Cewek Kesepian

Raihan Robby
450 views

Aku akan mengatakan ini kepadamu, dan karena mungkin kau juga mengidap penyakit seperti yang aku rasakan, maka aku akan menyarankan agar kau tak menyantap sarapan pagi dengan ayam geprek lima belas cabai, ditambah kobis goreng sebagai pelengkap makan dan dua es teh manis! Bagi penderita maag dan gerd akut sepertiku, aku bisa saja berakhir di dua tempat; IGD rumah sakit atau kamar mandi. Kali ini aku memilih yang kedua.

Aku selalu penasaran apakah penderita penyakit maag dan gerd akut sepertiku ini bisa sembuh? Desas-desus mengatakan seperti selayaknya penyakit, tentu bisa saja sembuh. Tapi, harapanku pupus ketika tabib itu berkata bahwa maag dan gerdku ini kecil kemungkinan untuk bisa sembuh.

Aku sudah muak pergi ke IGD rumah sakit, selalu saja aku harus menelan obat itu lansoprazole, omeprazole, apapun yang berakhiran –zole itulah! Maka dari itu, aku lebih memilih berobat ke tabib, meski obatnya pun sama saja, diminta meminum air kelapa, air rebusan daun saga dan menghisap habis gula jawa. Pokoknya apapun yang berakhiran ­­–a, -a itulah! Memang obat yang diberikan tabib atau dokter akan meredakan rasa panas dan terbakar di lambungku, tetapi itu hanya sesaat. Efek sampingnya adalah aku seperti ingin buang air besar, tapi tidak keluar barang ujungnya sekalipun.

Sialan! Kataku.

Sudah dua setengah jam aku jongkok di klosetpom bensin ini. Jika tidak kepepet, tentu aku enggan untuk boker di sini. Siapa pun yang menaruh tahiknya sebelumku dia pasti tidak pernah merasakan makanan enak, sebab aroma dari hasil olahan perutnya masih tertinggal dan menetap di udara kamar mandi yang berukuran 2 x 2 ini. Bahkan aku bisa melihat putung rokok samsu yangmasih menyala bertumpuk putung rokok yang lain di pojok lubang air itu.

Sialan! Bau banget, bangsat! Ucapku sambil menutup hidung dengan bajuku.

            Aku mengeden sekuat tenaga, ini sudah ke lima belas kali usahaku, tapi yang keluar hanyalah keringat gobyos yang membuat bajuku basah. Aku sudah tidak memikirkan tentang bosku yang pasti akan memarahiku karena aku terlambat sampai kantor nanti. Pernah aku melakukan blunder, sarapan pagi di kantor agar tidak terlambat dan aku memilih sarapandengan nasi kuning berlauk sambal kentang, telur balado dan dua buah bakwan. Alhasil aku mencret tak karuan di kamar mandi kantor.

Semua orang mencariku karena aku seharusnya melaporkan progress kerjaku dalam rapat bulanan itu. Bukannya mendapatkan pertolongan karena hampir saja dehidrasi dan pingsan. Yang kudapati adalah bosku sendiri menggedor-gedor pintu kamar mandiku, mengeksploitasi kehidupanku bahkan sampai titik terendah privasiku; berak. Akibat gedoran yang kencang itu aku sangat kaget dan terpeleset tahikku sendiri. Bos sialan! Oleh sebab, itu aku lebih memilih untuk buang hajat di kamar mandi sempit dan bau ini. Aku sudah tidak peduli apa pun yang akan dikatakan bosku nanti setibanya aku di kantor.

            Saat ini bukan hanya perutku yang terasa sakit dan tidak mau menunjukan hasil geprekan lambungku, tetapi kaki-kakiku juga terasa pegal sekali. Klosetjongkok adalah inovasi yang keren saat itu. Ya, ketika orang-orang zaman dahulu buang hajat di parit yang dalam atau jamban pinggir kali. Meskipun posisi mereka sama saja; jongkok. Tapi klosetjongkok adalah inovasi termutakhir pada saat itu, mengapa? Karena konon, menurut data yang ada pada saat klosetjongkok belum ditemukan kecelakaan akibat tenggelam di parit atau jamban lebih tinggi daripada kecelakaan kendaraan bermotor di jalan raya. Mengapa bisa terjadi kecelakaan? Kurang atau lebih menurut data yang ada adalah terjadinya kram, kesemutan dan pegal-pegal seperti yang aku rasakan saat ini. Maka dari itu sekali-kali ketika kakimu sudah mati rasa, cobalah untuk duduk di klosetjongkokmu itu. Tidak ada salahnya duduk di klosetjongkok atau jongkok di klosetduduk, ini semua perihal gaya dan kenyamanan buang hajat.

            Yang lebih menyebalkan dari perut yang sakit, kaki yang pegal dan diare yang tidak mau keluar serta kamar mandi yang baunya kurang ajar ini adalah aku terus menerus ditelepon oleh bosku yang sialan itu. Telepon pintarku berada di saku belakang celanaku, aku ingin meraihnya dengan posisi tetap terduduk, tetapi susah sekali. akhirnya aku berdiri dengan agak setengah terjengkang menahan berat badanku. Aku raih telepon pintarku yang sedari tadi mengeluarkan nada dering dangdut koplo itu, selain tentu terganggu oleh bosku yang terus menerus menelpon, aku juga merasa terdistraksi dengan nada deringku sendiri. Tubuhku yang sering tidak terkontrol ini seakan ingin bergoyang, maklum pekerjaan lamaku adalah menjadi seorang biduan.

            Sudah lima panggilan tak terjawab, bosku pasti menggila di kantor. Aku matikan paket data internetku agar bosku tak bisa menghubungi aku, setidaknya untuk beberapa saat sampai maag dan gerdku hilang dari dalam tubuhku.

            Saat ingin mengembalikan telepon pintarku ke saku belakang celana, aku menyibakkan celanaku dan menemukan banyak sekali coretan-coretan di tembok kamar mandi yang kusam itu. Ada yang menulis nama geng sekolah mereka, ada yang mengiklankan jasa pawang hujan, bahkan ada yang menaruh nomor telepon untuk menawarkan jasa mengusir mantra jahat. Dari semua coretan-coretan itu, mataku langsung tertuju kepada sebuah tulisan “Cewek Kesepian 0008912341234”.

            Seseorang telah menulis bahwa ia kesepian? Dan ia seorang cewek? Dan ia menyebarkan nomor teleponnya begitu saja? Gila! Betapa kesepian membuat manusia menjadi gila!

            Apakah ini termasuk tindakan prostitusi? Menyebarkan nomor telepon pribadi dengan harapan dihubungi dengan siapa pun yang telah memakai kamar mandi busuk ini? Apa yang orang itu bicarakan ketika pertama kali menghubungi Si Cewek Kesepian?

Apakah seperti, “Hai, Cewek. Kamu kesepian, ya? Aku juga. Bolehkah kita berbagi sepi? Meski sepi adalah tanggungan horni masing-masing.”

Ah! Tidak mungkin, itu terlalu puitis, mungkin hanya penyair sange yang menghubungi Si Cewek Kesepian menggunakan kata-kata rayuan jelek seperti itu.

Atau, mungkin ada yang langsung blak-blakan menghubungi Si Cewek Kesepian? Seperti, “Cewek, kesepian ya? Aku temani sini.”

            Sepi dan sange adalah kondisi biologis yang berbahaya!

            Maag dan gerd membuat pikiranku semakin kalut. Sebagai sesama cewek yang pernah merasakan kesepian, tentu aku tidak akan sembarangan menyebar nomor teleponku di sebuah kamar mandi busuk dan mengatakan bahwa aku kesepian! Betapa gilanya ia!

            Tapi, aku sedikit ragu, apakah benar nomor yang terpampang di tembok ini adalah si Cewek pelakunya? Atau ini adalah pesan si Cowok, yang sebenarnya sedang mencari Cewek Kesepian? Dan si Cowok inilah yang menaruh nomor teleponnya di tembok kusam ini? Sialan! Aku telah berburuk sangka terhadap sesama perempuan! Cowok, bagaimanapun selalu saja tampak murahan, hanya-agar-burungnya-dijepit-ia-rela-berbuat-seperti-ini.

            Jadi siapa yang jablay, hah?

            Ah, maafkan. Aku terlalu bersemangat, ini semua tak lain karena selama aku menjadi biduan dulu, tubuhku seperti etalase warung makan yang bisa dielus, ditunjuk dan dipegang semau para penyawer. Jangan salahkan mengapa aku memilih menjadi biduan, itu semua tidak ada sangkut pautnya dengan pelecehan yang dilakukan laki-laki keparat itu. Kau mungkin bisa menghakimiku, tapi cobalah kau menjadi aku! Sedetik pun kau tak akan sanggup. Jadi, tetaplah fokus pada cerita ini dan biarkan aku menyelesaikan semuanya. Tahanlah nasehat sok sucimu itu, sebentar saja.

            Sampai di mana tadi kita? Ah, ya. Jablay. Aku sering dibilang jablay, jarang dibelay. Itu adalah profesi yang disematkan pada namaku. Aku tak dendam ataupun marah. Semua obrolan di belakangku kutelan sendiri. Sampai aku bisa membuktikan seperti sekarang ini bahwa aku bisa bekerja di kantor, seperti selayaknya perempuan terhormat yang dipandang di masyarakat.

            Kembali ke nomor telepon itu, karena aku terlanjur penasaran, aku kembali aktifkan paket data internetku. Tak disangka, bosku yang sialan itu telah menelpon aku selama lebih kurang lima puluh kali! Dan ia mengancam akan memecatku jika aku tidak sampai di kantor selama lima belas menit lagi. Kalau sudah begini, terpaksa aku harus menunjukan goyangan obeng kembangku kepadanya. Lagi-lagi ini adalah risiko pekerjaan dan jangan kau coba menghakimi aku, kau tak akan bisa menjadi sepertiku barang sedetik saja!

            Aku berkemas hendak pergi, teringat nomor telepon yang telah kucatat itu. Aku tak langsung menghubungi nomor itu, yang kulakukan adalah mengambil spidol di tas kantorku lalu menulis nomor telepon bosku di tembok kusam kamar mandi busuk itu.

            Tak lupa aku tambahkan frasa “Cowok Kesepian”.

Jakarta, 2021.

Editor: Irna Rahmawati

guest
0 Komentar
Inline Feedbacks
View all comments

Artikel Lainnya