Kilas Balik Mengisi Buku Ramadan, Apa Tujuannya? 

Elsa Salma Benanny
187 views
apa tujuan buku ramadan

Untuk beberapa orang, bulan Ramadan adalah bulan yang sibuk. Sibuk menahan nafsu, sibuk beradaptasi dengan kegiatan-kegiatan baru, apalagi jika kesehariannya sudah padat. Maka bulan Ramadan ini akan menjadi bulan yang penuh dengan kesibukan.  

Namun, ketika masa-masa SD sampai SMP, selain terpogoh-pogoh menahan haus dan lapar di siang hari, biasanya peserta didik punya proyek bulanan, yaitu mengisi buku ramadan. Buku yang diisi dengan ceramah-ceramah, tadarus, puasa atau tidak setiap harinya, dan agenda salat. Untuk mengisi ceramah itu, ada yang sampai dengan sengaja mengikuti acara khusus bulan Ramadan, yakni Pesantren Kilat (Paskil).

Tapi tentunya kebanyakan dari anak-anak malas untuk mengerjakan. Apalagi jika di daerahnya tidak ada ceramah setelah salat tarawih, seperti di daerah saya. Jika ingin mengerjakan, pilihannya antara ikut Paskil atau merangkum kultum di televisi. 

Namun, yang menjadi menarik untuk dibahas adalah sebenarnya apa tujuan dari diberikannya tugas ini? Karena terkadang hasil dari mengisi buku ramadan ini bahkan tidak ditanyakan ketika kembali masuk sekolah. Seakan terlupakan. Padahal, saat tugas diberikan, kita sering kali diancam akan mendapat nilai jelek jika tidak mengerjakan atau mengumpulkan.

Jika diingat-ingat, biasanya di bulan Ramadan sekolah hanya di pekan awal saja, sisanya belajar di rumah–walaupun sebenarnya tidak belajar. Tapi ada juga beberapa sekolah yang menjadikan pekan keduanya dipakai untuk acara Paskil. Di sekolah saya dulu nama programnya Smarttren. Di mana selama satu pekan itu ada tadarus dan kultum, sedikitnya membantu untuk mengisi buku ramadan.

Namun, ada kecenderungan dalam pengisian buku ramadan ini. Pada halaman-halaman awal, biasanya diisi dengan dalil tentang perintah puasa, syarat sah puasa, dan rukun puasa yang sebenarnya materi-materi tersebut ada pada halaman materi pengantar dalam buku itu. Dalam ceramah atau kultum pun, awalnya sering kali dijelaskan tentang materi yang sama sebagai pengantar dan pengetahuan dasar.

Kegiatan mengisi buku ramadan ini seakan menjadi pengganti belajar di sekolah dan berlaku sebagai penambah kegiatan di bulan Ramadan agar siswa tidak hanya menghabiskan harinya dengan bermain, terutama anak SD. 

Hal ini juga biasanya didukung oleh orang tua murid, mereka berperan menjadi alarm pengingat dan guru pengganti di rumah yang bahkan terkadang lebih kejam dari guru. Perintah ibu yang otoriter dan ancamannya lebih ditakuti ketimbang ancaman guru.

Positifnya, kegiatan anak-anak terpantau oleh orang tua dan lebih terarah. Selain itu, manfaat yang saya juga rasakan dulu adalah sedikitnya anak-anak mendapat pengetahuan baru tentang agama. Dengan proses mendengar, membaca, dan menulis materi-materi ceramah, anak akan tahu, bahkan hafal, beberapa hadist.

Dari segi sosial pun, anak-anak dapat berinteraksi dengan teman dalam hal positif karena biasanya, jika tugas ini dikerjakan bersama, penyelesaiannya akan lebih cepat. Hal ini juga menjadi langkah untuk mengalihkan pikiran dari lapar dan haus.

Saya rasa, tugas mengisi buku ramadan ini memang tak lebih dari kegiatan tambahan semasa ramadan. Namun, hikmah yang bisa dipetik adalah bukan persoalan nilai berupa angka-angka yang tertera di buku rapor sekolah, melainkan nilai kita langsung dengan Tuhan. 

Dengan mengisi buku ini, kita diajarkan untuk lebih mendengar ayat-ayat-Nya, mencari ilmu tentang agama yang kita yakini, di mana hal ini jarang dilakukan jika di hari-hari biasa selain di bulan Ramadan.

Di bulan yang suci dan penuh berkah ini, kita diberi kesempatan untuk memupuk ilmu, keimanan, dan lebih mendekatkan diri kepada Tuhan. Dalam hal ini, dari lingkup pendidikan agama di sekolah, pada umumnya siswa dituntut dan sedikit dipaksa untuk melakukan ibadah sebagai upaya untuk memproduktifkan diri dalam beragama mengingat Ramadan adalah bulan yang berkah dan pahala berlimpah serta berlipat ganda–sekalipun sebagian orang memiliki paham bahwa ibadah itu tidak boleh dipaksa.  

Hubungan dengan nilai, bisa diperkirakan jika buku ramadan yang lebih banyak diisi bisa mendapat nilai yang lebih besar. Antara dimasukkan kedalam nilai mata pelajaran Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti  (PAI BP) atau masuk kedalam nilai keseharian, keterampilan dan sikap.

Di balik semua itu, jika direnungkan kini rasanya semakin bertambah umur semakin sedikit waktu untuk melakukan hal serupa yang harusnya ranahnya lebih luas dan detail dari sekedar kuliah tujuh menit. Di mana waktu biasanya terasa lebih cepat, tatanan hidup yang mulai berubah, hingga lingkungan dan kesempatan yang kadang kurang mendukung. 

Saat mengingat betapa malasnya mengisi tugas–yang mungkin saat ini terlihat sepele–sedikitnya ada rasa penyesalan. Karena kesempatan seintens itu tidak datang lagi saat sudah beranjak dewasa. Mulai mengenal kata sibuk dan mungkin kini orang tua juga tidak akan menuntut kegiatan-kegiatan itu. Sekedar mengingatkan sesekali karena kita sudah dianggap mampu untuk memilah dan memilih hal baik atau buruknya.

guest
0 Komentar
Inline Feedbacks
View all comments

Artikel Lainnya

Inspirasi Budaya Padjadjaran