Weekend selalu menjadi hal yang menyenangkan bagi semua orang. Setelah menjalani rutinitas yang cukup melelahkan dari Senin hingga Jumat, hari Sabtu dan Minggu adalah waktu untuk beristirahat. Namun, malam minggu Dervan dan Jo kali ini ditemani oleh editing film Back To The Past. Proses editing kasar atau rough cut sudah berlangsung sejak pukul tiga sore, tetapi mereka baru menyelesaikan empat scene hingga saat ini. Hal itu dikarenakan terdapat beberapa footage yang tidak berkontinuitas dengan footage lain dalam satu scene yang sama. Mau tak mau, mereka harus mencari solusi untuk mengatasi masalah tersebut. Mulai dari memangkas footage sebelumnya agar footage yang tidak berkontinuitas ini dapat digunakan, hingga menyelami folder film Back To The Past di Google Drive untuk mencari footage lain dengan shot sama yang masih dapat digunakan. Jika tak kunjung menemukan jalan keluar, baik Dervan maupun Jo harus merelakan satu shot footage tidak digunakan agar tidak mengganggu kontinuitas visual. Belum lagi mereka harus memasukkan rekaman audio dan menyesuaikannya dengan footage.
Jo menghela napas. “Akhirnya beres juga ini scene 4 setelah satu jam lebih,” ujar Jo. Dengan atensi yang masih fokus ke layar laptop, tangan kanan Jo menggerakan mouse untuk menambahkan beberapa footage scene 5 sesuai urutan shot ke dalam timeline Capcut.
“Bisalah ini act 1 selesai. Kata lu, scene 6 sampe scene 9 ngga banyak dialog, ‘kan?” tanya Jo. Kini, ia mengalihkan atensinya sejenak ke arah Dervan yang sedang menenggak sisa air di botol.
Dervan mengangguk. “Iya. Gua yakin bisa sih rough cut act 1 beres hari ini.”
“Oke, sekarang lanjut scene 5.” Jo menyahut. Setelah itu, kedua mata Jo tertuju ke arah layar laptop kembali guna mengecek beberapa footage scene 5 yang baru ia tambahkan.
“Eh, Jo, establish scene 5 ngga ada? Ini di shot list ada establish, sih, di shot satu.” Perkataan Dervan membuat Jo langsung memeriksa kembali fail footage yang sudah terunduh di laptopnya. Ternyata, memang tidak ada fail establish shot untuk scene 5.
“Kayaknya gua lupa download. Wait,” sahut Jo. Tak lama kemudian, layar laptop Jo menampilkan folder bernama establishing shot dari folder induk bernama Back To The Past. “Latarnya di halte ya, ini … ada dua establish yang sesuai sih.”
“Menurut gua, establish-nya oke yang ini karena lebih jelas gambarin suasana sama latarnya.” Dervan berkata sembari menunjuk satu preview fail video di layar laptop Jo. Sementara itu, Jo mengangguk dan menggerakan tetikus untuk mengunduh fail yang telah ditunjuk Dervan.
Selesai mengklik tulisan download, Jo menyandarkan diri pada sandaran kursi. Pengunduhan fail berukuran 300 MB itu memerlukan waktu sekitar lima menit karena jaringan wifi kosnya semakin kurang stabil kalau malam hari. Maklum, banyak penghuni kos yang menggunakan wifi.
“Oiya, Van, tadi katanya mau cerita? Cerita sekarang aja, sambil nunggu failnya beres di-download.”
Hening menyambut keduanya usai Jo melontarkan pertanyaan tersebut. Dervan menarik napas dalam-dalam, lalu mengembuskannya perlahan. Atensi Dervan masih tertuju pada layar laptop Jo. Memori-memori yang tidak menyenangkan saat SMA kembali terlintas di benak Dervan.
“Cerita aja. Gua dengerin. Jangan dipendem, Van, ngga enak di diri lu sendiri,” imbuh Jo, meyakinkan Dervan.
“Bakal panjang ceritanya, dari pas SMA. Gapapa?” Dervan memastikan sekali lagi. Ia masih ragu untuk bercerita karena khawatir akan membuat ruangan ini diselimuti energi negatif.
“Gapapa, kan udah gua bilang. SMA kelas berapa? Sepuluh?”
Dervan menggeleng. “SMA kelas sebelas. Jadi … dulu gua jadi Ketua di salah satu organisasi sekolah gua, sementara temen gua jadi Wakil Ketua, sebut aja A. Karena jabatan itu, pasti kita bakal saling kontakan, saling kerja sama. A emang baru aktif organisasi ini tahun 2023, semenjak demos ekskul 2023 pokoknya. Gua kenal dia pun dari demos ekskul.”
“Awalnya aman-aman aja, ngga ada masalah. Kita cuma sesekali debat dan pernah diem-dieman karena sama-sama kesel, tapi masih amanlah, ngga yang begitu ganggu stabilitas kinerja kita di organisasi. Sampe akhirnya, dia mulai ilang-ilangan, otomatis kerjaan dia harus ada yang back-up, kan? Nah, gua yang back-up. Lama kelamaan, gua muak karena dia terlalu sering ngilang. Akhirnya, emosi gua meledak beberapa kali, bikin dia jadi ngga nyaman buat stay. Internal organisasi jadi kacau beberapa hari ….” Dervan menjeda ucapannya guna menetralkan rasa sesak di dalam dadanya yang kian meningkat. Setiap kali mengingat kejadian demi kejadian itu, rasa sesak yang sama tak pernah absen untuk menyambutnya.
“Gua mau keluar aja. Gua udah ngga sanggup. Kerja sama yang baik itu butuh komunikasi yang baik antar kedua belah pihak supaya sama-sama enak. Cara komunikasi lu bikin gua ngga nyaman.”
“Selama ini, gua udah berusaha untuk dengerin semua cerita lu. Gua tanggapi sebisa gua. Gua selalu mahamin lu, Van. Lu berantakin barang-barang di mabes waktu lu kesel di event lomba olahraga sekolah, gua yang beresin. Bingkai pecah waktu itu, gua yang ganti. Gua ngga dendam sama lu. Gua maafin kesalahan-kesalahan lu ke gua. Tapi, untuk jadi temen lagi kayak sebelumnya gua nggak bisa. Bisa rusak diri gua karena lu.”
Cairan bening meluruh dari sudut matanya. Tiga ucapan A yang cukup menyakitkan itu sangat-sangat membekas dalam benak Dervan. “Dan, ya, dia keluar organisasi. WA gua diblokir sama dia. Kita juga udah ngga temenan lagi, dia yang mutusin buat ngga mau temenan sama gua. Sampe sekarang, Jo, gua ngerasa gua jahat ke dia. Gua akuin, gua cukup temperamen pas SMA. Tolol emang. Padahal, dia baik ke gua.”
Ingatan Dervan akan beberapa kebaikan A membuat air matanya makin mengalir. Satu kebaikan temannya itu adalah memberikan tumpangan kamar sewaktu study tour. Dervan yang waktu itu merasa tidak nyaman dengan teman-teman sekamarnya, memutuskan untuk pindah ke kamar A. Tanpa ucapan yang panjang lebar, A memperbolehkan Dervan tidur di kamarnya yang berada di lantai 4.
“Lu udah ngantuk belum? Kalo belum, main kartu UNO dulu gimana?” tanya A.
“Belum sih. Ayo, gas aja,” jawab Dervan. A pun langsung mengajak teman sekamarnya untuk ikut bermain. Setelah itu, A mencari kartu UNO di dalam tas ranselnya. “Btw, tadi pas keberangkatan dari Bekasi, mata gua perih,” kata Dervan, mengawali cerita yang akan ia bagikan pada A malam ini.
“Kenapa?” A yang sudah mengambil kartu UNO pun duduk di sebelah Dervan.
“Yaa, sedih aja ngeliat orang lain pada dianter sama ortunya, ngobrol sama ortunya. Ya, lu tau lah, keluarga gua, kan, dah rusak. Kalo pun ngga rusak, nyokap yang matanya masih lihat pasti ngga bakal se-perhatian itu,” lanjut Dervan.
A terdiam beberapa saat sebelum menanggapi ucapan Dervan. “I understand what you feel,” balas A dengan nada pelan. Kedua netranya masih menatap Dervan yang kini mengalihkan atensinya ke lantai. “Tapi, lu nggak berbuat macam-macam lagi, kan?”
Dervan menggeleng, lalu tertawa pelan. “Ya nggaklah. Di bus banyak orang, nanti heboh.”
Satu embusan napas panjang dilakukan oleh A. “Sampai kapan pun jangan berbuat macam-macam, Van. Jangan rusak diri lu. Di agama lu ada sistem karma atau sebab-akibat, ‘kan? Nah, kalo lu rusak diri lu sendiri, yang ada lu justru bakal dapat akibat yang lebih parah lagi. Kalo lu sedih, cukup nangis aja, jangan gores-gores tangan lu, jangan kelupasin kulit bibir lu.”
Setelah mencerna kalimat demi kalimat yang diucapkan Dervan, Jo mengerti bahwa ini menjadi alasan kuat Dervan untuk ingin kembali ke masa lalu. Pantas saja belakangan ini, Dervan memang sering mengunggah cerita Instagram maupun WhatsApp yang berhubungan dengan time travel—mulai dari cuplikan film, novel, atau sekadar curhatan singkat. Jo kembali membuka suaranya saat Dervan sudah menyeka air mata. “Ohh … jadi itu yang bikin lu pengen banget balik ke masa lalu. Gua perhatiin SW sama IGS lu belakangan ini pasti berbau time travel.”
Tanpa ragu, Dervan segera membenarkan perkataan Jo melalui anggukan. Ia sangat menginginkan kembali ke masa lalu karena itu menjadi satu-satunya cara untuk memperbaiki segalanya. Jika Dervan bisa menyelesaikan masalah A dengan baik, ia yakin pertemanan mereka akan baik-baik saja. “Iya. Kalo dikasih satu kesempatan buat balik ke masa lalu, gua pasti bakal perbaikin semua kesalahan gua. Salah satunya ya, itu, kesalahan gua ke si A,” jawab Dervan.
“Gua takut aja, Jo, di organisasi yang gua pimpin sekarang, gua ngga bisa jadi seorang Ketua yang baik buat mereka. Gua takut kalo tindak-tutur gua ada yang salah lagi ke siapapun itu. Meskipun sejauh ini gua udah jaga tindak-tutur, gua tetep takut, Jo. Gua … takut kalo … gua bikin internal organisasi ancur lagi,” sambung Dervan dengan nada yang sedikit bergetar.
Jo masih terdiam, menunggu kelanjutan ucapan Dervan.
“Kayak yang lu tau, gua sama partner gua sekarang juga sering beda pendapat, sering debat, walaupun ya ujungnya baikan lagi dan ngga dipikirin berlarut-larut. Gua juga sering negur dia pas dia ngelakuin hal yang keliru, kadang keliatan banget kalo gua emang kesel ke dia. Cuma ya, di awal gua udah bilang ke dia, selama satu tahun kepengurusan ini kita pasti bakal cukup sering salah atau keliru. Gua minta dia buat terbuka, kalo emang dia mau marahin gua atau dia mau bilang ke gua kalo dia kesel sama gua sewaktu-waktu, ya oke, gua terima,” jelas Dervan.
“Udah? Atau ada lagi?” tanya Jo setelah membiarkan kesunyian mendominasi kamarnya selama beberapa detik.
Anggukan dari Dervan membuat Jo menghela napas panjang. Ternyata, orang yang Jo kira hidupnya baik-baik saja memiliki luka tersembunyi. “Sebelumnya makasih karena udah cerita dan percayain gua buat denger cerita lu. Gua ngga nyangka juga kalo lu pernah ngalamin hal kayak gitu pas dulu. Gua paham pasti ngga enak banget ngerasa takut ini dan itu karena kejadian di masa lalu lu. Gini, Van. Menurut gua, hal-hal yang udah terjadi sebaiknya ngga perlu dipikirin berlarut-larut. Toh kita ngga bisa ngubah masa lalu, kan? Jadi, let it go. Dan menurut gua, seburuk-buruknya masa lalu yang kita punya, pasti ada beberapa hal penting yang jadi pembelajaran buat kita ke depannya. Contohnya lu sekarang jadi berusaha buat ngontrol emosi lu, berusaha buat jaga tindak-tutur lu, berusaha buat bikin orang lain nyaman. Percaya sama gua, lu udah ngelakuin yang terbaik supaya kesalahan lu pas SMA ngga keulang lagi,” balas Jo.
Perkataan Jo ada benarnya. Bagai sebuah uang logam yang memiliki dua sisi—setiap hal (masalah) pun demikian. “Kalo dipikir-pikir, iya, bener kata lu, ada sisi positifnya juga,” kata Dervan yang dibalas anggukan oleh Jo.
“Yes. Setiap hal punya sisi positif sama negatif.”
“Gua masih susah aja lupain apa yang pernah kejadian pas SMA. Ujungnya jadi takut ini-itu, padahal mah belum tentu terjadi juga,” aku Dervan lagi.
“Iya, pasti susah ngelupainnya. Menurut gua, lu bisa ubah cara pandang lu terhadap masalah lu pas SMA. Anggap aja gini, “oh kalo ngga ada masalah itu, gua ngga bisa memperbaiki diri gua, gua ngga bisa jadi diri gua yang sekarang—yang lebih baik”. Mungkin kalo begitu, rasa takut lu bisa berkurang.”
Benar. Cara pandang Dervan terhadap masalahnya sewaktu SMA cenderung negatif sehingga membuat otaknya dipenuhi oleh pikiran-pikiran negatif. Senyum tipis terukir sekilas di wajah laki-laki itu sebelum membuka suaranya. “Gua bakal coba saran dari lu. Makasih banyak, Jo, udah dengerin plus ngasih saran. Maaf, kalo nyebar energi negatif,” ucap Dervan.
“Yaelah, santai, kayak ama siapa aja. Kalo ada apa-apa, cerita aja ke gua. Mungkin gua cuma bisa dengerin dan ngasih respon sebisa gua, tapi seengganya lu bisa ngerasa lega. Semangat.” Jo menepuk-nepuk bahu kiri Dervan untuk memberi semangat pada teman satu prodinya itu.
“Oke, aman. Makasih banyak sekali lagi. Gua bakal berusaha buat ngurangin overthinking gua, Jo. Bisa, pasti gua bisa,” tekad Dervan.
Notifikasi pesan masuk membuat Dervan langsung melirik ponselnya yang diletakkan di atas meja. Ia terdiam sepersekian detik sebelum akhirnya mengangkat ponsel dan membalas pesan masuk Instagram dari akun @arkan.atmadja.
Arkan: Halo, Van. Apa kabar? Gimana 4 semester jadi anak Unpad? Gua mau ngobrol-ngobrol sama lu, besok lu luang?
Arkan: Mau gua yang ke sana atau lu yang ke Bandung?
Selesai.