KRS Tidak Perlu War, Nikmat Mana Lagi yang Saya Dustakan?

M. Roby Septiyan
271 views
KRS WAR

Selain misuh-misuh karena sistem penyesuaian UKT yang masih gitu-gitu aja dari tahun lalu, mahasiswa Unpad pasti disibukan dengan pengisian Kartu Rencana Studi (KRS) pada minggu ini. Kegiatan yang selalu dilakukan pada awal semester baru, baik oleh mahasiswa lama yang harus mengulang mata kuliah dengan adik tingkatnya, maupun mahasiswa baru yang mata kuliahnya masih paketan.

Bicara soal KRS di awal semester sekarang, saya sempat bingung mengenai survei yang harus dituntaskan sebelum mengisi KRS. Pasalnya, dalam survei ini mahasiswa diharuskan membandingkan perkuliahan daring dengan luring. Selain itu, terdapat juga pertanyaan yang berkaitan dengan praktikum. Bagaimana harus mengisinya? Wong kuliah secara luring dan kegiatan praktikum belum pernah saya alami. Namun, demi kelancaran mengisi KRS tentunya saya tetap harus mengisi survei tersebut.

Kebingungan itu tidak berlangsung lama, saya berupaya membayangkan bagaimana kiranya kuliah luring. Kemudian, hasil mengimajinasikan kuliah luring saya bandingkan dengan kuliah daring. 

Entahlah setepat apa jawabannya karena dalam pikiran saya, survei hanyalah sebuah formalitas, tetapi semoga saja Unpad tidak mengadakan survei untuk sekadar formalitas. Saya tidak akan membahas hal itu lebih lanjut.

Pada kesempatan kali ini, saya ingin berbicara mengenai war KRS yang selalu terjadi saat pengisian KRS. Fenomena war KRS menarik perhatian saya setiap awal semester baru. Begitupun di awal semester ini–di luar isu UKT dan survei sebelum pengisian KRS. Hal tersebut terjadi karena saya belum pernah ikut meramaikan fenomena ini. Selain itu, terkadang war KRS menjadi salah satu biang dari down-nya server Unpad pada semester-semester sebelumnya.

Perhatian saya tersebut, berhasil menimbulkan rasa ingin bertanya, berempati, sekaligus bersyukur. Terlebih setelah saya memperhatikan misuh-misuh mahasiswa Unpad di jagat Twitter.

Setelah membaca beberapa menfess, saya mencoba memahami war KRS. Sesuai dengan makna kata “war”, maka war KRS sepertinya ritual peperangan yang dijalankan oleh mahasiswa dengan penuh hawa persaingan untuk mendapatkan mata kuliah yang diampu dosen tertentu, tentunya dengan segala pertimbangan yang pastinya harus menguntungkan mahasiswa.

Pertama, saya ingin mengajukan pertanyaan kepada teman-teman dari prodi yang rutin meramaikan war KRS. Apakah semua mahasiswa pasti mengikuti war KRS tiap tahun tanpa pernah absen? Jika memang ya, maka mahasiswa pada prodi tersebut benar-benar memiliki jiwa yang besar. Kalau saya yang harus melakukannya tentu saja malas, begadang menunggu hari berganti demi mendapatkan posisi paling pertama dan peluang paling menguntungkan untuk mengisi KRS. Apalagi ritual ini dilakukan pada awal semester setelah liburan yang diisi dengan bermalas-malasan dan kegiatan menyenangkan lainnya–tentunya saya berbicara mengenai liburan yang normal. Kemalasan saya bertambah karena adanya risiko kekecewaan.

Kedua, saya mencoba berempati kepada teman-teman dari prodi yang rutin meramaikan war KRS. Meskipun saya tidak pernah melakukan ritual war krs, tetapi saya mencoba merasakan apa yang teman-teman rasakan. Setelah membayar UKT untuk perkuliahan ternyata perjuangan teman-teman belum selesai, teman-teman harus beradu cepat dengan sahabat sendiri agar satu semester kedepan sesuai sesuai dengan keinginan. 

Sangat berat rasanya menahan kantuk untuk mendapatkan mata kuliah yang diinginkan. Apalagi begadang bukanlah syarat satu-satunya untuk mengikuti war ini. Server yang tiba-tiba down dapat menjadi rintangan yang lebih melelahkan lagi. Saya membayangkan menjadi teman-teman yang merasakan was-was, khawatir, dan sebagainya–yang kemunculannya sering dibareng dengan bercucurannya keringat dingin. Bayang-bayang kekecewaan juga rasanya tidak luput menghantui teman-teman semua

Ketiga, saya ingin bersyukur menjadi mahasiswa dari prodi yang tidak pernah mengadakan ritual ini. Hal ini tentunya sangat saya nikmati karena proses adaptasi dari libur ke waktu perkuliahan saya rasa cukup dan tidak terburu-buru. Selain itu, keadaan awal semester yang tentram, damai, dan tidur yang cukup menjadi suatu nikmat yang tak bisa didustakan sebelum tugas-tugas menyerang untuk kemudian mengubah keadaan. Iklim kesantaian saya rasakan secara kaffah sebagai mahasiswa.

Sehat selalu bagi teman-teman yang menunaikan war KRS. Mudah-mudahan diberikan kemudahan sehingga dapat menjawab pertanyaan saya dalam artikel ini.

guest
0 Komentar
Inline Feedbacks
View all comments

Artikel Lainnya

Inspirasi Budaya Padjadjaran