Suara-Suara yang Timbul Tenggelam: Harapan Ruang Aman Tanpa Kecuali

M. Roby Septiyan
572 views

Wacana yang sering kita dengar mengenai ruang aman adalah wacana dominan. Pembahasannya selalu berfokus pada kekerasan yang dilakukan oleh laki-laki kepada perempuan. Hal tersebut adalah sesuatu yang penting, tetapi ada suara-suara lain yang perlu didengarkan. Terutama suara-suara yang terpinggirkan. Salah satunya adalah suara-suara teman-teman mahasiswa LGBTQ+. Pada peliputan ini disediakan ruang yang menampung suara dari teman-teman mahasiswa LGBTQ+ yang diwawancarai secara langsung, maupun yang mengisi formulir yang telah disebar sebelumnya. Cerita-cerita itu sangat penting untuk kita dengarkan. Berikut cerita-cerita tersebut:

  • Satria, alumni Universitas Padjadjaran.

Aku laki-laki dan ketertarikanku juga kepada laki-laki. Aku gak terlalu suka singkatan LGBTQ+, apalagi istilah-istilah itu datang dari Barat yang asing bagi masyarakat kita. Istilah-istilah itu mengkotak-kotakan manusia. Perbedaan itu bukan cuma bikin fenomena homofobik, tapi sepengalaman aku ada juga orang-orang yang heterofobik. Lebih baik semuanya dianggap manusia, hidup akan lebih mudah.

Keadaan aku sudah disadari sejak SMP melalui eksplorasi. Namun, saat SMA aku pernah coba eksplorasi lagi. Pacaran sama perempuan, tapi rasanya jadi cuma temen. Akhirnya aku bener-bener yakin dengan keadaan diriku. Sejak mulai kuliah aku makin percaya diri untuk membuka diri soal identitasku dan berekspresi tanpa tekanan.

Selama berkuliah di Unpad aku gak pernah dapet tindakan diskriminatif, tapi ini keberuntunganku. Gak semua kasus bisa disamain. Aku gak bisa jamin Unpad 100% mendukung teman-teman LGBTQ+, masih banyak di luaran sana yang kena diskriminasi karena kesenjangan publik. Perlakuan dari dosen dan teman di lingkungan apa pun sangat ramah, tidak pernah ada gangguan. Ada sebenarnya ruang-ruang yang memang disediakan untuk teman-teman yang ingin nyaman dengan identitas gendernya, yaitu PadGHRS (Padjadjaran Resource Center On Gender and Human Rights Studies) yang dibentuk mahasiswa. Aku gak ikut itu, aku rasa ruang nyaman itu dibentuk oleh kita sendiri dan gak bisa datang sendiri. Ada juga ruang-ruang yang harus kita sadari, artinya kita saling menghormati selama tidak melanggar hak masing-masing. Misalnya di masjid terkadang khutbahnya menghakimi orang yang orientasi seksualnya gak dominan. Aku sih pergi ke masjid untuk menenangkan diri aja. Aku percaya Tuhan itu baik.

Aku rasa semua perlakuan di Unpad waktu aku kuliah udah bener. Cuma ada beberapa harapan, umumnya sih semua orang butuh teman yang mengerti, mendengar dan gak komen atau menggurui. Konkretnya semua dosen dapat lebih nerima ideologi-ideologi berbeda yang dipegang mahasiswanya. Aku yakin sih sebenernya gak ada diskriminasi, bahkan kayanya ada aturan bahwa semua dosen gak boleh diskriminatif dalam hal apa pun. Harapan lainnya, PadGHRS dan lembaga lainnya bisa lebih banyak memproduksi konten semacam fun fact identitas gender dan hal lain yang berhubungan. Makin banyak akses orang ke pengetahuan itu, makin banyak orang yang bisa memahaminya. Selama ini aku rasa pengetahuan soal isu ini gak menjangkau semua kalangan.

Terakhir pesan untuk teman-teman yang masih kebingungan, ngerasa gak aman, dan banyak melakukan penyangkalan atas dirinya sendiri. Identitas itu bukan sesuatu yang cepat disadari. Banyakin riset sebelum menyatakan siapa dirimu. Bisa pacaran, ngobrol, dan cara eksplorasi yang lainnya. Kalau teman-teman masih sulit menerimanya, jangan lari ke hal negatif. Banyak kok psikolog yang baik di Unpad. Lebih baik curhat ke temen dan jangan lupa pilih-pilih teman yang bisa buat kamu nyaman. Intinya, sebelum kita didengar, kita juga harus mendengar orang lain. Sebelum kita ingin diterima, kita juga harus menerima diri kita sendiri.

  • Violet (bukan nama sebenarnya), mahasiswa Universitas Padjadjaran.

Aku perempuan dengan orientasi seksual biseksual, semuanya aku sadari sejak SMP. Keadaan ini nyaman buatku, cuma aku terbuka ke temen-temen dekat aja. Selama kuliah juga cenderung nyaman, banyak temen-temen queer. Tidak pernah ada pelecehan karena identitas yang pernah aku alami, mungkin cuma denger-denger selewat diskusi kecil yang bilang jijik sama LGBTQ+. Selebihnya aku lihat orang-orang gak peduli sih sama isu ini.

Ruang aman bagiku itu GirlUp Unpad, itu adalah ruang aman tanpa kecuali. Di luar itu aku gak ikutan lembaga-lembaga khusus yang menjadi ruang aman sih. Mungkin temen-temen LGBTQ+ bisa buat ruang aman itu sendiri kalau emang diperlukan.

Harapanku, idealisnya gak ada diskriminasi lagi di mana pun itu. Kebutuhan lainnya itu, gak dipandang sebelah mata, bisa bebas berekspresi, misalnya temenku bisa pacaran dengan bebas, dan perlu adanya perlindungan hukum yang tidak diskriminatif.

  • Freud (bukan nama sebenarnya), mahasiswa Universitas Padjadjaran.

Saya laki laki dengan orientasi seksual biseksual dan homoromantik. Saya membuka identitas ini, tetapi selama kuliah rasanya tidak nyaman. Lingkungan rasanya tidak toleran! Saya masih sering mendengar mengenai pandangan nyeleneh tentang LGBTQ+ (terutama di antara para pria), label bahwa semua pria nonhetero adalah pemerkosa atau pelaku pelecehan yang selalu nafsuan 24/7 masih sangat prevalen di Unpad. Kebetulan fakultas saya mayoritas perempuan, tapi teman-teman lainnya yang feminin hingga sekarang masih sering dibincangkan secara negatif.

Saya gak tergabung di organisasi atau perkumpulan yang menyediakan ruang aman. Ruang aman saya adalah teman-teman terdekat. Bagi saya orang-orang di lingkungan Unpad seharusnya memperlakukan kami sebagai orang biasa saja. Tidak perlu diceramahi, dijauhi, atau apa lah. Perlakukan seperti layaknya kita memperlakukan orang yang suka makan durian.

Ada kebutuhan kami yang harus didengar. Gimana kalo mendengar tentang LGBT otaknya jangan langsung ke pemerkosa atau pelecehan seksual? Perasaan pelaku pelecehan dan pemerkosa tertinggi di dunia itu orang hetero deh. Terus kenapa mahasiswi unpad (Indonesia si) suka ngefetish-in cowok yang pacaran (atau kayaknya pacaran) sama cowok, tapi intoleran sama LGBT? Kenapa temen-temen yang biseks selalu dibilangnya ‘udah pacaran aja sama cewek, kembali ke jalan yang lurus’. Gausah lebay kalo ada orang yang LGBT. Kita biasanya gak nafsuan sama kalian, sekalipun ada juga paling ditahan dalam hati aja biar kaliannya gak bar-bar. Tidak menutup kemungkinan ada beberapa orang yang LGBT juga yang brutal, tapi ya… Sumanto brutal, tapi kita gak nyalahin semua orang yang hetero suka makan orang kan?

  • F (bukan nama sebenarnya), mahasiswa Universitas Padjadjaran.

Aku seorang genderfluid yang tidak melabeli diri dengan orientasi seksual tertentu. Keadaan diriku gak aku buka ke orang lain. Aku kira Unpad kurang aman dan nyaman karena nyatanya masih banyak terdapat judgemental people di tempat yang disebut sebagai safe place untuk teman-teman LGBTQ+. Keadaan itu buat aku gak nyaman. 

Ruang aman yang aku miliki bukan sebuah organisasi atau perkumpulan, tetapi lebih cenderung ke internet friends yang banyak merupakan sesama LGBTQ+ atau heterosexual ally. Ruang aman dapat dibentuk kalau orang-orang di lingkungan Unpad cukup diam dan gak perlu repot-repot ceramah panjang lebar. It hurts somehow dan gak usah takut juga, we’re being LGBTQ+ doesn’t harm you at all. Also we’re all still human jadi tolong perlakukan kita kayak manusia biasa aja.

  • Surya (bukan nama sebenarnya), mahasiswa Universitas Padjadjaran.

Saya laki-laki dengan orientasi seksual gay. Identitas itu tidak saya buka, tetapi saya merasa nyaman di lingkungan ini. Menurut saya, lingkungan Unpad memang cukup nyaman bagi LGBTQ+ people, hanya saja terkadang memang ada beberapa hal yang bisa menjadi trigger dan mengancam bagi kami, sebagai contoh ketika postingan ‘happy pride’ dari Instagram Gemasi yang di-take down dan dianggap tidak mencerminkan Unpad, dari hal itu saya memandang bahwa konstruksi “normal” yang mereka anggap sebagai norma yang benar masih sangat bertentangan dengan kebebasan dan keamanan kami. Oleh karena itu kami tidak bisa secara bebas dan percaya diri untuk declare our self as a part of the LGBTQ+ people, I’m so sad.

Saya juga tidak punya ruang aman. Orang-orang di lingkungan Unpad dalam harapan saya seharusnya sangat menghindari sikap diskriminasi, egois, dan memandang kami dengan sebelah mata, karena kami juga sama manusia. Kami ingin identitas gender dan orientasi seksual kami agar tidak harus disembunyikan lagi, dan dianggap menentang “norma” yang berlaku. Jangan mengekang kebebasan kami, jangan juga menentang mereka yang mencoba menciptakan ruang aman bagi kami.

  • Nanang (bukan nama sebenarnya), mahasiswa Universitas Padjadjaran.

Gue laki-laki dengan orientasi seksual panseksual dan membuka identitas itu. menurut gue, di beberapa lingkungan Unpad belum aman dan pastinya tidak nyaman bagi sebagian teman. Masih kental budaya dan prinsip yang kontra terhadap queer di berbagai fakultas dan jurusan, bahkan di fakultasku yang notabenenya cukup kental dengan queers, masih banyak yang belum terbuka dan cenderung memojokkan queer di jurusan masing-masing. Gue tau sih kalau di setiap tempat pasti akan ada orang-orang yang kontra LGBTQ+ tapi gue akan menarik garis batas kalau mereka sampai mengenyampingkan atau meremehkan seseorang hanya karena mereka LGBTQ+. 

Lingkungan Unpad secara umum bagi gue nggak nyaman, tapi jurusan gue cukup terbuka terhadap hal kayak gini, dan itu cukup. Gue harap di lingkungan Unpad LGBTQ+ bisa diperlakukan selayaknya manusia biasa pada umumnya, gue gak akan minta banyak karena faktanya beberapa orang masih memperlakukan kita selayaknya binatang atau enggak, spesimen buat diteliti. Perlakukan kami selayaknya manusia, dan bukan orang-orang rendahan yang tidak memiliki perasaan.

  • Boba (bukan nama sebenarnya), mahasiswa Universitas Padjadjaran.

Aku laki-laki yang tidak melabeli diri dengan orientasi seksual tertentu dan tidak membuka identitas ini. Lingkungan Unpad secara garis besar memang tidak nyaman of course, some people still blatantly homophobic, even if theyre not, they still talk shit about us as in “do u know any boti, omg yea i know he’s so obvious” like personal roles shouldnt be none of anybody’s concern except people that terlibat in the relationship LIKE STRAIGHTIES PLISE STOP TALKING ABOUT IT. But only in this college I’ve also found people that I can talk to and relatable and found myself a safe space so yeah, lebih banyak gak nyaman sih hihi

Ada ruang aman, not perkumpulan, but its like at the end of the day, queers found each other so its nice to have someone u kan talk to, its more like a close friendship group not publicly open communities. Harapanku def should mind their own business, i prefer they not menyinggung that at all if they cant say anything positive smh. I would love a communities but in this climate? Def a SUPER HIGH RISK and I didnt want get any hate crimed lol, so all I want is (which is bare minimum actually) for everybody to mind their own business.

  • Pietro Doupin (bukan nama sebenarnya), mahasiswa Universitas Padjadjaran. 

Saya adalah seorang perempuan biseksual. Saya dapat menyukai baik laki-laki maupun perempuan di hidup saya. Identitas ini tidak saya buka. Saya tidak nyaman dalam lingkungan Unpad. Menurut saya, lingkup kampus maupun fakultas tidak begitu menaruh perhatian pada hal ini, sehingga saya merasa aman dan nyaman karena tidak ada tuntutan untuk mengubah orientasi seksual saya. Namun, di lingkup prodi atau jurusan, saya merasa keamanan dan kenyamanan saya terancam karena orang-orang yang cenderung homophobik dan tidak mentoleransi penyuka sesama jenis. Saya menjadi takut dan merasa sangat tidak bebas. Tidak ada ruang aman yang khusus, saya hanya memiliki 5 orang teman yang mengetahui hal ini dan menerima cerita saya dengan baik. 

Seharusnya orang-orang di lingkungan Unpad mentoleransi setiap identitas gender dan orientasi seksual yang ada, karena tidak ada manusia yang berhak untuk mengatur serta merendahkan manusia lainnya. Dengan tidak mempedulikan dan tidak menggunjing tentang hal tersebut, akan sangat membantu kami untuk merasa lebih baik terutama pada segi kesehatan mental.

Kami ingin diperlakukan sama dengan orang lain. Kami ingin dianggap normal dan tidak sakit. Kami berhak untuk menyimpan perasaan kami. Kami berhak untuk bebas mengekspresikan rasa cinta kami. Kami berhak untuk tidak ditanya mengenai orientasi seksual kami terkait masalah privasi.

Baru saja terjadi pada saya, ketika saya dan teman-teman satu prodi sedang berkumpul bersama. Awalnya pembicaraan tidak mengarah ke sana, tetapi lama-kelamaan teman-teman saya menyinggung masalah orientasi seksual di fakultas terutama prodi kami. Mereka menyebutkan nama teman saya yang sudah come out dan bertanya-tanya mengapa teman saya bisa menyukai sesama jenis. Mereka masih membahas berbagai hal lain yang merendahkan orientasi seksual saya dan teman saya, tetapi karena saya tidak tahan dengan arah pembicaraan, saya mencoba untuk memotong dengan lelucon. Rasanya sangat miris karena saya rasa semua manusia berhak untuk mencintai manusia lainnya. Jika ditanya, kami pun tak dapat mengontrol perasaan kami sendiri.

Dari semua cerita yang didapatkan dalam liputan ini cenderung teman-teman merasa tidak nyaman di lingkungan Unpad. Namun, bukan hanya itu masalahnya. Teman-teman LGBTQ+ juga sering menjadi korban diskriminasi dan perlakuan tidak baik pada akun Twitter menfess Draft Anak Unpad. 

Biasanya perlakuan itu didapatkan dari komentar-komentar pada menfess yang pada mulanya hanya bertanya bagaimana rasanya memiliki teman dengan identitas LGBTQ+ dan sejenisnya. Teman-teman LGBTQ+ juga menghadapi masalah dengan kelompoknya sendiri, semisal diskriminasi pada sesamanya, bahkan saat mereka ada dalam hubungan berpacaran ada suatu kebingungan saat mereka mendapat tindak kekerasan dari pasangannya, apakah itu termasuk kekerasan seksual atau bukan? 

Begitu berlapis masalah yang dihadapi untuk sekadar mendapatkan hak ruang aman dan nyaman. Oleh karena itu, kami dalam liputan ini juga mewawancarai ahli gender dan Satgas PPKS Unpad untuk membantu kita mewujudkan ruang aman dan nyaman tanpa kecuali.

Memahami Keberagaman

Mewujudkan ruang aman dan memenuhi kebutuhan semua orang tentunya harus diawali dengan saling memahami. Utamanya pemahaman mengenai kelompok-kelompok yang dipinggirkan. Lebih mendasar lagi, pemahaman dimulai dari definisi identitas gender, orientasi seksual, dan ekspresi gender.

Menurut Hani Yulindrasari, S.Psi., M.Gendst., Ph.D. ahli gender dari Universitas Pendidikan Indonesia, identitas gender itu sesederhana seseorang merasa dan berpikir mengenai siapa dirinya. Contohnya, seseorang yang mengidentifikasi diri sebagai perempuan. Orientasi seksual adalah ketertarikan seseorang dalam konteks romantis dan erotis terhadap orang lain, bukan cinta dalam konteks sayang sesama manusia. Biasanya orientasi seksual terjawab dengan pertanyaan saya tertarik atau jatuh cinta itu kepada siapa? 

Dalam koridor orientasi sekual, cinta itu perasaan tertarik yang juga dapat menimbulkan hasrat seksual. Ekspresi gender adalah hal yang bisa dilihat oleh orang lain, misalnya cara seseorang berpakaian atau menggunakan atribut untuk menampilkan diri. Salah satu contoh jelasnya adalah kenyamanan orang menggunakan pakaian yang feminin atau maskulin.

Dalam pemahaman masyarakat, sering ditemui anggapan bahwa ekspresi gender itu sepaket dengan identitas gender dan orientasi seksual. Padahal kenyataannya tidak seperti itu.

“Ekspresi gender tidak selalu dibarengi dengan identitas gender dan orientasi seksual tertentu. Jadi dapat disimpulkan bahwa yang terlihat secara fisik belum tentu menggambarkan orientasi seksual seseorang. Seseorang dengan pakaian feminin belum tentu mengidentifikasikan diri sebagai perempuan dan tertarik secara romantis dan erotis terhadap laki-laki. Pengetahuan ini harus dipahami oleh semua orang untuk menghindari prasangka dan diskriminasi yang berdasar pada tampilan fisik,” Hani menjelaskan.

Kurangnya pengetahuan mengenai gender yang ditambah sentimen negatif masyarakat terhadap isu gender menimbulkan banyak masalah. Salah satunya adalah krisis identitas, seseorang sulit mengidentifikasikan dirinya sebagai apa. Beberapa orang mungkin sulit mengidentifikasikan diri untuk dikategorikan ke dalam identitas gender dan orientasi seksual yang mana.

“Saya pribadi, ‘apakah sangat penting untuk kita mengidentifikasikan diri dengan kategori identitas gender?’ Hal itu yang pertama kali harus ditanyakan pada orang yang kebingungan. Kalau kita percaya pada pangederism atau keberagaman identitas gender, kenapa kita harus bertanya-tanya atau membatasi diri pada identitas gender tertentu? Jadi kita tidak perlu merasa harus untuk mengidentifikasikan diri,” Hani menanggapi.

“Hidup di Indonesia yang mengharuskan kita bernegosiasi dengan tuntutan-tuntutan sosial, penerimaan di masyarakat, dan lain sebagainya. Ketika kita ditanya oleh orang, misalnya kamu apa? Kita bisa menjawab dengan identitas jenis kelamin yang sudah ada sejak lahir. Identitas gender dan identitas seksual adalah sesuatu yang terpisah,” tambah Hani.

“Lebih baik fokus mengekspresikan diri saja bagi yang kebingungan. Memaksakan untuk mengidentifikasi diri akan merugikan diri sendiri. Dalam satu identitas gender pun keberagamannya luar biasa, kebingungan yang dipaksakan dapat menjebak diri sendiri dalam tuntutan-tuntutan lainnya. Ada banyak sekali sub-identitas gender yang memiliki banyak persyaratan tidak tertulis,” Hani menjelaskan kemungkinan bila memaksakan diri.

Keberagaman seringkali dihadapi dengan sikap kaku dan kepala panas. Konflik seringkali berawal dari perbedaan-perbedaan kecil. Penyebab utamanya menjadi hal yang seolah-olah tidak perlu dipikirkan dan hanya perbedaanlah yang harus dihilangkan.

“Kadang kita salah fokus. Kita fokus ke kategorisasi, lupa bahwa semuanya manusia. Semua orang harus dipandang sebagai manusia, bukan atas identitas-identitas kecil yang membentuknya. Apa pentingnya identitas itu sampai melupakan kualitas individu itu sendiri yang lebih berdampak? Apakah dalam kesulitan kita perlu menanyakan orientasi seksual orang yang akan menolong kita? Kenapa kita mendiskriminasi orang berdasarkan identitasnya, padahal orang tersebut memiliki keahlian-keahlian yang dibutuhkan oleh masyarakat?” Hani menanggapi fenomena di masyarakat. 

“Masyarakat itu menempeli stigma pada kelompok-kelompok nonheteronormatif, padahal kita tahu bahwa pelaku kekerasan seksual itu yang heteronormatif pun banyak. Biasanya kalau ada masalah seperti krisis keamanan atau krisis moral, masyarakat itu cenderung mencari kelompok yang dapat disalahkan. Kelompok LGBTQ+ sering menjadi kelompok yang disalahkan karena tidak mengikuti norma sosial yang dominan, sehingga dianggap menyimpang,” tutur Hani. 

“Masyarakat menyalahkan tanpa peduli benar atau tidak. Mekanisme ini sebetulnya merupakan pertahanan diri masyarakat supaya merasa dapat mengontrol keadaan. Sebenarnya yang dikontrol masyarakat adalah yang dianggap berbeda dan masalah besar yang mengancam mereka masih ada dan nyata.”

Stigma-stigma yang dilekatkan pada teman-teman LGBTQ+ di antaranya adalah gay yang dianggap pemerkosa, fedofil, dan nafsu pada semua orang. Masyarakat lupa kalau kejahatan sifatnya individual, bukan kelompok.

“Mayoritas tidak mau menyalahkan dirinya sendiri, jadi minoritaslah yang jadi korbannya,” tutur Hani.

Permasalahan bukan hanya antara orang heteroseksual dengan homoseksual. Dalam komunitas LGBTQ+ pun ada masalah antar orang di dalamnya. 

“Dalam komunitas gay itu tidak sedikit orang yang homofobik dan transfobik. Bagi saya pemikiran orang-orang yang seperti itu salah. Mereka fasis, menempatkan kelompoknya di atas yang lainnya,” Hani menjelaskan.

“Komunitas itu bagus kalau jadi support system, tapi banyak juga yang toxic system. Terkadang orang dapat diskriminasi dan masalah lainnya dalam komunitas. Seharusnya dalam komunitas, anggotanya dapat belajar kesehatan reproduksi, gender, menganalisis ketimpangan di dunia, membaca banyak buku, membuat kreasi yang membantu perjuangan kultural,” ujar Hani.

Ada penyebab di balik semua permasalahan yang ada. Masyarakat mengenal LGBTQ+ dari TV, berita, dan di film-film dengan penggambaran yang tidak adil. Interaksi tidak langsung ini menimbulkan prasangka sosial. Masyarakat jadi takut, kesal, dan marah. Keadaan ini menjadikan teman-teman LGBTQ+ takut untuk membuka diri karena bayangan orang akan membencinya saat membuka diri.

“Pada kenyataannya tidak begitu. Dalam lingkungan kecil seseorang membuka identitas dirinya, saya jarang mendengar teman-temannya menjauhi dia, kebanyakannya menerima. Teman-temannya menilai dia dari pengalaman selama berteman dan kualitas orang tersebut, prasangka sosial tidak lagi jadi pegangan. Saya sangat mendukung teman-teman yang ingin terbuka pada teman-teman terdekatnya, bukan langsung heboh di sosial media. Walaupun membuka orientasi seksual itu bukan sesuatu yang penting karena selama ini pun orang heteroseksual tidak pernah menyatakan dirinya heteroseksual,” Hani menjelaskan kenyataan.

Hani juga menyampaikan pesan-pesan bagi semua orang untuk merealisasikan ruang aman.

“Poin penting adalah kita sesama manusia. Melihat perbedaan itu melihat diri sendiri, setiap orang butuh penerimaan. Butuh nafkah, butuh relasi, butuh air bersih, dan lainnya. Intinya tidak perlu memikirkan banyak perbedaan, fokus pada kesamaan kita sebagai manusia. Pengetahuan tentang perbedaan bukan untuk mengkotak-kotakan, tetapi untuk memahami kebutuhan masing-masing manusia. Kita tahu perbedaan untuk memfasilitasi dan mengakomodir setiap kebutuhan manusia untuk kehidupan yang lebih baik.”

Ruang Aman Bagi Semua Orang di Unpad

Beberapa teman-teman LGBTQ+ menyebutkan beberapa ruang aman di Unpad, yaitu GirlUp dan PadGHRS. Kita bisa mencontoh mereka dan bertanya lebih lanjut, meskipun PadGHRS hiatus saat ini.

Lembaga lain yang menjamin adanya ruang aman adalah Satgas PPKS. Beberapa kebingungan teman-teman LGBTQ+ adalah tanggung jawab dari Satgas PPKS, misalnya saat mereka ada dalam hubungan berpacaran ada suatu kebingungan saat mereka mendapat tindak kekerasan dari pasangannya, apakah itu termasuk kekerasan seksual atau bukan?

“Satgas PPKS menerima dan memproses semua laporan warga Unpad yang merasa mengalami atau menyaksikan kekerasan seksual. Selama orang itu butuh bantuan, maka akan kami bantu,” jawab Ari J. Adipurwawidjana selaku perwakilan Satgas PPKS.

“Saya rasa semua otoritas di Unpad sudah memiliki pemikiran yang terbuka. Kampus harus menjadi tempat yang aman dan nyaman untuk semua warga Unpad dalam menjalankan kegiatannya masing-masing. Karena itu, perlu ada upaya bersama dalam mencegah dan menangani kekerasan secara umum dalam bentuk apa pun, termasuk kekerasan seksual. Kalaupun kita secara kolektif dapat menciptakan lingkungan yang aman dari rasa takut dan ketidaknyamanan, kita juga harus menyadari bahwa perlindungan yang ada dalam gelembung kampus berbeda dari kenyataan di luar. Rasanya perlu juga teman-teman untuk dilatih dalam menghadapi situasi yang tidak aman,” tambah Ari.

“Unpad itu universitas yang jangkauannya luas. Tentu saja kami akan menyediakan ruang aman untuk semua orang. Namun, untuk menghadapi masalah bersama perlu kekuatan bersama. Lebih baik teman-teman yang bingung dapat berkumpul agar setidaknya tidak merasa sendirian. Dalam keadaan yang sangat membingungkan carilah bantuan, ada GirlUp, HopeHelps, Rumah Aman dari Pusat Riset Gender dan Anak. Apalagi kalau kebingungan itu mengenai kekerasan seksual, tidak ada ruginya melapor ke Satgas PPKS,” tutup Ari.

Teman-teman yang bingung dapat berkumpul agar setidaknya tidak merasa sendirian. Dalam keadaan yang sangat membingungkan carilah bantuan, ada GirlUp, HopeHelps, Rumah Aman dari Pusat Riset Gender dan Anak. Apalagi kalau kebingungan itu mengenai kekerasan seksual, tidak ada ruginya melapor ke Satgas PPKS,” tutup Ari.

[Liputan ini dilakukan dengan kehati-hatian. Tulisan yang diterbitkan sudah sesuai dengan masukan narasumber dan telah disetujuinya. Jika merasa ada informasi yang keliru atau keberatan dengan liputan ini, silakan kirim hak jawab ke alamat surel: ruangamantanpakecuali@gmail.com]

Liputan ini didukung oleh beasiswa peliputan “Yang Muda, Yang Mewartakan” yang diadakan oleh Project Multatuli dan Rutgers Indonesia.

guest

0 Komentar
Inline Feedbacks
View all comments

Artikel Lainnya

Inspirasi Budaya Padjadjaran