki tantangan yang besar untuk dapat bersaing di dunia sinema Indonesia saat penayangannya. Terlepas dari hadirnya banyak film lain yang lebih sesuai dengan selera pasar yang tentunya tidak kalah bagus dan menarik, minat masyarakat sendiri untuk menonton film ini seakan sudah hilang lebih dulu sebelum datang ke bioskop. 

Sudah menjadi rahasia umum bahwa tingkat kepercayaan masyarakat terhadap kepolisian telah menurun, bahkan cenderung skeptis terhadap lembaga tersebut. Terlebih, film ini hanya menampilkan sisi baik dari lembaga tersebut dan menggiring masyarakat untuk beropini bahwa film ini memang sudah ‘ditunggangi’ oleh kepentingan dari pihak-pihak tertentu. Bukan tanpa dasar, hadirnya Denny Siregar–seseorang yang dianggap memiliki track record yang kurang teladan–sebagai dalang utama dalam pembuatan film ini menjadikan film ini cukup kontroversial di media sosial, terutama di platform Twitter. 

Mengutip dari laman Media Indonesia, Denny Siregar selaku penulis sekaligus produser dari film Sayap-Sayap Patah mengatakan bahwa melalui film ini ia ingin memberitahu khalayak bahwa aksi terorisme itu ada, nyata, dan kejam. Denny juga mengatakan bahwa tujuan lainnya dari film ini ditujukan untuk meningkatkan kesadaran dan kewaspadaan masyarakat terhadap gerakan serta paham-paham seperti radikalisme, ekstrimisme, dan terorisme.

Alih-alih pesannya dapat tersampaikan, sejumlah penonton (berdasarkan ulasan mereka di media sosial), termasuk saya, merasa bahwa kehidupan atau drama keluarga yang kental disajikan dalam film. Hal ini saya rasa cukup bertolak belakang dengan tujuan film ini yang ‘katanya’ ingin meningkatkan awareness masyarakat terkait paham-paham negatif. 

Yah, setidaknya isi film ini memang sesuai dengan gambar di posternya, yang menurut saya memang jauh dari nuansa aksi dan tendensinya lebih ke genre film drama romansa. Kesimpulannya, film ini menjadi kurang proporsional antara aksi dengan drama yang dihadirkan. 

Seakan keluar jalur, detail dan yang di-spotlight dari film ini lebih condong pada kisah antara Aji dan Nani. Banyak bagian dari film ini yang saya rasa akan jauh lebih baik jika dijelaskan secara lebih detail lagi. Sebab, pada dasarnya masyarakat pun tidak minim apresiasi terhadap film-film yang memang apik. Terlebih untuk film-film yang membawa tema yang jarang diulik seperti Sayap-Sayap Patah ini.

Jika kembali pada tujuan awal yang disampaikan oleh Denny, durasi Aji dan Nani dapat dipangkas dan dialihkan ke detail bagian penting lain. Seperti misal untuk lebih mengulik Rasyid dan keponakannya. Sebab saya rasa tanpa durasi sepanjang itu pun pesan yang didapat dari kisah Aji dan Nani akan tetap sampai dan dapat emosinya. Rasanya pesan Denny akan lebih tersampaikan jika dilema yang dirasakan Rasyid (diperankan oleh Aden Bajaj) tentang baik dan buruk kegiatan komplotan mereka serta alasan mengapa keponakannya pun turut dikorbankan bisa lebih diungkap lagi. 

Oleh karena beberapa kekurangan itulah, film ini turut menuai kontroversi karena dianggap overrated dan banyak reviewer ‘bayaran’ yang berkeliaran luas di berbagai platform media sosial.

Di sisi lain ada hal yang menurut saya menjadi menarik dari film ini. Film ini tidak menampilkan atribut keagamaan yang biasanya dikaitkan dengan aksi terorisme secara terang-terangan. Namun, kembali lagi pada proses di balik layar, mungkin ada alasan-alasan yang krusial tentang mengapa hal-hal yang saya sebut di atas tidak dibuka secara detail dalam film ini.

Di luar siapa yang berada di belakang produksi film ini dan pelbagai kontroversi yang ada, sebagai seorang awam saya merasa bahwa film ini cukup layak untuk disaksikan. Selain memiliki akhir yang cukup “mengobati”, emosi dan ceritanya juga dikemas dengan apik melalui permainan peran yang maksimal dari para pemainnya. Film ini cukup emosional, terbukti dengan banyaknya penonton di bioskop yang berurai air mata dan berkomentar seputar akhir yang cukup mengesankan. 

Beberapa aktor yang turut memeriahkan film ini adalah Nicholas Saputra, Ariel Tatum, Poppy Sovia, Iwa K, Nugie, Khiva Iskak, dan pemeran-pemeran lainnya. Bukan hanya para pemain utama, Iwa K yang berperan sebagai Leong dan Nugie sebagai AKP Sadikin pun turut membuat emosi penonton mendidih melalui lakon mereka masing-masing, terutama saat keduanya bersitegang langsung. 


Film ini masih dapat dinilai ‘oke’ secara penokohan dan secara dialog dari antartokoh yang pas dan dirasa tidak begitu berlebihan. Pun perihal akting para pemainnya, tidak hanya para pemeran utama yang aktingnya patut diacungi jempol, seperti Iwa K dan Nugie. Pada akhirnya, film Sayap-Sayap Patah garapan Rudi Soedjarwo ini cukup berhasil.

guest
0 Komentar
Inline Feedbacks
View all comments

Artikel Lainnya

Inspirasi Budaya Padjadjaran