Ragam Budaya Ramadan: Warna-Warni Bulan Suci

Marha Adani Putri
130 views
keragaman ngabuburit saat ramadan di Indonesia

Ramadan 1443 H jatuh pada 3 April 2022 lalu. Mungkin menurut sebagian orang, termasuk saya, atmosfer Ramadan tahun ini sama seperti dua tahun ke belakang, alias sama saja seperti bulan-bulan biasa sejak Corona melanda. Bedanya, semua umat Islam, yang tidak berhalangan, menjalankan puasa dan meningkatkan kegiatan-kegiatan religius di bulan ini.

Di Indonesia, untuk menyambut Ramadan, biasanya diadakan pawai obor. Dulu, di Tangerang, anak-anak TPQ di masjid komplek kompak mengenakan baju koko dan gamis putih, keliling komplek sambil membawa obor dan didampingi guru ngaji. Banyak juga tetangga-tetangga yang mudik lebih awal agar bisa menghabiskan waktu Ramadan bersama keluarga di kampung.

Saat sudah memasuki Ramadan, biasanya jajanan-jajanan di pinggir jalan selalu ramai di sore hari karena mereka ramai ngabuburit. Ada penjual gorengan, lontong, kolak pisang, dan makanan ringan lainnya. Kalau ada yang tanya, “Kenapa harus beli, sih? Mending bikin sendiri aja di rumah.”, jawabannya sederhana. Menikmati angin sore dengan pemandangan jingga di langit Ramadan bersama orang tersayang cuma bisa dirasakan satu kali dalam setahun. Kiw.

Berbeda dengan tradisi pawai obor, mudik, dan ngabuburit warga +62, ternyata budaya Ramadan di negara-negara lain juga gak kalah menarik, lho. 

Di Pakistan, ada tradisi yang menurut saya mirip dengan tradisi menjelang lebaran di Indonesia, yaitu Chaand Rat. Tradisi ini biasanya berlangsung di penghujung Ramadan dan hanya dilakukan oleh para muslimah. Mereka berbondong-bondong ke pusat perbelanjaan untuk membeli gelang warna-warni dan mewarnai tangan mereka dengan mehndi atau henna.

Kalau tradisi Chaand Rat di Pakistan hanya dilakukan oleh para wanita, Irak punya tradisi yang hanya dilakukan oleh laki-laki. Mhebies namanya. Tradisi ini merupakan tradisi yang berupa permainan menyembunyikan cincin yang bernama The Ring Game, yang dilakukan setelah berbuka puasa bersama keluarga. Warga Irak cukup aktif, ya, ternyata. Kalau saya, selesai buka puasa langsung duduk di depan laptop sambil nonton film. Alasannya biar makanannya turun dulu, xixi.

Di daerah rumah saya, atau bahkan hampir di seluruh daerah di Indonesia, waktu sahur pasti ramai. Ada sekumpulan warga, biasanya remaja, yang keliling sambil teriak “Sahuuur, sahurr”. Teriakan tersebut juga diiringi dengan kentongan atau alat semacam bedug berukuran kecil yang suaranya luar biasa nyaring. Jujur, saya merasa agak terganggu dengan aktivitas tersebut karena kadang merusak mimpi indah saya bersama Jungkook oppa. Namun, saya juga berterima kasih karena kalau gak ada suara teriakan dan nyaringnya kentongan, pasti saya bisa telat sahur.

Nah, di negara tempat Baalveer tinggal, alias India, ada budaya yang serupa dengan budaya membangunkan sahur di Indonesia, yaitu Seheriwalas atau Zohridaars. Biasanya beberapa orang berjalan di sekitar kota pada waktu sahur sambil mengetuk pintu dan dinding rumah warga dengan tongkat, agar mereka bangun sahur. Namun, tidak hanya sekadar membangunkan sahur, tetapi juga mereka menyebut nama Allah SWT dan Nabi SAW yang dianggap sebagai cara untuk mencari pahala. Keren, ya, di India ada zikir on the road.

Selanjutnya adalah budaya Ramadan di Maldives. Siapa yang tidak tahu Maldives? Sepertinya hanya sedikit di dunia ini yang tidak tahu negara kepulauan dengan keindahan alam yang dimilikinya, terutama kekayaan lautnya. Di Maldives, budaya yang paling terkenal saat Ramadan adalah pembacaan Raivari atau puisi terkait Ramadan oleh seorang penyair, sesaat setelah berbuka puasa. Menurut saya, budaya ini sangat menarik karena dapat menambah ketertarikan mengenai sastra dan syair kuno para pendengarnya.

Selain negara-negara di atas, sebenarnya masih sangat banyak negara lainnya yang memiliki budaya Ramadhan yang sangat unik. Namun, saya tidak dapat memaparkan semuanya karena bisa-bisa jadi setebal novel. Hahaha.

Last but not least, saya mau pamerin tradisi Ramadhan di beberapa daerah di tanah air kita tercinta, Indonesia. Indonesia merupakan negara dengan jumlah Muslim terbanyak di dunia. Makanya gak heran, kalau Ramadhan selalu disambut dengan begitu meriah dengan berbagai budaya atau tradisi di setiap daerahnya.

Di Sumatera Barat, terdapat tradisi bernama Balimau, yakni menyucikan diri dengan mandi di sumber-sumber mata air atau pemandian-pemandian khusus. Tradisi ini memiliki kemiripan dengan tradisi Padusan di Boyolali. Namun, perbedaannya adalah masyarakat akan mengganti sabun mandi menggunakan perasan jeruk. Jeruknya jeruk limau yaa, bukan nutrisari.

Selanjutnya, ada tradisi Ziarah Kubro di Palembang. Ziarah Kubro merupakan tradisi melakukan ziarah ke makam-makam ulama dan pemuka-pemuka agama yang dimakamkan di pemakaman Kawah Tengkurep 3 Illir. Tradisi Ziarah Kubro ini dimaknai sebagai upaya untuk introspeksi diri dan mengingatkan para peserta ziarah akan besarnya peran ulama dan para pemimpin Kesultanan Palembang Darussalam dalam menyebarkan agama Islam.

Kalau dalam suku yang terkenal dengan roti buayanya, yakni Betawi, ada tradisi Nyorog. Nyorog adalah kegiatan membagikan bingkisan ke anggota keluarga atau tetangga dalam rangka menyambut bulan suci Ramadhan. Tradisi ini biasanya dilakukan oleh orang yang lebih muda ke orang yang usianya lebih tua, tujuannya adalah meminta restu untuk kelancaran ibadah puasa selama di bulan Ramadan. Saya paling terharu kalo udah menyangkut hubungan orang tua dan anak gini. Hiks.

Nah, dari tradisi-tradisi Ramadhan di tiga daerah di Indonesia yang saya sebutkan di atas, saya menyimpulkan bahwa tradisi-tradisi Ramadhan di Indonesia banyak yang berkaitan erat dengan Islam itu sendiri. Seperti yang sudah saya katakan sebelumnya, Indonesia merupakan negara dengan jumlah Muslim terbanyak di dunia. Hal ini berpengaruh pada kebiasaan atau budaya masyarakatnya dalam menyambut bulan suci Ramadhan.

Intinya, apapun tradisinya, jangan sampai hilang. Tradisi di setiap negara dalam menyambut dan memeriahkan sesuatu menjadi keunikan tersendiri dari suatu negara, yang tentunya punya jalannya masing-masing untuk membuat setiap momen lebih indah dan tak terlupakan bagi para warganya. Satu hal lagi yang menurut saya paling penting, apa pun tradisinya, menjalankan ibadah dengan semangat dan khusyu’ di bulan ramadhan tetap menjadi tujuan nomor satu di bulan suci ini. Semangat!

guest
0 Komentar
Inline Feedbacks
View all comments

Artikel Lainnya

Inspirasi Budaya Padjadjaran