Berkabung

Tasya Laysa Sukma
85 views
','

' ); } ?>

Sungai mengalir ke arah laut di belantara hutan pinggir Desa Waluyo. Tetumbuhannya asri, segar, dan ayu, bak paras cantik Kartika si gadis kembang kebanggaan desa. Sudah lama tak nampak batang hidungnya. Mungkin sedang pergi ke luar kota setelah ia diangkat menjadi pegawai desa sini kemarin. Ibu selalu berkata bahwa aku dan Kartika adalah perwujudan dari sifat baik dan buruk serta hitam dan putih. Kartika adalah gadis pintar dan penurut. Ia senantiasa membantu ibu-ibu kampung menumbuk padi ketika musim panen. Terkadang, Kartika ikut ke sawah untuk memanen padi-padi itu. Sedangkan aku adalah pengangguran yang makan nasi liwet panas dari beras hasil tumbukan Kartika bersama ibu-ibu kampung. Tidak tahu-menahu, yang penting kenyang.

Saat ini, aku sedang berjalan hendak menghampiri tukang sayur langganan ibu-ibu di kampung, menguping gosip terbaru yang mereka bicarakan. Merekalah sumber informasi bagi pengangguran sepertiku. Belum lima menit menguping, sudah kudapatkan informasi bahwa Pak RT berselingkuh dengan pemilik tempat karaoke langganan si Juki. Ingin rasanya aku segera pulang, bertemu dengan Ibu dan membagikan informasi penting ini kepadanya. Namun, lubang kupingku semakin melebar kala seorang ibu berpakaian macan dengan celana ketat dan dompet penuh lembaran uang berwarna merah menyebut nama Kartika. Ah, mungkin berita tentang pencapaiannya lagi, pikirku. Namun tak kusangka, yang kudapati justru berita tentang Kartika yang hamil di luar nikah. Ramai orang menerka siapa bapak dari anak itu, tak terkecuali abang tukang sayur yang sedari tadi mendengarkan.

Aku sengaja terus memilah dagangan abang tukang sayur, pura-pura memilih terong dan jagung demi mengetahui kelanjutan cerita Kartika. Katanya, Kartika dihamili oleh kasi desa. Kasi bangkotan itu memang terkenal genit, tetapi hampir separuh sawah di desa ini adalah miliknya. Sebetulnya aku masih penasaran dengan kelanjutan cerita itu. Namun sudah hampir satu jam aku keluar untuk membeli sayur. Ibu pasti marah, karena ia sudah membuat bumbu sayur lodeh yang tak kunjung sampai itu sedari tadi.

Angin menerpa kulitku melalui pintu ruang tamu yang terbuka. Setelah menerima seribu tombakan amarah Ibu, kini aku tengah menikmati nasi hangat dengan sayur lodeh dan kerupuk udang seraya menonton televisi. Tak lama kemudian, Ibu duduk di kursi sebelahku sambil membawa dua gelas minuman marjan.

“Mengapa tadi kau lama sekali? Barang membeli beberapa helai daun saja rasanya seperti tengah menjadi kuli bangunan di taman kota,” tanya Ibu sambil menyeruput minuman marjan miliknya.

Aku tahu Ibu akan mengungkit perihal ini sampai tiga hari kedepan karena aku adalah pengangguran serba salah. “Pak RT berselingkuh dengan pemilik karaoke di ujung desa,” balasku. Terlihat Ibu mengerjap, tetapi kemudian berkata bahwa ia tidak terlalu terkejut. Semenjak diangkat menjadi ketua RT, pria itu menjadi besar kepala. Digodanya semua gadis di desa ini. Mungkin pemilik karaoke itulah yang menjadi incaran terakhirnya. Paling-paling, sekarang ia tengah dipukuli istrinya dan diarak keliling kampung.

“Ibu tahu, katanya Kartika dihamili si kasi desa bangkotan menyebalkan itu. Pantas saja sudah lama aku tak melihat dia. Mungkin malu tuk sekadar keluar membeli beras. Sebab katanya, Kartikalah yang merayunya terlebih dahulu,” ucapku sembari mengunyah kerupuk udang lezat bersama sayur lodeh buatan Ibu. “Luar biasa benar berita-berita yang kudapatkan pagi ini,” lanjutku.

“Ah, katanya, katanya, ucapanmu itu. Kartika mana yang kau maksud?” tanya Ibu tak yakin. Sudah dipastikan bahwa semua orang akan terkejut mendengar berita ini. Kartika memang gadis kesayangan semua orang di desa sini.

“Kartika mana lagi? Sudah pasti Kartika si kembang desa, kawanku semasa kecil. Katanya, ada yang melihat mereka berdua keluar dari kamar hotel di daerah Yogyakarta, Bu,” paparku berdasarkan informasi yang didapat dari berbelanja sayur pagi tadi.

“Lalu, apakah kau yakin akan kebenarannya? Kasihan benar Kartika. Telah lama ia menjadi yatim piatu sepeninggal Ibu dan Bapaknya. Kini, ia difitnah memiliki hubungan gelap dengan kasi tua itu. Malang benar nasib gadis itu. Mungkin besok pagi Ibu akan mengunjunginya,” ucap Ibu sambil beranjak dari kursi dan pergi ke dapur. Tampak layu raut mukanya. Entah apa yang ada di pikirannya. Yang jelas di pikiranku, sayur lodeh ini kurang garam. Namun, timbul pertanyaan di benakku, apakah benar Kartika melakukan semua perbuatan itu? Sudahlah, mungkin besok aku akan segera tahu.

Keesokan harinya, sepulang dari pasar, Ibu segera bergegas pergi menghampiri Kartika di rumahnya. Ibu memintaku untuk membuka jendela rumah dan menyirami tanaman-tanaman milik almarhum Bapak. Hanya itu yang kami punya darinya. Tiba-tiba saja air mata meluruh dari pelupuk mataku. Rindu aku kepadanya. Hampir lima setengah tahun berlalu sejak Bapak meninggalkan kami berdua. Bapak meninggal karena sakit kanker. Sejak hari itu, pembahasan terkait Bapak menjadi tabu di rumah ini. Ketika aku mencoba bertanya barang sekecil apa pun tentang Bapak kepada Ibu, ia akan menangis tersedu-sedu. Hatiku perih kala kulihat betapa hancurnya Ibu ditinggalkan oleh separuh hidupnya. Betapa hancurnya aku, mengetahui bahwa aku belum bisa menjadi apa-apa untuk mereka. Pagi itu, aku tak sanggup menyirami tanaman-tanaman milik Bapak. Kubiarkan keran dan selangnya menyala sendiri. Kubiarkan tangisanku pecah dan mengalir, diserap tanah hingga ke sungai di ujung desa. Siapa tahu, akan sampai ke makam Bapak. Bahkan, rindangnya tanaman Bapak tak dapat mengobati rasa rindu yang menghantuiku kepadanya.

Kuambil nasi yang mengepul dari dalam dandang. Kusiuk beberapa sendok, lalu kutaruh di piring Ibu, sementara ia menyiapkan lauk-pauknya. Di hadapanku, terduduk diam, menunduk, sosok Kartika. Entah bagaimana percakapan mereka hingga Kartika berakhir di meja makan sederhana rumahku. Senyap. Keheningan menyeruak diantara diamku dengan Kartika. Tak lama, Ibu datang dan membuka perbincangan. Terkadang, aku berpikir bahwa anak kandung Ibu adalah Kartika. Bayangkan saja, anaknya sendiri diibaratkan sebagai sesuatu yang jahat dan hitam, berlawanan dengan gadis kesayangannya itu. Mungkin saja aku ditemukan dalam sekotak kardus di halaman rumah, dengan sepucuk surat dan sebotol susu, tengah menangis minta digendong. Mungkin Ibu merasa kasihan kepadaku yang dibuang oleh orang tua kandungku. Mungkin saja.

Selepas makan, dibereskannya sisa-sisa lauk yang ada di meja. Tak ada percakapan berarti. Hanya pertanyaan seputar makanan yang terlontar dari mulutku. Sedang Kartika, tetap diam sejak tadi. Entah bayangan apa yang tengah berputar di kepalanya, hingga tiba-tiba ia menangis. Tanpa sepatah kata apa pun, Ibu memeluk Kartika dalam diam. Ditenangkannya kesedihan gadis malang itu. Tanpa pertanyaan, tanpa paksaan. Hanya kasih yang tulus seluas lautan. Lama ia menangis dalam pelukan Ibu. Kudengar tangisnya begitu pilu, menyayat hati. Sekelebat, muncul rasa sesal dalam benakku. Bisa-bisanya aku memercayai perkataan ibu-ibu penggosip itu tanpa tahu kebenarannya. Sedih hatiku kala melihat betapa terlukanya Kartika akibat kabar burung yang tengah beredar. Sekali lagi aku disadarkan bahwa tindakan dan perkataan sekecil apa pun dapat melukai seseorang hingga begitu dalam.

Setelah tenang, perlahan, Kartika menceritakan kisahnya, dari sudut pandangnya. Dia mengiyakan hubungannya dengan kasi. Dia juga berkata bahwa dia benar-benar hamil. Kutatap wajah Ibuku dalam. Entah bagaimana cara menggambarkan ekspresi Ibu kala Kartika menceritakan semuanya. Yang paling pasti adalah, terpancar raut wajah kecewa. Kartika menceritakan semua yang terjadi kepadanya beberapa waktu lalu. Mulai dari awal mula kenapa ia dekat dengan kasi, hingga fakta mengejutkan lainnya. Kartika berkata bahwa ini bukan hubungan yang pertama. Sudah lebih dahulu hatinya tertaut dengan seseorang. Mereka saling jatuh cinta dan memulai hubungan. Awalnya, semua berjalan dengan baik hingga Kartika mengatakan bahwa ia tengah mengandung anak pria itu. Namun, pria itu tak ingin bertanggung jawab dan menitahkan Kartika untuk menggugurkan bayi yang ada dalam kandungannya. Atas dasar cinta, Kartika pun menuruti permintaannya. Tak berselang lama, hubungan mereka mulai renggang. Kartika yang panik mulai mencari cara tuk mengembalikan rasa cinta yang dahulu pernah tinggal diantara keduanya. Namun, yang didapat hanyalah penolakan. Akhirnya, hubungan mereka pun kandas.

Kartika yang patah hati melampiaskan kesedihannya kepada kasi bangkotan kaya raya yang mencoba untuk merayunya. Mereka tidak sering bertemu, hanya ketika Kartika merasa perlu untuk dihibur saja. Namun, nasib buruk menghantui Kartika. Entah apa yang diberikan kasi itu kepadanya hingga pada waktu di malam yang dingin, Kartika terbangun tanpa sehelai kainpun di tempat yang tidak ia kenali. Ia bergetar dan ketakutan memikirkan apa yang akan terjadi setelahnya. Kartika bilang, ia menyesali semua perbuatannya. Namun apalah daya, yang tersisa hanya sesal seribu sesal. Kini, semua orang di desa tahu, termasuk pria yang Kartika cintai. Tak ada kata yang dapat menggambarkan keterkejutanku dan Ibu. Berani-beraninya si tua bangka itu melakukan perbuatan menjijikan seperti ini. Amarahku dan Ibu memuncak. Kupanggil Pak Bolot ke rumahku, untuk menceritakan yang sebenarnya terjadi. Kabar meluas dengan cepat, kini rumahku diserbu warga yang penasaran. 

Matahari tergelincir dari tempat yang tinggi. Siang berganti malam dingin yang menyusup bersembunyi di bawah kuku. Aku pulang dari mengantarkan Kartika ke rumahnya. Pak Bolot, tetua di desaku bilang, masalah ini perlu dibicarakan lebih lanjut bersama pejabat desa dan orang yang bersangkutan. Jadi, mau tidak mau semua harus menunggu fajar kembali menyingsing di ufuk timur.

Kulunjurkan kaki panjangku di sebelah tubuh Ibu yang kini tengah berbaring. Terkadang kami memang tidur berdua karena merasa rumah ini terlalu sepi. Tidak sering, hanya beberapa kali dalam beberapa bulan. Kutanya apa Ibu memiliki firasat terkait hal yang terjadi kepada Kartika, dan Ibu menjawab bahwa ia tidak tahu. Tapi memang dasar naluri seorang Ibu, mereka pasti merasakan kejanggalan lebih dahulu. Kupeluk erat tubuh Ibuku, kurasakan kehangatan yang selama ini selalu kusyukuri. Kucium harum Ibuku berkali-kali, kupastikan semuanya terekam dalam ingatanku sebaik-baiknya. Kubuka perbincangan dengan perkataan singkat yang kemudian mengubah hidupku selamanya. Mengapa Ibu selalu sedih membicarakan Bapak? Padahal aku pun tak ada bedanya. Aku hanya ingin tahu. Tentang alasan Ibu, tentang semuanya. Kulihat Ibu diam mendengar pertanyaanku. Ia berbalik menghadapku dan membalas pelukanku. Diusapnya lembut rambutku yang panjang.

“Nak, kau tahu Ibu mencintai Bapak, dan begitupun sebaliknya,” Ibu berhenti dan menarik napas panjang. Aku takut. Rasanya, Ibu terlihat begitu sedih dengan pembahasan ini. Kubalas hanya dengan anggukan kecil. Harap-harap Ibu mengerti bahwa aku menyesal mengajukan pertanyaan barusan. Bukan maksudku untuk menyakiti hati Ibu. Namun, apalah dayaku yang penasaran ini.

“Dahulu, Ibu dan Bapak lama sekali menunggumu lahir ke dunia. Sudah diusahakan sedemikian rupa, kau tetap tak mau muncul. Hingga Ratih, Ibunya Kartika, datang ke kampung sini. Dia pindahan dari desa seberang dan tengah mengandung. Melihatnya, Ibu senang. Seperti itu ya kelihatannya jika sedang mengandung. Cantik sekali. Namun entah bagaimana jadinya, seolah semesta memang menakdirkan kami berdua untuk berkawan, Ibu mengandung tak lama setelah itu. Bapak begitu senang, ia berkeliling kampung untuk mengabarkan berita kehamilan Ibu. Itulah kenapa usiamu dengan Kartika tidak terpaut jauh,” ujar Ibu. Ah, malasnya aku. Ternyata Kartika lebih tua usianya dariku. Aku hanya diam merenggut, sambil mendengar cerita Ibu.

“Menjelang lahiran, Ratih berkata kepada Ibu bahwa anak kami harus bersahabat, layaknya ibu mereka. Tapi, Ratih pergi tepat setelah Kartika hadir di dunia ini. Sepeninggal Ratih, suaminya mengambil alih peran Ratih hingga Kartika tumbuh. Menjelang usia dua tahun, Bapak Kartika dikabarkan mengalami kecelakaan dan meninggal dunia. Saat itu, Ibu dan Bapak kebingungan. Masa kami menelantarkan anak kecil itu sendirian tanpa Ibu dan Bapaknya? Akhirnya, kami memutuskan untuk mengurus Kartika. Tapi kau tidak suka. Kau senantiasa merajuk ketika kami sedang bersama Kartika. Kau selalu menangis berteriak kencang hingga satu kampung dapat mendengarnya. Akhirnya, Ibu dan Bapak selalu bergantian mengurus Kartika di rumahnya hingga ia cukup dewasa untuk memenuhi keperluannya sendiri. Sejak itu, Ibu dan Bapak hanya mengawasi dari jauh. Tapi Kartika tumbuh dengan baik. Terkadang, Ibu sedih kala melihatnya. Teringat kepada Ratih,” ujar Ibu sambil terus mengusap lembut rambutku. Bodohnya diriku kala itu, kekanak-kanakan sekali.

“Saat Bapak pergi meninggalkan kita, Ibu begitu hancur. Seolah bagian dari diri Ibu ikut hilang bersamanya. Keseharian yang biasanya kita lakukan bersama, kini tak akan pernah lengkap lagi. Akan selalu ada satu kursi kosong di meja makan. Tanaman di halaman rumah kini berganti pemilik. Kemeja kuning yang Ibu siapkan namun tak sempat Bapak pakai di hari kematiannya masih menggantung dengan rapi di dalam lemari. Cangkir milik Bapak di dapur tak pernah disentuh oleh Ibu atau kau sekalipun. Ibu ingat, hari itu Bapak tersenyum manis sekali sebelum meninggalkan Ibu untuk selamanya. Selalu ada ruang kosong di hati kita yang tak akan pernah terisi. Rasa rindu yang tak bertuan, tak tahu arah tujuannya. Pada akhirnya, perasaan itu hanya akan menggerogoti sebagian dari diri kita hingga mati,” ujar Ibu menutup percakapan. Rasanya, malam menjadi lebih sunyi dari biasanya. Waktu bergulir dengan lambat, malam menjadi lebih panjang. Kami diliputi kegelapan yang tak berujung. Seperti kata Ibu, seolah kerinduan tengah menyiksa dan menggerogoti jiwa kami dengan perlahan dan menyakitkan.

Sejak subuh, ramai sekali suara di depan rumahku. Selepas sembahyang, aku dan Ibu lekas keluar untuk sekadar memeriksa. Tak disangka, bahkan polisi turut hadir pagi ini. Segera aku dan Ibu menghampiri warga yang tengah melihat. Betapa terkejutnya kami kala ia mengatakan bahwa Kartika gantung diri. Aku berlari mendekat, terlihat garis polisi melingkari pagar rumahnya. Padahal, kemarin akulah yang mengantarnya pulang ke rumah ini. Ia bahkan masih bersama kami saat makan malam. Tak lama kemudian, seorang pria tinggi berseragam coklat menghampiri kami. Ia mengatakan bahwa Kartika sempat menuliskan surat sebelum semuanya terjadi.

Ibu dan Sekar, terima kasih ya.

Saya tidak ingin berbuat seperti ini, namun sepertinya Ibu dan Bapak saya

tengah malu di surga. Maafkan saya.

Kalian baik sekali kepada saya.

Hanya kalian yang tulus mencintai dan menerima saya setelah orang tua saya pergi.

Sekarang, saya perlu menebus dosa-dosa saya sebelum nanti menemui 

Ibu dan Bapak saya di surga. Saya rindu sekali kepada mereka.

Aku dan Ibu yang mengurus proses pemakaman Kartika. Kami makamkan ia dekat dengan orang tuanya. Barangkali nanti ia menangis ketakutan, Ibu Bapaknya dapat menemani. Selepas dikebumikan, satu persatu pelayat mulai meninggalkan pemakaman. Hanya tersisa aku dan Ibu di sini. Ibu tampak tersadar dari lamunannya, lalu berjalan menghampiri sebuah makam. Makam Bapak. Kupandangi setiap gerakan yang dilakukannya. Dengan lembut dan perlahan, Ibu mengusap makam Bapak. Ku ikuti langkah Ibu dan termenung di seberangnya. Setelah Bapak berpulang, makam bukan lagi tempat yang menakutkan untukku. Terkadang, aku datang ke sini hanya untuk bercerita. Kadang, aku juga membawa rambutan untuk dimakan bersama Bapak. Namun anehnya, Bapak tak pernah lagi membalas suaraku.

Ditaburkannya sisa-sisa bunga dari pemakaman Kartika tadi ke makam Bapak. Cantik sekali. Sudah lama aku tak melihat wajah Bapak dengan kumis tebalnya. Suara Bapak kini mulai samar dalam ingatanku. Aku takut waktu akan menggerus ingatan tentangnya. Ibu berbisik pelan pada makam Bapak. Sungguh terlihat betapa ia merindukan sosok yang telah mengisi separuh hidupnya itu. Terkadang, aku lupa bahwa Ibulah orang yang paling kehilangan Bapak di antara kami. Suara gemerisik lembut angin yang bergerak melalui dedaunan dan pepohonan terdengar layaknya bisikan. Seperti tengah melunakkan hati kami yang dilanda pilu. Aku mendekati Ibu, lalu ia menatapku dalam-dalam.

“Hanya kau yang kini Ibu miliki,” ucap Ibu terdengar begitu pilu sambil mengusap wajahku dengan lembut.

Esok paginya, aku dan Ibu tak berkicau barang sedikit pun. Kami hanya diam seolah tak terjadi apa-apa kemarin. Kami mengerjakan tugas masing-masing. Ibu memasak selepas kembali dari pasar, sedangkan aku menyapu halaman rumah sembari menyirami tanaman milik Bapak. Walau dipenuhi banyak perasaan yang bercampur tak karuan, hidup mesti terus berjalan. Ada perut yang perlu diberi makan, ada rumah yang perlu dibersihkan, dan ada tanaman yang tengah kehausan minta disiram. Tiba saatnya hangat matahari meninggalkan langit bumi, digantikan oleh dingin malam dan semunya cahaya bulan. Suara jangkrik terdengar bersahut-sahutan di luar rumah. Sepanjang hari, aku dan Ibu hanya diam. Kami tak bertukar tanya sekalipun. Ibu lebih banyak menghabiskan waktu di kamarnya hari ini. Begitupun aku. Saat ini, tengah kuisi perutku yang kosong sedari tadi. Dari ruang tamu, terdengar suara radio yang menggema. Terputar satu lagu dari band kesukaan Bapak yang memecah kesunyian.

Indah
Terasa indah
Bila kita terbuai dalam alunan cinta
Sedapat mungkin terciptakan rasa
Keinginan saling memiliki
Namun bila
Itu semua dapat terwujud
Dalam satu ikatan cinta
Tak semudah seperti yang pernah terbayang
Menyatukan perasaan kita

Nasi hangat dengan tempe dan kuah sayur sop menggenang di piringku. Entah mengapa, rasa kuahnya bertambah asin. Mungkin sudah bercampur dengan buliran air mata yang entah sejak kapan berjatuhan dari pelupuk mataku. Tiba-tiba, dunia seolah berhenti. Suara jangkrik tak lagi terdengar olehku. Ingatanku mulai memutar memori ketika suara tawa Bapak terdengar menggelegar memenuhi seisi rumah ketika sedang bermain bersamaku dan Ibu di ruang tamu. Kudengar suara pintu berderit. Kulihat sosok Ibu dengan mata sayu dan senyum kecil di bibirnya. Ia menghampiriku yang tengah menangis, memelukku dengan lembut. 

Tangisku pecah, seperti ada yang sedang meremukkan hatiku saat ini. Aku rindu Bapak. Aku ingin membicarakan tentang hal-hal yang selalu disukai Bapak. Tempe dengan kuah sayur sop, kemeja kuning, sayur lodeh, dan suara radio yang memutar lagu dari band kesukaannya. Semuanya. Setiap sudut rumah ini diisi oleh kenangan tentang Bapak. Aku tak dapat melupakannya. Rindu ini tidak berkurang, ia bertahan di sana. Setiap hari, semakin menumpuk, bertambah banyak. Namun, aku tidak tahu harus ke mana menemui Bapak. Ke mana harus kucari, kepada siapa harus kuberikan rindu ini agar terbayar? Setiap malam, perasaan ini selalu hinggap. Namun malam ini, aku dan Ibu cukup berani untuk membuka luka itu kembali agar dapat diobati.

Dan kita mesti relakan kenyataan ini
Tetaplah menjadi bintang di langit
Agar cinta kita akan abadi
Biarlah sinarmu tetap menyinari alam ini
Agar menjadi saksi cinta kita
Berdua
Berdua

Kubiarkan lagu itu selesai dalam pelukan kami. Tak seperti piring berisi nasi hangat dan kuah sayur sop milikku yang entah kapan akan habis.

Karya: Tasya Laysa Sukma

Subscribe
Notify of
guest

0 Komentar
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments

Artikel Lainnya