Setelah Satu Bulan Menghilang, Checo Jatinangor Masih Layak Dikenang

Sella Mutiara
169 views
Checo Jatinangor

Bagi saya, jadi mahasiswa angkatan 2020 itu nggak enak-enak banget. Euphoria kebahagiaan seorang maba, dengan keinginan merantau yang menggebu-gebu perlahan habis ditelan semester. 

Masalahnya, saya terlanjur nyaman dengan keadaan yang seperti ini, kecuali cara bersosialisasi yang terkadang bikin saya muak sendiri. Ibaratnya lagi pendekatan, meskipun pada awalnya merasa terganggu, tetapi lama-lama saya terbiasa juga. Lagi pula, bagi saya Jatinangor memang bukan tempat asing, tetapi bukan juga tempat kenangan baik banyak terukir. 

Tepat satu bulan yang lalu (9/1), salah satu tempat legendaris  yang sampai saat ini belum berhasil saya kunjungi pamit undur diri. Setelah tujuh belas tahun kehadirannya (yang disertai berpindahnya lokasi ke beberapa tempat), Checo menyampaikan salam perpisahan lewat akun Instagram yang mereka miliki. 

Kalau dilihat-lihat, tempat ini lumayan terkenal di kalangan mahasiswa Jatinangor, apalagi terdapat banyak ulasan baik mengenai rasa, harga, dan pelayanannya. Bagi saya, hal tersebut cukup membuktikan bahwa tempat ini tidak hanya unggul dari segi interiornya saja, tetapi lebih daripada itu.

Bulan lalu, ribuan komentar memenuhi postingan Instagram @ChecoEatAndChill. Salam perpisahan dan ungkapan rasa sedih diutarakan untuk menunjukkan kekecewaan mereka akan keputusan yang diambil. Setidaknya, itulah yang saya amati melalui banyaknya komentar yang ada.

Salah satunya ungkapan dari akun Instagram @Deni.iskandar_. Ia mengatakan,  “Yaampun tempat ngdate sma mantan wkt kuliah, sirna sudah semua kenangannya…. Aduh, ini sih sudah jelas cukup bikin patah hati, tetapi semoga saja Mas-nya berhasil melupakan kenangan dengan si Mantan, ya, Mas! 

Selain itu, akun Instagram @htrizandra juga mengatakan, Tempat persinggahan pas ulang tahun biar bisa makan gratis walaupun tahun2 berikutnya udah ngga lagi.” Dan masih banyak kekecewaan-kekecewaan lainnya yang belum sempat saya kutip melalui artikel ini.

Menu-menu andalan yang nikmat dengan harga yang katanya relatif bersahabat, cukup membuat tingkat kekecewaan saya–dan mungkin sebagian mahasiswa ‘angkatan korona’ yang belum merasakan perkuliahan secara offline–terhadap penutupan cabang Checo di Jatinangor meningkat. 

Bagaimana tidak? Belum sempat saya mengunjungi tempat legendaris tersebut, tiba-tiba penutupan cabang Checo Jatinangor diumumkan. Padahal, bisa dibilang, Checo merupakan salah satu ikon Jatinangor sejak tujuh belas tahun yang lalu. Artinya, sepanjang itu pula Checo telah melukiskan berbagai kenangan dengan para pengunjungnya. 

Selama ini, Checo telah menjadi tempat mahasiswa menuntaskan berbagai tugas, berdiskusi hangat hingga panas, ajang memanjakan diri dengan makanan fancy di depan Griya-yang kemudian bermutasi ke jalan GKPN, hingga nostalgia kenangan manis dari romansa pelik anak perkuliahan. Hal-hal tersebut tentu menjadi sekumpulan kisah yang membekas bagi para pengingatnya. 

Masalahnya, saya juga ingin (setidaknya sekali) bersinggah di tempat legendaris tersebut; mencicipi menu Mojito atau Choco Lava-nya yang membuat saya cukup penasaran. Kalau dari ulasan yang ada, kedua menu tersebut tampaknya sangat dicintai oleh para pengunjung yang datang.

Selain itu, saya juga ingin (lagi-lagi setidaknya sekali) menghabiskan hari dan melepaskan penat di tempat ini, mungkin sembari dinyanyikan lagu Jamrud oleh mamang-mamang vokalis live band, meskipun sebenarnya saya nggak lagi berulang tahun. 

Kalau bm-nya (baca: banyak mau), sih, saya juga ingin merasakan euphoria menuntaskan tugas dan menjadikan Checo salah satu saksi bisu selesainya skripsi saya nanti. 

Sayangnya, belum sempat keinginan itu terjadi, saya harus menyampaikan salam perpisahan kepada Checo, salah satu tempat legendaris yang belum sempat saya kunjungi. Melepaskan imaji-imaji abstrak mengenai aktivitas yang mungkin akan saya lalui. 

Nyatanya, hal itu tidak sama sekali. Namun, meski diselimuti rasa kecewa dan iri akan kenangan manis orang lain, saya tetap ingin menitipkan sekilas asih. Terima kasih, Checo, untuk tujuh belas tahun yang berwarna bagi para pengingatnya!

Kalau kamu, punya kenangan manis apa di tempat ini? 

guest
0 Komentar
Inline Feedbacks
View all comments

Artikel Lainnya

Inspirasi Budaya Padjadjaran