Kumpulan Puisi Pena Budaya Edisi #2

Redaksi Pena Budaya
290 views

Kala Nusantara Menginjak Tujuhlima
Suam Asmaraloka

Gemuruh pagi tak biasa, sesakkan dada harukan jiwa, menabuh asa tak kunjung reda
Momen langka tetap istimewa, yang abadi, tak kan terlupa
Kala itu, Indonesia dirgahayu ke tujuhlima.

Bersama indahnya getar suara proklamasi, merdunya kicauan Indonesia raya, dan kibaran sang saka, jiwa raga bergetar hebat
Nirmala.
Asmaraloka senandung ria bernyanyi-nyanyi menghias cita
Di tengah tabuh hasilkan gemuruh, ada asa yang menggebu-gebu untuk Indonesia agar menjadi negara yang benar-benar maju, bukan hanya kata, tapi realita

Ibu pertiwi, kami ingin sekali memajukan negeri, tapi tolong fasilitasi
Kami ingin omongan kami didengar, tapi sepertinya kami belum cukup terpandang oleh para bangsawan di atas yang gajinya trilyunan
Akhir-akhir ini kok rasanya kami hanya jadi korban kebijakan?
Para pelajar dijejali modul-modul pembelajaran, tak tanggung-tanggung belasan pelajaran memaksa untuk ditelan, padahal tak semua rasanya bersahabat dengan kerongkongan
Para mahasiswa meneriakkan kegelisahan perihal UKT yang tak juga kunjung diturunkan, padahal fasilitas yang diberikan tak sepadan
Suara sudah kami teriakkan, tapi hasilnya tidak terlalu memuaskan
Bahkan, untuk sebagian orang, hasilnya tetap tak ada kemajuan

Saat tujuh belasan, meraka ramai merayakan, sudah merdeka sebagai alasan
Namun, suara kelaparan yang besar bukannya diberi makan malah korupsi makin lancar
Anggaran yang dikerahkan ke mana larinya jika pada realita tangan rakyat masih hampa?

Indonesia, riwayatmu kini, giliran di tangan kami
Berbagai sejarah pahit izinkan untuk kami dengar dan suarakan, jangan disembunyikan, jangan dilupakan, dan jangan putarbalikkan
Izinkan kami untuk mengubah negeri ini selayaknya negara yang namanya membara hingga ke mancanegara
Semakin bertambah usia negara, semoga semakin bahagia
Bukan hanya pejabat negara, tapi seluruh warga
Diharap nilai-nilai pancasila terlaksana seperti seharusnya di seluruh Nusantara,
bukan hanya dihapal tanpa paham bagaimana makna yang relevan.

Menjadi Tidak Baik Itu Bukan Aib
Suam Asmaraloka

Jalan panjang kehidupan kentara di depan mata
Gerbangnya yang entah di mana, masih menjadi tanya
Yang pasti, harap-harap indah selalu terpampang nyata
Tuk wujudkan asa menjadi manusia digdaya

Saya kira semudah itu mendapatkannya
Bermodal harapan, lalu berjuang tuk gapai angan
Ternyata, berbagai liku di depan siap mengadang
Membiarkan raga di tengah gelisah
Bimbang, terus melangkah atau harus putar balik arah

Sebentar, bukankah tuntutan zaman kini menjadi tolok ukur kebahagiaan?
Jika tertinggal zaman, siap-siap ditinggal kehidupan
Maka, setidaknya perjalanan itu harus diteruskan
Wujudkan khayal-khayal yang semakin mengepal minta ditaklukkan

Kalau merasa kurang andal, ya belajar
Kalau tersesat di tengah jalan, ya cari bantuan
Kalau ada kekurangan di lain hal, bilang

Biar saja terengah-engah
Kalau lelah, tinggal merebah
Sesekali boleh juga kalau mau marah-marah
Yang pasti, jangan lupa rehat
Boleh sambil sambat

Tak heran jika harus memikul beban
Memang banyak, tapi coba pelan-pelan
Jatuh itu hal biasa, bukan masalah
Menangis saja, teriakkan segala hal yang ingin dikeluarkan
Jangan hanya diam, mereka tak akan paham
Sebab, menjadi tidak baik itu bukan aib

Menanti Janji Orasi Visi Misi
Suam Asmaraloka

Mereka pernah bersatu mengusir Belanda
Mengucap sumpah hidup untuk negara
Menggapai asa tak kunjung sirna
Hanya untuk mencapai satu kata, “Merdeka”

Sang saka berkibar hebat di atas sana tahun empat lima
Derai air mata berubah jadi senyum bahagia bagi semua warga
Kita telah bebas dari penjajah, katanya
Akhirnya, terlalu sibuk bersaing untuk jadi penguasa

Demi kursi, pejabat negara akan menebar janji
Janji-janji manis yang belum pasti akan ditepati
Makin hari, ternyata malah korupsi yang makin tinggi
Jalan ke sana, jalan ke sini, mondar-mandir tanpa henti
Perut buncitnya kadang-kadang menghalangi
Huh, meresahkan sekali!

Kejujuran tidak lagi menjadi kunci bergerak
Yang terhormat sengaja bertopeng untuk mengambil hati rakyat
Berkata akan menjadikan negara demokrat agar bebas berpendapat
Namun, suara kami kalau tidak disekat malah dibiarkan diam berkarat, tidak ditanggap

Tuan, Puan, kami menanti demokrasi yang asli
Kami menanti janji kalian saat orasi menyuarakan visi misi
Jika ucapan tidak lagi bisa kami andalkan
Apalagi yang harus kami telan selain kejujuran kalian?

Wajah Moral
Sayyidatul Imamah

namanya Moral,
dia lahir sehari setelah
Dogma.

dia tumbuh riang dalam dekapan kerabat
dimanja oleh suguhan nikmat dari semua orang.

setiap kali Moral hadir, semua orang
ingin mencubit pipinya yang gemuk dan merah muda
setiap kali Moral sakit, semua orang
menangis sampai air mata mereka menjerit.
setiap kali Moral tertawa, hanya satu orang yang menderita: yaitu Dogma.

suatu hari, Moral menjadi tersangka pembunuhan
Keadilan mengadili di pengadilan
keputusannya, Moral harus diasingkan
semua orang marah dan tidak terima
tetapi Dogma dengan cepat mengisi ruang kosong Moral
semua orang kembali bahagia.

Bebas, orang yang menjadi korban Moral
tidak pernah diperbincangkan.
Bebas tidak memiliki kerabat, dia mati dan hidup sendiri.
Orang-orang asing dengan nama dan kehadirannya.
Dia lahir untuk dan pada akhirnya terbunuh.

oleh siapa?

Untuk Menjadi
Sayyidatul Imamah

mungkin saja dalam mata bodoh itu
dia mengerti sesuatu perihal hasrat
untuk menyimpan dan memakan.

bola-bola kehidupan yang kecil
terpantul dari caranya mengoyak dan mencakar.

menjadi makhluk dan terpaksa lahir
untuk bertahan
menjadi tahan terhadap paksaan lahir
sebagai makhluk
menjadi apa-apa saja yang ada.

katanya, jika dia patuh pada moral
dia akan diterima dalam suatu kelompok.

karena untuk sekian lama,
dia terlalu bodoh untuk
dan menjadi
dia terpaksa kembali pada
lubang kelahiran itu lagi.

***

Editor : Irna Rahmawati

guest
0 Komentar
Inline Feedbacks
View all comments

Artikel Lainnya

Inspirasi Budaya Padjadjaran