Dunia Gelembung
Aku adalah seorang anak.
Saat ini, aku sedang bermain gelembung.
Bermain gelembung itu sangat menyenangkan, ya.
Lho, gelembung itu terbang semakin jauh.
Eh, apa aku terlalu lama bermain, ya?
Apakah aku harus kembali ke rumah sekarang?
Namun, aku masih mau bermain…
Ah, ya sudahlah.
Mau tak mau, aku harus kembali.
Aduh, betapa enaknya jika aku bisa bermain terus.
Aku adalah seorang anak.
Sekarang, aku berada di dalam rumah.
Sama seperti bermain gelembung,
Rumah ini juga bisa jadi tempat yang menyenangkan.
Disini ada banyak barang yang bisa digunakan.
Ukurannya ada yang besar dan kecil, fungsinya pun berbeda-beda.
Bebas digunakan sesuai kebutuhan.
Ah, tetapi, terlalu banyak yang harus dilakukan.
Aku harus mencuci piring, menyapu, menjemur baju, melipat baju, mengepel, memasak, merapikan rumah, menyiram tanaman, hingga menyikat kamar mandi.
Terkadang, aku harus melakukan banyak hal secara bersamaan!
Kata ibu dan ayah, aku harus melakukannya agar rumah ini terus terjaga.
Kata mereka, “sudah seharusnya begitu.”
Ah, ya sudahlah.
Padahal aku enggan melakukannya.
Capek, tahu.
Aku adalah seorang anak…
Aku rasa sudah seribu hari lamanya terjebak di dalam rumah.
Makin hari, tugas yang harus aku kerjakan kian bertambah.
Aku terpaksa mengurangi sedikit demi sedikit barang, meskipun rasanya aku akan butuh.
Tetapi aku perlu lebih banyak ruang untuk bergerak!
Kata ibu dan ayah, tugas rumah harus diselesaikan dengan cepat,
Biar tidak malu jika berantakan atau ada barang yang tidak sesuai pada tempatnya.
Namun, haruskah serba terburu-buru seperti ini?
Memangnya siapa yang peduli, toh, ini rumahku.
Aku juga butuh waktu untuk membereskan semuanya.
Aku adalah seorang anak,
Aku sudah tidak tahan lagi…
Jadi aku kabur keluar untuk bermain gelembung.
Eh, siapa sangka,
Ternyata ada banyak anak-anak lain disini!
Kenapa, ya, mereka keluar rumah?
Oh, sudah pasti alasannya sama seperti aku, bukan begitu?
Ayah dan ibu mereka pasti juga mengatakan hal yang sama setiap hari.
“Bereskan ini, bereskan itu.”
Hihihi, Ternyata kita semua sedang kelelahan, ya?
Baiklah, aku tidak akan mengganggu siapapun.
Aku akan membiarkan mereka bermain dengan gelembung masing-masing,
Aku pun begitu.
Menyenangkan sekali, ya, bermain gelembung.
Semoga kali ini gelembungnya tidak terbang terlalu jauh.
Catatan kecil dibalik puisi ini:
Puisi ini adalah cerita tentang jiwa seorang anak yang terjebak di tubuh seorang dewasa. Dunia imajinasi yang kerap hinggap di pikiran orang dewasa itu cepat sekali ditangkas oleh dunia nyata yang harus dia jalani. Bukan berarti kehidupannya tidak pernah menyenangkan, namun ekspektasi orang tua dan orang sekitar mungkin sedikit mengurangi pandangan akan adanya kebahagiaan yang nyata di dunia yang sementara ini.