Lapangan Sastra dan Bulan Februari

Munawaroh
390 views

Kupijak aspal saat aku mencoba melompat keluar dari suasana yang membosankan di dalam angkot. Sebelum aku melangkah lebih lanjut, aku sudah berkali-kali mengambil nafas, berharap salah satu harapanku terkabul dengan ajaib.

Sekarang tujuanku adalah Lapangan Sastra, tempat yang sudah berhasil menjayakan namaku.

Kalau diingat kembali, ada suatu hal terlewat hanya karena rencana yang tak sebetulnya aku anggap serius.

Saat itu, di bulan Februari, hujan sering kali mengguyur Kecamatan Jatinangor. Dengan keadaan yang menyulitkan seperti itu, aku masih sempat merayakan kelulusanku sebagai mahasiswa. Senang rasanya kehidupan mahasiswaku telah berakhir. Dengan itu, aku sudah tidak bingung lagi akan melakukan hal apa dan melangkah kemana, karena aku tahu bahwa aku adalah seorang perencana jenius dalam hidupku sendiri. Aku tak mau kehilangan arah hanya untuk beberapa alasan.

Sebagai anak pertama di keluargaku, aku merasa bertanggungjawab atas kehidupan adik-adikku. Meskipun tanpa aku rencanakan, aku bisa saja hidup menggantungkan diri pada orang tuaku, toh keluargaku kaya. Namun bukan itu prinsipku.

Pada hari itu, saat aku sedang senang karena sudah terlepas dari label mahasiswa, dan akan bersiap pergi ke kosan untuk membereskan barang-barang, ada satu hal yang mencubit hatiku dan sejenak melupakan rasa senang itu: wanita mungil dihadapanku.

Hujan kecil masih tidak berhenti. Angin berlarian kencang membuat kerudungnya berkibar sedikit. Kibaran kerudungnya menerpa helmku, aku sedikit mencium bau aroma keringatnya, khas namun tak terlalu bau. Sempat berpikir macam-macam, aku segera mempercepat langkahku mencoba mengabaikan itu. Dia mengikutiku cepat. Kakinya kecil dan pendek mensejajarkan ayunan langkah. Aku lebih mempercepat langkahku, menahan tawaku sekian detik, dan lagi aku melihatnya kepayahan mensejajarkan langkahku. Dia tertawa, beriringan dengan turunnya air hujan yang menerpa wajahnya. Dunia seolah melambat saat aku memandangi senyum manisnya di bawah air hujan.

Air hujan itu mengganggu penglihatanku karena membasahi kaca helmku. Aku berdiri sejenak dan mengelap kaca helm menggunakan tangan besarku, membiarkan dia melenggang pergi lebih dulu diiringi dengan tawa kecil yang masih kudengar dari kejauhan.

“Terima kasih,” ucapnya pelan. Jalannya mulai melambat.                          

Aku menyusulnya dan menatapnya tanpa berkata-kata, saling berdiam diri di tengah jalan akses menuju Fakultas Ilmu Budaya. Aku sempat tersenyum namun syukurlah senyumanku tak begitu tampak pada matanya karena terhalang oleh helm yang sedang kupakai.

Angin semilir merangkul tengkukku yang makin membeku dibuatnya. Secara kebetulan hari itu sudah sore, jadi tidak banyak mahasiswa yang berlalu-lalang disitu.

“Sekali lagi, selamat atas kelulusanmu, kak.” Katanya lirih sambil berjingkrak. “Ayo kita buat sebuah rencana.” Dia terdiam sejenak. “Lima tahun dari sekarang, di bulan lahirku, tunjukanlah kemampuan basketmu yang luar biasa di Lapangan Sastra. Kalau kakak mengingatnya dan kita beneran bertemu, lamarlah aku!”

Begitulah kata-katanya dahulu sebelum pada akhirnya kami memfokuskan diri pada kehidupan kami masing-masing.

Aku mengintip jam tangan di dalam jaket tebalku. Sudah lima menit yang lalu aku berdiri disini. Tempat ini tak banyak berubah, hanya sedikit terlihat seperti tidak terawat. Apa mungkin karena sudah lama ditinggal hampir dua bulan oleh mahasiswa yang sedang berlibur? Entahlah.

Lima menit itu terasa lebih lama. Apa mungkin karena aku terlalu merindukannya? Lagi, aku menyapu jalanan dengan penglihatanku, berharap muncul seseorang yang aku nantikan.

Sudah hampir dua jam aku termenung memandangi sekitar Lapangan Sastra. Tak masuk akal orang sepertiku mengambil cuti kerja seminggu untuk pergi ke Jatinangor hanya demi memastikan rasa penasaranku atas pernyataannya itu. Kalau dipikir-pikir kembali, yang tengah aku lakukan adalah hal konyol yang tak masuk akal. Bagaimana kalau dia sudah menikah dan hidup bahagia dengan orang lain? Pikiranku mulai melanglangbuana sampai akhirnya aku muak dan memutuskan untuk kembali ke hotel.

Aku menuruni trotoar samping Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Dan saku celanaku bergetar akibat dari getaran handphone. Kuangkat teleponnya sambil menghentikan langkahku.

“Aku dengar kau sedang di Jatinangor. Berkunjunglah ke rumahku.” Sautnya, teman satu clubku dahulu di Fakultas.

“Aku tidak minat.”

“Ah anak ini masih tetap menjengkelkan ya.” Sang penelepon terkekeh. “Kau tidak rindu bermain basket denganku?”

“Hm. Sebetulnya tidak.”

“Coba kau pikirkaan lagi.”

“Mungkin tidak ada salahnya menyusulmu kesana. Aku sepertinya sudah tidak jago lagi bermain basket. Ibumu masih menyukai pempek depan Skyland?”

“Nah begitu dong. Ya, kau bawa saja yang banyak. Anakku juga bakal senang memakannya.”

“Hah. Sialan. Kau menikah tanpa memberitahuku?”

Si penelepon terkekeh. “Aku sudah memiliki dua anak. Kau pasti tidak menyangka siapa ibunya.”

Aku terdiam. “Memangnya kau menikah dengan siapa?”

“Menikah dengan Unpad Geulis adalah prestasi terbesar dalam hidupku.” Nadanya terdengar sombong. “Aku sebetulnya kenal dengan istriku sejak KKN, dia dari Fakultas Ilmu Komunikasi. Aku pikir aku tak akan pernah mendapatkannya karena banyak lelaki yang juga mengejarnya. Ah, waktu wisuda kalau tidak salah aku juga bertemu dengannya. Tentu saja aku bertemu dengan keluarganya juga. Oh kalo diingat lagi, aku semakin dekat dengannya karena bertemu lagi di se…”

Telepon itu ditutup olehku. “Syukurlah bukan dia.”

Aku meghela napas dengan situasi yang sedang aku bayangkan. Mengingat temanku yang sudah menikah, aku semakin merindukan si wanita kelahiran Februari itu. Apakah ini saatnya aku untuk melupakannya? Yang pasti itu hal yang sulit. Meski sudah lima tahun tanpa berkabar apa-apa, aku masih mengingatnya dengan jelas.

“Kak?”

Aku tertegun sejenak. Membalikkan badan mencari timbulnya suara itu berasal dan terpaku ketika yang kudapati adalah sosok mungil yang sedang aku lihat.

Sosok itu dengan santainya menggendong dua kucing dengan tangannya yang kecil. Jelas sekali dia kepayahan memeluk dua kucing gendut di dekapannya. Senyuman itu tetap sama, masih terlihat lucu.

Kami berpandangan terlalu lama, lalu memalingkan wajah dengan tersenyum malu-malu.

“Aku sudah menunggumu dari awal bulan Februari. Kenapa baru datang?” protesnya.

“Maaf,” jawabku terdengar kikuk.

 “Sayang sekali. Padahal yang aku bayangkan itu situasinya kakak sedang memasukan bola basket ke ring.” Dia berbicara sambil menyerahkan salah satu kucing yang berwarna orange kepadaku. Aku pun menerimanya meski kucing itu tadinya sempat loncat melarikan diri.

“Ah tidak apa-apa, deh. Oh ya, meskipun kakak tidak jago lagi bermain basket, apakah kakak tetap akan melamarku di Lapangan Sastra?” tanyanya nyengir.

Pertanyaan yang membuatku tertohok dan berhasil mengguncangkan hati serta tubuhku. Aku rasa aku terlalu kentara bahwa aku sangat senang mendengarnya. Di waktu yang sama, kucing yang sedang aku dekap sudah loncat dan pergi meninggalkan kami.

Angin yang berhembus menghidupkan kembali daun yang telah gugur. Meskipun udara tidak terlalu dingin, aku sudah menggigil sejak kehadirannya.

Di Lapangan Sastra, apakah namaku akan kembali berjaya? Terkhusus hanya untuknya. Cukuplah aku tahu jawabannya sesaat setelah dia menagih rencana yang dia buat sendiri.

Editor : Irna Rahmawati
Ilustrator : Hafidh

guest
0 Komentar
Inline Feedbacks
View all comments

Artikel Lainnya

Inspirasi Budaya Padjadjaran