AKSI TEATER DJATI DALAM “LAPAR”

Dua aktor yang sedang menampilkan satu adegan  dalam lakon Lapar. (Foto: Rizka Khaerunnisa)

Dua aktor yang sedang menampilkan satu adegan
dalam lakon Lapar. (Foto: Rizka Khaerunnisa)

 

Rabu, 25 November 2015, tepatnya di Aula PSBJ Fakultas Ilmu Budaya diselenggarakan pementasan tunggal teater Djati yang berjudul Lapar. Pementasan ini digelar dalam rangka ulang tahun teater Djati yang ke-15 dan diselenggarakan dalam dua sesi yakni pukul 11.00 WIB dan pukul 16.00 WIB.

Cerita dibuka dengan perbincangan dua orang penjaga jalur kereta api tentang desas-desus cerita mistis mengenai terowongan dekat pos mereka berjaga. Kemudian dilanjutkan dengan kilas balik tujuh hari sebelumnya, yakni cerita tentang tokoh Putro dan Tini, sepasang suami-istri yang hidup kekurangan. Mereka bertengkar karena masalah lapar sedangkan sang Suami sedang dirundung masalah dalam pekerjaannya. Terjadilah cekcok diantara mereka yang meyebabkan sang Istri diusir beserta anaknya oleh suaminya.

Situasi beralih ke cerita-cerita lain yang semuanya menyangkut lapar, sampai akhirnya tokoh Putro dan Tini dipertemukan kembali. Namun, konflik tetap terjadi diatara mereka. Putro dan Tini bertengkar tentang hidup dimana Putro ingin Tini kembali kepadanya, sedangkan Tini yang sudah tidak percaya dengan hidup menolak mentah-mentah. Sampai akhirnya mereka bertengkar diterowongan dan terjadilah kasus kecelakaan dalam terowongan tersebut. Cerita kemudian beralih ketika dua orang penjaga itu duduk di pos jaga. Akhir cerita ditutup dengan terkuaknya desas-desus teriakkan lapar diterowongan itu.

Menurut Bernadetta Ines, selaku sutradara, tema Lapar merupakan hal yang dekat dengan kehidupan karena semakin maju orang-orang seakan egois, tidak peduli dengan orang kecil. Fenomena lapar tidak hanya soal makanan, bisa hukum, keadilan dan orang-orang kecil yang tidak mempunyai kekuasaan yang menjadi korban. Dengan pementasan Lapar ini diharapkan penonton bisa peka terhadap keadaan sekitar.

Dengan alur cerita kilasbalik, pementasan Lapar ini memiliki keunikan tersendiri. Pengaruh latar musik cukup membawa penonton ke dalam suasana horor yang menegangkan. Tidak hanya mengkritik era saat ini dengan ceritanya, tetapi juga penonton disuguhkan oleh kemampuan akting para pemainnya. Pemilihan para pemainnya juga mempertimbangkan aspek dengan kesesuaian tokohnya, “alhamdulillah semuanya sukses dan sesuai ekspektasi saya” pungkas Ines.

Menurut salah satu penonton yang kami wawancarai, Helmi dari Sastra Indonesia, teater ini merupakan bukti bahwa di FIB memiliki orang-orang yang bertalenta dalam pementasan teater. Namun, dalam hal open gate masih menjadi sebuah kendala karena waktu tunggu yang cukup lama.

Ridwan dari jurusan Sastra Jerman justru mengatakan sebaliknya. Baginya, waktu tunggu itu merupakan hal yang wajar dalam mempersiapkan sebuah pementasan drama seperti halnya pementasan seni lainnya. Menurutnya, cerita yang diangkat dalam pementasan ini di luar espektasinya karena ia sebelumnya mengetahui cerita LAPAR lewat novel. Baginya, Teater Djati cukup berani untuk membawakan sebuah cerita yang sebenarnya kurang memungkinkan untuk diangkat ke pementasan teater tetapi, lebih cocok untuk sebuah film atau sinetron. (Putri Syifa N. / M. Dzauhar Azani)

 

0

Komentar