Perayaan Unik Waisak di Gunung Kailash dan di Indonesia

Diyang Wulandari Rusi
538 views

Hari raya Waisak bisa disebut juga sebagai Trisuci Waisak. Trisuci Waisak ini memperingati 3 peristiwa penting bagi umat Buddha, yaitu kelahiran Pangeran Siddhartha Gautama, tercapainya penerangan sempurna oleh Pertapa Gautama, dan mangkatnya sang Buddha Gautama

Gunung Kailash merupakan gunung dengan tinggi 6.638 meter yang terletak di antara perbatasan India, Tibet, dan juga Tiongkok. Gunung ini  dihuni oleh etnis Tibet yang mayoritas beragama Buddha serta beberapa agama lain seperti Hindu, Islam, kepercayaan Jainisme, dan kepercayaan Bon yang juga menjaga dan memercayai kesucian Gunung Kailash. 

Ritual keagamaan rutin dilaksanakan di gunung ini. Salah satunya adalah perayaan hari raya Waisak. Selama perayaan, umat Buddha di Tibet akan melakukan perjalanan ke Gunung Kailash saat bulan purnama tiba, yang menandakan bahwa perayaan akan segera dimulai. Umat Buddha berkumpul di kaki gunung, mengganti bendera warna-warni yang sebelumnya telah dipasang dengan bendera yang baru. Kegiatan ini juga diiringi doa-doa dengan kepercayaan bahwa setiap hembusan angin akan membawa doa-doa tersebut.

Berbeda dengan perayaan hari raya Waisak di Gunung Kailash, di Indonesia perayaan ini dilaksanakan di Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah. Di Indonesia,  ketika merayakan Waisak, umat Buddha akan mengelilingi Candi Borobudur, melakukan pawai serta berbagai kesenian lain, misalnya ritual pelepasan lampion atau biasa disebut dengan Lentera Puja. Ritual ini dilakukan di kompleks Candi Borobudur dengan menuliskan doa serta harapan pada lampion yang akan dilepaskan.

Tujuan dilakukannya ritual ini adalah menghilangkan hal-hal negatif dari diri manusia serta mewujudkan mimpi dan cita-cita setiap manusia yang tentunya juga beriringan dengan harapan untuk dapat menjalani kehidupan yang lebih baik. 

Dapat disimpulkan bahwa pelaksanaan perayaan hari raya setiap agama atau bahkan agama yang sama bisa berbeda-beda. Banyak faktor yang memengaruhi suatu kebudayaan, seperti perkembangan zaman, kebudayaan nenek moyang yang sudah ada sejak dahulu kala, faktor budaya, letak geografi, dan sejarah. Akan tetapi,  bagaimanapun perayaan sebuah hari raya, menjalankan ibadah dengan semangat dan fokus tetap menjadi tujuan nomor satu. 
Banyak hal unik yang ada di dunia ini, mulai dari budaya, agama, etnis, adat istiadat, dan masih banyak lagi. Bumi ini memang kaya akan sumber daya alam maupun sumber daya manusianya, juga  kebudayaan yang tentu harus kita jaga. Ikut berpartisipasi dalam menjaga setiap budaya yang ada di dunia agar nilai dan estetika yang ada di dalamnya tetap utuh meski cuma dari hati juga sangat berharga.

guest

0 Komentar
Inline Feedbacks
View all comments

Artikel Lainnya

Inspirasi Budaya Padjadjaran