Takhta di Ruang Tengah

Sedikit sekali peluh yang Ia tinggalkan di sini
Uluran tangannya pun terasa asing
Di sini, di tempat ini,
Ibu memilih seumur hidupnya
dengan lelaki yang dulu Ia kira mampu berusaha

Tanpa malu Ia menetapkan dirinya sebagai peminta
Entahlah, mungkin karena sudah terbiasa
Tanpa malu Ia memaki lalainya Ibu bekerja
di tengah dirinya yang bahkan jarang mengupayakan hidup

Aku tahu, barangkali pernah ada usaha
Pernah ada langkah yang Ia coba, meski tak sampai ke mana-mana
Namun sekali gagal, Ia memilih berhenti melangkah
Seakan cukup sudah,
membiarkan Ibu berjalan seorang diri
di tengah duri yang Ia pertajam

Abu rokok, piring kotor, dan bungkus kopi di ruang tengah
menjadi saksi betapa merajanya Ia
di singgasana yang tidak pernah Ia bangun

Lantas, Tuhan,
bagaimana hangatnya sebuah keluarga…
jika kepala rumahnya tak lagi mengasihi dengan cinta?

Lantas, Tuhan,
sampai matikah Ibu 
mengupayakan hidup seorang diri?

Subscribe
Notify of
guest

0 Komentar
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments