Valentine dan Sejarahnya yang Diromantisasi

Ita Rosita Setianingsih
134 views
valentine

Ada hal lain yang paling ditunggu-tunggu di bulan Februari ini—selain semester baru. Yap, hari Valentine yang disebut-sebut sebagai hari kasih sayang sedunia. Menjadi hari yang sama juga di mana para kaum Social Justice War (SJW) di Twitter akan membuat satu tagar trending serta ramainya broadcast tentang sejarah dan haramnya perayaan Valentine di grup-grup WhatsApp.

Menjelang hari kasih sayang ini, warga bumi biasanya akan terpecah menjadi tiga golongan. Golongan pertama adalah mereka yang sudah official dengan sang pujaan hati. Saya anggap, golongan ini jadi golongan yang paling antusias menyambut hari Valentine. Biasanya golongan ini akan merayakannya dengan memberi kejutan atau sekadar makan malam romantis dengan pemandangan yang instagramable bersama sang pacar.

Lanjut ke golongan selanjutnya adalah mereka yang apatis. Golongan ini adalah warga bumi yang hidupnya sama sekali tidak terpengaruh dan tetap tenang di tengah-tengah perayaan hari kasih sayang ini. Terakhir, golongan yang diramaikan oleh mereka, para tuna-asmara, yang biasanya bakal turut meramaikan sosial media dengan mengunggah konten-konten galau atau ikut-ikutan mentrendingkan hashtag #ValentineBukanBudayaKita di sosial media, terutama di Twitter, bersama dengan kaum SJW lainnya.

Saya pribadi setuju dengan slogan #ValentineBukanBudayaKita ini. Sebab, saya pikir bangsa kita sudah punya banyak budaya yang (mungkin) perlu kita lestarikan. Contohnya sesederhana makan geprek tiap hari, merayakan hari patah hati nasional, stalking mantan dan pacar barunya, atau tetap sayang sama dia meskipun sudah disakiti. Cieeelaah. 

Ada pula budaya yang lebih mulia, yaitu merealisasikan tujuan bangsa dengan menjaga perdamaian dunia: jauh-jauh dari Bekasi ke Depok buat damai sama ayang; berbagi rezeki demi berdamai dengan bapak-bapak berseragam di jalan saat kena tilang; damai antara pelaku dengan penyintas kekerasan seksual demi nama baik nusa, bangsa, dan lembaga; serta masih banyak lagi.

Oiya, ini bukan tulisan yang hanya bisa dinikmati oleh para kaum yang sudah memiliki pasangan saja. Untuk kalian yang statusnya masih digantung si dia atau yang bahkan masih belum terlihat hilal jodohnya, juga bisa ikut menikmati.

Kenapa Kita Merayakan Hari Valentine?

Berbicara tentang budaya, hari Valentine yang disebut-sebut sebagai hari kasih sayang ini, menurut saya, justru memiliki sejarah yang sangat jauh dari makna kasih sayang. Ada dua versi sejarah popular seputar lahirnya budaya hari Valentine ini yang saya ketahui.

Melansir Kompas.com, sejarah hari Valentine berasal dari kisah Santo Valentinus pada yang hidup di zaman Kaisar Romawi Claudius II kisaran tahun 1600-an. Ada dua versi cerita berbeda pada satu orang ini. Perbedaannya ada pada bagian bagaimana pada akhirnya ia dieksekusi mati oleh sang Kaisar. Namun, garis besarnya tetap sama, yaitu ketika Santo Valentinus dibunuh dengan alasan telah giat mengajak rakyat romawi saat itu, termasuk sang Kaisar, untuk meninggalkan paham Paganisme dan memeluk agama Kristen. 

Sejarah kedua yaitu hari Valentine dianggap berkaitan dengan Festival Lupercalia. Pada masa Romawi Kuno, festival ini dilakukan oleh kaum Pagan pada 13-15 Februari setiap tahunnya dan dikenal sebagai festival kesuburan. Namun, apa yang terjadi di festival itu pun sangat jauh dari ‘kasih sayang.’ Kaum Pagan pada hari itu akan berkumpul di sebuah gua suci yang dianggap sebagai tempat di mana bayi Romulus dan Remus dibesarkan oleh serigala. Mereka akan mengorbankan seekor anjing dan kambing yang nantinya kulit kambing akan dipakai untuk mencambuk para perempuan yang dipercaya dapat memberikan kesuburan. Selain itu, festival Lupercalia juga menjadi ajang ‘pengundian jodoh.’ Setiap lelaki lajang akan mendapatkan kesempatan untuk kencan dengan perempuan setelah mendapatkan gulungan nama dari sebuah guci secara acak.

Sebenarnya, dari kedua sejarah tersebut, saya tidak menemukan di mana letak kesesuaian antara sejarah di masa lalu dengan makna hari Valentine di masa kini. Justru membuat saya bertanya-tanya, kalau sejarahnya sendiri seperti itu, untuk apa kemudian kita sampai saat ini ramai-ramai mengglorifikasi hari Valentine sebagai hari kasih sayang?

Cokelat dan Bunga sebagai Ungkapan Kasih Sayang

Berawal dari tahun 1837, Ratu kerajaan Inggris saat itu, Victoria, menjadikan hari Valentine sebagai hari ketika orang-orang saling memberikan kartu ucapan atau hadiah. Hal itu membuat Richard Cadburry, seorang pengusaha produksi cokelat mulai mengkomersialkan hari Valentine dengan berbagai produksi cokelat pada tahun 1861. Sebab pada masa itu, cokelat telah dikenal sebagai makanan yang punya arti kesuburan dan cinta yang hanya dapat dinikmati oleh para bangsawan.

Seiring berjalannya waktu, tradisi itu pun menyebar dengan dibumbui tagline romantis di setiap iklan penjualan cokelat. Para pengusaha cokelat pun mulai berinovasi mulai dari bentuk, rasa, bahkan sampai cara pengemasannya. Semua itu disesuaikan dengan permintaan para pelanggan yang kebanyakan adalah para lelaki yang ingin memberikan hadiah kepada kekasihnya.

Selain cokelat, bunga menjadi hal lain yang dianggap identik dengan pengungkapan rasa kasih sayang. Berawal dari abad ke-18 di Inggris, saat itu perempuan tidak memiliki ruang bebas untuk mengungkapkan ekspresinya. Oleh karenanya, diciptakanlah bahasa lain yang menggunakan objek sebagai cara untuk menyampaikan sesuatu yang kemudian disebut bahasa bunga. Sebagaimana banyak bahasa lainnya, bahasa ini pun ada kamusnya. Ditulis oleh seorang bangsawan Perancis bernama Charlotte de Latour pada 1819 dengan judul Langage des Fleurs. Dalam bukunya, Charlotte meromantisasi mawar dengan memberikannya arti ‘cinta’.

Pada akhirnya, bagaimana pun sejarah dan perjalanannya, hari Valentine tetap menjadi hari di mana banyak lelaki yang pada akhirnya berusaha melakukan hal-hal yang dianggap ‘romantis’ demi membahagiakan sang kekasih atau untuk sekadar terlihat manly dan sayang pacar. Beberapa kasus malah ada yang ‘terpaksa’ turut merayakan karena takut kehilangan. Awokawokawok. 

Sisi positifnya, mungkin Valentine bisa menjadi menjadi salah satu alternatif untuk segelintir orang yang terhalang perasaan gengsi yang cukup besar untuk mengungkapkan perasaannya. Mereka bisa memanfaatkan momen ini untuk melakukan hal-hal romantis dengan yang terkasih dengan berdalih ikut merayakan hari kasih sayang. 

Terakhir, cokelat dan bunga, bahkan lainnya, tidak harus atau hanya bisa didapat dari kekasih semata. Memberi untuk diri sendiri sebagai bentuk self reward atau self love pun bukan masalah besar dan patut dicoba. Satu hal yang pasti, kita punya lebih dari satu hari dalam satu tahun untuk mengungkapkan perasaan kepada yang terkasih, keluarga, pacar, sahabat, teman, dan lainnya dalam bentuk apapun. 

guest
0 Komentar
Inline Feedbacks
View all comments

Artikel Lainnya

Inspirasi Budaya Padjadjaran