Pulang: Pengasingan dan Kerinduan Tanah Air yang Menyeruak

Reza Madiva Putri
39 views
','

' ); } ?>

Judul: Pulang
Penulis: Leila S. Chudori
Tahun Terbit: 2012

“Rumah adalah tempat di mana aku merasa bisa pulang.” – Dimas Suryo (Hlm 206)

Novel Pulang merupakan novel Fiksi sejarah karya Leila S. Chudori yang  berisi tentang drama keluarga, persahabatan, cinta, dan pengkhianatan. Novel ini menceritakan tentang dua generasi—Dimas Suryo dan putrinya, Lintang Utara—yang bersama-sama menetap di Paris, Prancis. Seperti ribuan warga Indonesia lain yang yang terjebak di berbagai negara dengan status stateless, keluarga Dimas Suryo dan sahabat-sahabatnya, Tjai, Risjaf, dan Nugraha juga mengalami hal yang sama. Mereka tidak akan pernah bisa pulang ke Indonesia karena paspor mereka dicabut dan kehidupan mereka terancam.

Generasi pertama, yaitu bagian awal novel, menceritakan tentang perjalanan Dimas Suryo. Dimas merupakan seorang petualang yang tidak suka berlabuh, dan juga merupakan seorang jurnalis Indonesia yang cukup intens bergelut dengan organisasi kebudayaan LEKRA, tetapi ia kerap bekerja secara profesional, seperti segelintir kecil jurnalis lain yang anti terhadap segala hal berbau kiri

Dimas dan sahabat-sahabatnya terjebak di luar negeri saat tragedi G30S terjadi. Karena dicap sebagai simpatisan komunis, ia menjadi eksil politik dan tidak bisa kembali ke tanah air karena paspornya dicabut dan akhirnya menetap di Paris. Lalu Dimas, Tjai, Risjaf, dan Nugraha mendirikan restoran Tanah Air di Reu de Vaugirard, Paris, Prancis.

Eksil politik dalam novel ini merujuk kepada warga negara Indonesia yang berada di luar negeri saat peristiwa politik tahun 1965. Mereka dilarang kembali ke tanah airnya tanpa batas waktu yang jelas. Penyebabnya adalah tuduhan sepihak yang menuduh mereka terlibat, baik sebagai anggota, simpatisan, atau bahkan hanya keluarga dari Partai Komunis Indonesia (PKI). Kebanyakan dari mereka sekarang tinggal di beberapa negara Eropa, seperti Belanda, Jerman, dan Prancis.

Mereka yang jumlahnya ribuan ini, dengan berbagai latar belakang dan profesi, terpaksa menjadi orang yang “dibuang” oleh negerinya sendiri. Mereka harus bertahan hidup dengan berkelana tanpa perlindungan dan kepastian di berbagai negara yang menawarkan suaka politik. Hak dan kewajiban mereka sebagai warga Negara Indonesia dicabut secara paksa. Hak asasi mereka sebagai manusia juga diinjak-injak oleh pemerintah sendiri yang tiba-tiba berubah: dari pemerintahan sipil yang mandiri dan berdaulat menjadi pemerintahan militer yang mengorbankan nasib jutaan rakyatnya kepada kekuatan imperialisme modal asing.

Terjadi kisah asmara antara Dimas Suryo dan Vivienne Deveraux yang bertemu di tengah ribuan massa aksi mahasiswa dan buruh dalam revolusi Paris, Mei 1968. Mereka akhirnya menikah dan memiliki seorang anak yaitu Lintang Utara. Namun, pernikahan mereka harus berakhir karena gejolak rindu Dimas pada Indonesia tidak pernah usai. Begitu pula dengan Viviene yang tidak pernah mengerti mengapa Dimas tidak pernah menganggap Prancis sebagai rumah baginya.

Lalu, generasi kedua menceritakan tentang Lintang Utara yang berhasil menyentuh tanah air. Lintang merupakan anak yang cerdas karena ditempa oleh kehidupan sastrawi ayahnya dan nuansa intelektual ibunya. Dia datang ke tanah air untuk menerka pengalaman keluarga korban tragedi 1965 sebagai tugas akhir kuliahnya. Hal ini disebabkan karena semakin ia beranjak dewasa, ada sesuatu tentang Ayah dan Indonesia yang selalu ingin Lintang pahami. 

Lintang sangat dekat dengan Dimas dan Viviene, yang biasa ia panggil sebagai  Ayah dan Maman. Sejak balita, Ayah dan Maman selalu mengajak Lintang untuk piknik di sebuah taman pada awal musim panas. Lintang ingat bagaimana tangan mereka yang mencoba meraih langit. Sambil menggapai-gapai membayangkan singgasana di atas sana dengan Ayah yang bercerita tentang petikan lakon Mahabarata atau Ramayana.

Sewaktu Lintang berumur 10 Tahun, Ayah memberikan kado ulang tahun berupa sebuah kamera. Lintang juga ingat saat-saat Ayah dan Maman mulai banyak bertengkar perkara hal yang terasa remeh-temeh. 

Saat Lintang memperkenalkan seorang pria kepada sang Ayah, ia begitu protektif sehingga Lintang sulit didekati pria mana pun. Lintang juga sangat ingat saat Ayahnya masuk ke dalam kamar dan memeluknya dengan erat dan begitu lama, yaitu ketika Ayahnya meninggalkan Lintang dan Maman dengan ransel di pundaknya. 

Lintang menguak fakta dan menemukan banyak hal mengenai sisi kemanusiaan melalui sejarah paling berdarah yang terjadi di tanah airnya. Apa yang terkuak oleh Lintang bukan hanya masa lalu ayahnya, tetapi juga bagaimana sejarah tragedi tersebut  berkaitan dengan Dimas Suryo dan sahabat-sahabatnya..

Saat di Indonesia, Lintang bertemu dengan Sagara Alam, anak dari sahabat Dimas, Hananto. Pertemuan tersebut membuat kisah baru antara Lintang dan Alam. Di waktu yang bersamaan, Lintang juga menemui kerabat dekat ayahnya dan keluarganya yang ada di tanah air.

Pada Akhir cerita, Lintang berhasil membuat tugas akhirnya di Indonesia. Lalu cerita pun ditutup  oleh kematian Dimas Suryo karena sakit. Dimas dimakamkan sesuai dengan keinginannya sedari dulu, yaitu di Karet, tanah yang menurut Dimas “memiliki aroma yang berbeda” dengan tanah Cimetiere du Pare Lachasie (hlm. 447).

Dua Negeri, Dua Tragedi: Prahara di Tanah Air dan Bara di Paris 

Cerita pada novel ini berlatar belakang sejarah Indonesia dan Paris. Peristiwa yang jarang kita dengar yaitu peristiwa Paris, Mei 1968. Gerakan Mei 1968 di Prancis bermula pada bulan Maret di Universitas Paris, Nanterre, ketika sekelompok mahasiswa, musisi, dan penyair berkumpul untuk memprotes diskriminasi kelas serta anggaran universitas. Protes yang dikenal sebagai Gerakan 22 Maret ini direspons keras oleh manajemen universitas dengan memanggil polisi untuk mengepung kampus hingga berujung pada penutupan sementara. Akibatnya, para pemimpin mahasiswa terancam dikeluarkan dan harus menghadapi sanksi disiplin dari pihak universitas.

Sebagai bentuk solidaritas terhadap rekan-rekan mereka, mahasiswa Universitas Sorbonne menggelar aksi protes susulan. Situasi semakin memanas ketika polisi turut mengepung Universitas Sorbonne, memicu demonstrasi besar-besaran yang melibatkan sekitar 20 ribu mahasiswa, dosen, dan pendukung. Ketegangan yang berlangsung lama ini akhirnya memuncak menjadi bentrokan fisik yang diwarnai pelemparan batu, penembakan gas air mata, serta penahanan ratusan mahasiswa, sebelum akhirnya kelompok buruh ikut bergabung dalam gerakan tersebut.

Di sisi lain, peristiwa G30S pun marak di tanah air. Gerakan 30 September (G30S) adalah usaha kudeta yang terjadi pada malam 1 Oktober 1965. Gerakan ini melibatkan pejabat tinggi Partai Komunis Indonesia (PKI) dan beberapa simpatisan dari militer. Pada dini hari 1 Oktober 1965, mereka membunuh enam jenderal TNI Angkatan Darat dalam sebuah upaya kudeta yang gagal. Pada pagi yang sama, organisasi tersebut mengklaim bahwa mereka mengendalikan media dan saluran komunikasi serta menyatakan telah melindungi Presiden Soekarno. 

Dalam beberapa hari dan minggu berikutnya, tentara dan kelompok sosial-politik serta kelompok agama menuduh Partai Komunis Indonesia (PKI) sebagai dalang di balik kudeta ini. Tak lama kemudian, pembersihan massal diberlakukan. Hal ini menyebabkan penangkapan dan kematian anggota PKI—baik yang sebenarnya maupun yang diduga, serta simpatisan PKI. Di bawah Orde Baru dan hingga kini, gerakan ini biasanya disebut sebagai Gerakan 30 September/PKI atau “G30S/PKI” oleh mereka yang ingin menghubungkannya dengan PKI. Istilah ini juga masih sering digunakan oleh pemerintah saat ini. 

Novel Pulang memberikan pengalaman yang berkesan, karena pembaca dapat menikmati cerita sekaligus mengetahui sejarah suram Indonesia pada masa itu. Memberikan wawasan sejarah tentang kehidupan eksil politik yang suram. Dengan penuh haru, hubungan emosional Dimas Suryo dan Lintang Utara yang sangat menyentuh hati saat dibaca. Sementara itu, perjuangan dan kerinduan pada tanah air yang tiada hentinya membuat perasaan berkecamuk saat membaca novel ini.

“Ayah, kau benar. Lebih mudah untuk tidak memilih seolah tidak ada konsekuensi. Tetapi seperti katamu, memilih adalah jalan hidup yang berani.” -Lintang Utara. (Hlm 448)

Subscribe
Notify of
guest

0 Komentar
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments

Artikel Lainnya