Kukira Kau Rumah, Film Edukasi yang Menuai Banyak Kritik

Wasti Marentha S
95 views

Film “Kukira Kau Rumah” (KKR) adalah sebuah film debut dari Umay Shahab sebagai seorang sutradara sekaligus penulis dan Prilly Latuconsina sebagai seorang produser sekaligus pemeran utama. Judul film ini diadaptasi dari lagu yang dibawakan oleh band indie Amigdala dengan judul yang sama. Lagu tersebut menceritakan kisah percintaan tentang bagaimana seseorang yang menganggap pasangannya adalah rumah, tetapi justru ia  ditinggalkan pasangannya.

Secara garis besar baik lagu maupun film KKR bercerita tentang kisah cinta dengan akhir yang menyedihkan. Namun, Umay Shahab, Monty Tiwa, dan Imam Salimy menulis film ini dengan memadukan antara cerita roman dan isu yang saat ini sering kali dibicarakan, yaitu kesehatan mental. Sebenarnya isu ini masih dianggap sebagai hal yang tabu terutama di Indonesia. Namun, beberapa orang sudah mulai tertarik dan membuka telinga mengenai hal-hal yang bersangkutan dengan kesehatan mental. Maka menjadikan isu ini sebagai tema untuk lalu diangkat ke perfilman Indonesia adalah pilihan yang tepat.

Singkatnya, film KKR menceritakan pertemuan dua orang yang memiliki gangguan mental, sama-sama kesepian dan butuh didengarkan.  Dua orang tersebut adalah mahasiswa bernama Niskala yang mengidap bipolar dan seniornya Pram yang loneliness.

Niskala (Prilly Latuconsina) digambarkan sebagai gadis ceria yang cukup emosional dan memiliki gangguan mental bipolar. Karena penyakitnya itu dia menjadi anak yang tidak memiliki kebebasan layaknya orang normal. Ayahnya (Kiki Narendra) yang sangat protektif tidak mengizinkan Niskala keluar, bahkan untuk berkuliah. Beruntung ibunya (Unique Priscilla) mengizinkan Niskala untuk berkuliah tanpa sepengetahuan ayahnya, tetapi harus tetap dalam pantauan kedua sahabat Niskala yaitu Dinda (Shenina Cinnamon) dan Octavianus/Anus (Raim Laode). Dengan kesempatan itu, Niskala ingin membuktikan kepada ayahnya bahwa dia bisa menjadi normal dan berprestasi sehingga ia menjadi sangat ambisius.

Dalam perjalanannya, Niskala bertemu dengan seorang pria bernama Pram (Jourdy Pranata) yang merupakan seniornya di kampus. Pram adalah orang yang merasa kesepian setelah kepergian sang ayah. Kesepian yang dirasakan Pram semakin tidak terkendali karena sang ibu yang dulu menjadi tempatnya untuk bercerita kini selalu menyibukkan diri dengan pekerjaannya sehingga tidak lagi memiliki waktu untuk Pram. Untuk mengisi kesendiriannya Pram mencari kesibukan dengan bekerja di sebuah cafe sebagai pelayan dan membuat lagu meskipun tidak ada yang tertarik mendengarkan lagu ciptaannya.

Pertemuan Pram dan Niskala terjadi dalam situasi yang tidak menyenangkan.  Namun, ternyata percakapan awal yang terkesan tidak menyenangkan itu tidak menutup berlanjutnya interaksi antara Pram dan Niskala. Latar belakang yang ternyata sama membuat keduanya dekat dan nyaman hingga mereka saling menyukai. Pram bersyukur ada orang yang mau mendengarkan dia di saat banyak orang yang malah menutup kuping untuknya. Begitupun dengan Niskala, kebahagiaan yang dia cari selama ini ternyata dapat dia temukan ketika bersama Pram.

Sampai suatu malam Pram mengetahui apa yang terjadi dengan Niskala. Niskala berbeda, seperti kata Dinda, sahabat Niskala. Malam itu Niskala mengalami tantrum, ia marah dan masuk ke dalam rumah dengan histeris dan emosi yang memuncak. 

Saat inilah Niskala dengan gangguan mentalnya dimunculkan untuk menggambarkan perasaan dan proses penderita bipolar menghadapi penyakitnya. Dalam film, ditampilkan kondisi Niskala saat mengalami tantrum dan diharuskan meminum obat yang telah dia konsumsi untuk waktu yang lama. Adegan tersebut cukup membekas terutama saat Niskala mengatakan “Aku capek.” dan “Tolong mah”.

Pembawaan karakter dari pemeran bisa dikatakan cukup berhasil. Akting Prilly Latuconsina tidak perlu diragukan lagi. Begitupun dengan Jourdy Pranata dan para pemeran pendukung lainnya.

Film ini sebenarnya cukup bagus jika dilihat dari keberanian isu yang diangkat. Gambaran tentang bagaimana orang-orang dengan kondisi mental yang terganggu, mampu menarik perhatian banyak orang untuk lebih peduli mengenai isu ini dan terhadap sekitar.

Banyak cerita yang saat saya coba tafsirkan ternyata memiliki makna yang bagus. Salah satunya digambarkan melalui peran kedua orang tua Niskala dan ibu Pram. Melalui tokoh-tokoh tersebut digambarkan sikap orang tua yang seharusnya diterapkan ketika menghadapi anak dengan gangguan mental. Ibu Niskala tetap mengusahakan kebebasan anaknya karena menyadari anaknya juga membutuhkan kebahagiaan dan itu bukan dengan cara dikurung. Sedangkan sang ayah yang protektif menggambarkan orang tua yang tidak bisa memahami bagaimana harus menghadapi anaknya yang memiliki gangguan mental. Ia malah membuat anaknya semakin sakit dengan sifat protektifnya. 

Sementara Ibu Pram yang sangat sibuk atau menyibukkan diri setelah kepergian suaminya dan lupa dengan anaknya sendiri. Begitupun kedua sahabat Niskala yang menggambarkan bagaimana kita harus terbuka untuk orang sekitar kita yang mengidap gangguan mental, kita cukup mendengar dan menemani bukan mengucilkan.

Meski begitu, menurut saya film ini ternyata masih memiliki beberapa kekurangan, diantaranya meliputi jalan cerita yang dirasa kurang jelas dan terlalu singkat, serta banyak latar belakang dari peristiwa yang tidak dijelaskan sehingga film terkesan dieksekusi dengan kurang baik. Selain itu banyak adegan yang tidak logis dan seperti mengabaikan hal-hal kecil yang sangat penting untuk mendukung suasana, seperti lipsync yang sangat kentara dan Niskala yang dapat berkuliah tanpa ketahuan ayahnya sama sekali. Padahal ayah Niskala digambarkan sebagai ayah yang protektif, seharusnya tidak akan mudah bagi Niskala untuk sekedar keluar rumah.

Belum lagi akhir dari film ini yang sangat tidak terduga, di mana Pram mengakhiri hidupnya dan Niskala yang berakhir sendiri dengan trauma yang Pram tinggalkan. Bagian akhir film KKR saya rasa tidak menghadirkan klimaks yang mampu menjadi penyelesaian konflik untuk sebuah film yang mengangkat isu kesehatan mental. Alasan Pram melakukan hal tersebut karena dia ingin menepati janjinya kepada sang ayah, bahwa dia tidak akan meninggalkan wanita yang dia cinta, sehingga dia memilih mengakhiri hidupnya bersama Niskala saat Niskala mengancam bunuh diri. Namun ternyata hanya Pram yang jatuh sedangkan Niskala tidak. Adegan tersebut dianggap tidak masuk akal karena untuk sebuah film psikologi, akhir seperti itu hanya akan memperparah kondisi Niskala sebagai pengidap gangguan mental. 

Terdapat pro dan kontra dari penonton. Pertama kali film ini dirilis beberapa orang mengatakan film ini sangat bagus dan penonton dapat merasakan kesedihan dalam film. Bahkan beberapa orang membuat konten reaction before after menonton film ini, sehingga membuat banyak orang semakin tertarik untuk menonton film ini. Beberapa penonton mengatakan orang yang tidak mengalami gangguan mental atau masalah yang persis memang akan sulit memahami permasalahan yang dimiliki oleh tokoh dalam film KKR. 

Setelah banyak orang memberikan ulasan yang baik mengenai film KKR, kemudian mulai bermunculan ulasan yang kurang baik terhadap film tersebut. Ulasan tersebut disuguhkan dalam konten-konten di sosial media dan banyak orang yang sependapat. 

Penonton yang mengalami gangguan mental khususnya bipolar dan seorang psikolog pun menilai film ini kurang jelas dalam menyajikan masalah kesehatan mental. Padahal dalam wawancara di saluran YouTube Urbanasia Com, Prilly mengatakan bahwa mereka bekerja sama dengan psikolog dan penulisan skrip pun diawasi oleh psikolog. Selain itu, untuk mendalami karakter tokoh Niskala, Prilly melakukan riset secara mandiri mengenai bipolar mulai dari apa yang dirasakan, bagaimana prosesnya, dan hal lain yang dapat dipadukan dengan adegan dalam film.

Namun, ternyata film ini tetap tidak sesuai dengan ekspektasi penonton mengenai gangguan mental. Penonton jadi kurang bisa memposisikan diri dan kurang bisa merasakan apa yang dialami tokoh, seperti yang menjadi tujuan film ini. Kembali lagi hal ini karena banyak latar belakang cerita dan hal penting yang diabaikan.

Kesimpulannya, sebenarnya garis besar film dan secara keseluruhan, film KKR ini cukup bagus serta memiliki tema yang menarik. Soundtrack dalam film KKR juga sangat mendukung, terutama lagu utamanya “Kukira Kau Rumah”. Akan tetapi untuk menjadikan isu kesehatan mental sebagai tema utama lalu menjadikan film sebagai media edukasi, isi film ini hanya mampu menampilkan sebagian kecil saja. 

Sebuah karya pasti diciptakan dengan pesan penting di dalamnya. Setiap cerita yang ditampilkan dalam film pastinya bisa dijadikan sebuah pelajaran dalam kehidupan, seperti bagaimana menghadapi pengidap gangguan mental dan pesan bahwa kita tidak boleh menyepelekan para pengidap gangguan kesehatan mental. Setidaknya kita bisa membuat orang yang sebelumnya tidak tahu atau tidak peduli, menjadi tahu dan lebih peduli dengan isu ini. 

Editor: Nurul Hanifah

BACA JUGA Tulisan lain dalam rubrik Resensi dan tulisan Wasti Marentha Sihombing lainnya

guest
0 Komentar
Inline Feedbacks
View all comments

Artikel Lainnya

Inspirasi Budaya Padjadjaran