Siang itu matahari bersinar lebih terik daripada biasanya, kota itu sibuk dilewati oleh berbagai macam orang dengan kesibukan dan tujuannya masing-masing.
Diantara ramainya jalanan, Vie’s Little House hadir berdiri diantara berbagai macam toko lainnya, tidak terlalu mencolok, tapi selalu diingat oleh mereka yang singgah, entah untuk menyelesaikan pekerjaan, tugas, atau bahkan sekedar mencicipi menu yang ada.
Di dalamnya, kafe itu memiliki ketenangan yang seimbang, tidak riuh namun tidak juga sunyi, alunan musik mengalir mengisi ruangan disertai suara halus dari mesin kopi yang sedang bekerja.
Revie berdiri di belakang meja kasir, dirinya sedang mendata penghasilan yang kafe itu dapatkan di hari sebelumnya, dirinya terlalu fokus hingga bunyi bel di pintu masuk berdering, menandakan adanya pelanggan baru. Revie meletakan buku catatannya sebelum beralih menghadapi pelanggan yang baru saja sampai.
“Welcome to our Little House, mau pesan a— “ belum sempat Revie menyelesaikan kalimatnya, netranya menangkap seorang yang sudah lama ia kubur jauh di lubuk hatinya. Seseorang yang Ia harap tidak akan pernah lagi muncul di hidupnya, dan sekarang kembali hadir, dengan tangannya digenggam erat oleh wanita disampingnya.
“Mau pesan apa?” Revie melengkapi pertanyaannya yang sempat terpotong, menatap pelanggang dihadapannya dengan senyum ramah yang selalu ia berikan kepada semua orang, namun hatinya berkata lain. Dadanya merasaan sesak yang tak dapat dikatakan.
Lelaki di depannya menatap Revie dengan diam selama sekian detik sebelum tersadarkan oleh tautan erat wanita disampingnya “Katanya ada cheseecake yang lagi terkenal ya? Apa namanya-?” ucap wanita itu sembari melihat kearah sang lelaki, meminta bantuan, “Sweet Haven Cheesecake.” balas lelaki tersebut tanpa memutus kontak mata dengan Revie, air muka wajahnya tidak terlalu terbaca. “Nah iya, yang itu… kami pesan dua ya, Kak.” wanita itu tersenyum kembali ke arah Revie.
Revie mengangguk siap, jarinya menekan screen menu dihadapannya dan menambahkan pesanan. “Ada lagi, Kak?” Revie meluruskan pandangannya kembali kepada pasangan di depannya “Untuk sekarang itu aja dulu.”, kini sang lelaki yang menyahut.
Setelah beberapa saat, pesanan itu pun dibayar oleh sang lelaki. “Atas nama siapa, Kak?” Revie melihat kembali ke arah mereka, pertanyaan yang sudah tidak perlu ditanyakan lagi, “Kai.” balas laki-laki itu dengan singkat disertai anggukan oleh Revie. “Baik, nanti kami akan panggil jika pesanannya sudah selesai, silahkan memilih tempat duduk.” senyuman ramah Revie berikan sebelum pasangan itu berjalan meninggalkan Revie.
Setelah kedua insan itu pergi untuk menuju tempat yang akan mereka duduki, Revie berpindah perlahan untuk membuat pesanan. Namun untuk sementara, dirinya terdiam, membiarkan pandangannya berlabuh pada rak berisikan kue-kue yang berjajar rapih, masing-masing menunggu untuk disiapkan.
Revie mengambil dua plain cheesecake dan meletakkannya pada meja bar yang sudah ia bersihkan sebelumnya, tangannya dengan tangkis mengambil dan meracik rasa yang akan ia tuangkan nantinya.
Bagaimanapun, ia harus bertindak profesional, walaupun hatinya meringis sakit melihat seseorang yang dulunya begitu dekat, duduk bersama wanita lai. Sebagai karyawan teladan, ia tetap memberikan yang terbaik untuk setiap pesanan yang ia buat.
Tak butuh waktu lama, Revie berhasil meracik dan menghias dua plain cheesecake itu menjadi Sweet Haven Cheesecake, dengan telaten, ia meletakan dua kue cantik tersebut sebelum meletakkannya pada meja pesanan. “Atas nama Kai.” Revie memanggil ke arah dimana Kai dan pasangannya duduk.
Mendengar namanya yang dipanggil, Kai mendongak dan tersenyum ke arah wanitanya sebelum berdiri dan berjalan ke arah meja pesanan, hendak mengambil kue yang siap disantap itu.
“Selamat menikmati.” ucap Revie dengan senyum yang selalu ia berikan kepada pelanggan, namun untuk sesaat Kai terdiam dan melihat kearah Revie, tatapannya dalam namun tak terbaca. “Revie… kamu tidak banyak berubah…”. Kata-kata itu sontak membuat Revie terpaku diam beberapa saat.
“Terima kasih untuk mencoba mampir.” Revie tersenyum ke arah Kai, mencoba untuk tidak menggubris kata-kata Kai sebelumnya. Kai hanya bisa terdiam menatap Revie, sebelum akhirnya mengangguk kecil dan berjalan kembali kepada wanita yang sudah menunggu.
Untuk sementara, Revie berdiri dengan diam, memandang bagaimana Kai tersenyum ke arah wanita itu, “Kamu juga tidak banyak berubah…” gumam Revie melihat bagaimana Kai memperlakukan wanitanya dengan baik.
Kai membiarkan pasangannya mengambil foto pesanan mereka, bahkan menunggu wanitanya menyantap duluan, sesuatu yang dulu Revie suka dari Kai. Kai menatap wanitanya dengan penuh cinta disaat wanitanya berucap ria, entah membicarakan apa namun Kai tetap dengan tenang mendegarkan dan merespons jika dibutuhkan, hal yang Revie sempat sukai juga.
Revie menarik nafas dalam sebelum memalingkan pandangannya, mengumpulkan kembali pikirannya sebelum mendekatkan diri ke arah wastafel untuk membersihkan alat-alat yang baru saja ia gunakan, tidak, dia sudah bahagia dengan yang lain, dan harusnya aku juga begitu.
—
Tanpa disadari, ada sepasang mata yang memandangi Revie, mejanya tak jauh dari meja bar. Sembari menyesap coffee latte-nya, dirinya memperhatikan kontak dan percakapan Revie dengan Kai, juga menyadari bagaimana Revie yang berusaha tegar setelah Kai pergi.
Ia termasuk pelanggan yang cukup sering datang ke Vie’s Little House, terkadang sekedar menyelesaikan pekerjaannya, melepas penat, atau bahkan mengajak rekan-rekannya sebagai tempat meeting, mengingat jarak kafe yang tidak terlalu jauh dengan perusahaannya itu.
Menu-menu harian yang menjadi alasan ia datang berubah semenjak ia secara tanpa sadar memperhatikan Revie yang bekerja dengan baik di balik meja bar, beban pekerjaan di pundaknya seakan menghilang saat ia mengangkat padangannya pada Revie.
Tak lama, dirinya berdiri dan mendekat menuju meja bar. “Permisi…” dirinya memanggil Revie. “Ya? Ada yang saya bisa bantu?” Revie mengeringkan tangannya dan dengan sigap mendekat.
Pria tinggi itu terdiam sesaat memandangi menu sembari menyusun kata-kata dengan seksama, “Kira-kira… Dari semua menu ini, mana yang enak bagi kamu?” Pria itu menahan nafasnya namun mencoba untuk terlihat tetap tenang sembari melihat ke arah Revie yang sempat sedikit terkejut.
“B-bagi saya?” Revie menatap pria itu sementara, perbandingan tinggi mereka cukup jelas. Mungkin dia ingin mencoba menu baru, pikir Revie. “Palm Sugar Cheesecake, kebetulan saya pribadi memang suka Palm Sugar Milk Coffee akhir-akhir ini…” jelas Revie sembari melihat ke arah pria tersebut, nampaknya sedikit lebih tua dibanding dirinya.
“Berarti minuman pilihan kamu juga Palm Sugar Milk Coffee?” pria itu bertanya lagi memastikan, nadanya tenang dan serius, namun tidak juga mengintimidasi. “Iya, Pak…” jawab Revie dengan anggukan.
“Saka.” pria itu mengucapkan namanya pada Revie, “Umur kita juga tampaknya tidak begitu jauh…” gumam Saka, sepertinya ia sudah muak dipanggil menggunakan ‘Pak’ oleh Revie selama ini.
“Oh! Maafkan saya, baik— Kak Saka…?” Revie mencoba mengoreksi panggilannya terhadap pria di depannya, dirinya hampir lupa bahwa itulah nama yang sering Saka gunakan untuk pesanannya, namun Revie lah yang sering menggunakan ‘Pak’ dibanding ‘Kak’.
Saka mengangguk dan memberi senyum kecil, lucu. “Kalau gitu saya pesan keduanya.”, Saka mengeluarkan handphone-nya untuk membayar, sedangkan Revie menggerakkan tangannya di depan screen order.
“Atas nama Kak Saka berarti ya?” tanya Revie menatap Saka membayar pesanan dengan QR di handphone-nya. “Iya, tapi bukan buat saya.”, Saka menahan Revie yang menatapnya bingung, “Buat- kamu…”
Dari kelihatannya Saka terlihat tenang dan percaya diri, namun percayalah, detak jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya, lebih daripada saat ia berhadapan dengan Revie untuk sekedar meminta pesanan.
“Saya?” Revie menatap Saka keheranan. Revie memang sering melihat Saka, bahkan hampir hafal dengan jadwal datang atau pesanan yang Saka inginkan.
“Iya, buat kamu.” ucap Saka dengan yakin. “E-eh… Saya gantikan uangnya— “
“Tidak perlu, saya permisi, jam istirahat saya sudah mau selesai” Saka memasukan kembali handphone-nya ke kantongnya. “Eh… Jangan dong Pak— Kak Saka… Saya jadi ga enak…” Revie menatap Saka dengan ragu, “Saya bisa ganti kok, Kak… Kakaknya mau apa?”
Saka menatap Revie dengan diam sebelum mengeluarkan handphone-nya lagi, menekan beberapa kali sebelum menyerahkannya kembali pada Revie “Nomor telepon kamu.”
Revie terpaku beberapa saat, tidak menyangka semua ini terjadi begitu cepat sebelum menatap Saka tak yakin. “Kalau tidak mau tidak apa, saya anggap kamu tidak menerima pemberian saya— “ Saka menarik tangannya kembali.
“I-Iya, saya kasih…” Revie mengambil telepon genggam itu dari Saka, mengetikan nomor telepon pribadinya dengan hati-hati, sebelum mengembalikan handphone itu kepada pemiliknya.
Saka mengangguk senang dan memasukan handphone-nya ke kantongnya, “Baik, semoga kamu senang dengan pesanannya, anggap saja award untuk kamu hari ini.” ucap Saka dengan senyumnya, siap untuk pergi.
Revie mengangguk kecil dan tersenyum kecil ke arah Saka, menahan rasa senang yang siap meledak kapan saja di hatinya. “Terima kasih banyak Pak- Kak Saka, saya akan menikmatinya dengan baik…” Revie menatap Saka yang tersenyum lalu pergi meninggalkan konter bar.
“Thanks for visiting our Little House.”
Hari itu, Revie menjalankan sisa harinya dengan perasaan bahagia, tanpa disadari menunggu hari lain dimana Saka akan kembali.