Kebetulan di Balik Gerobak 

Revan Raditya Ramiro
89 views
','

' ); } ?>

Ical adalah anak yang kesepian. Ia selalu dikucilkan oleh temannya di sekolah. “Anak mami” kerap jadi sapaan bagi bocah kurus itu. Namun, ada satu sumber semangat yang menyinari hidup bocah itu. Yap, buku astronominya lah yang kerap menjadi pelipur jenuh atas perlakuan para perundung. 

Sepulang sekolah, Ical selalu berkata kepada ibunya bahwa harinya sangat menyenangkan. Ia mengaku memiliki banyak teman baik yang selalu bersamanya dengan riang gembira—walaupun kenyataannya berbanding terbalik. Sang ibu hanya tersenyum sembari mencuci wadah bekal anaknya yang masih menyisakan nasi goreng masakannya.

Suatu hari, Ical terlambat bangun—hal yang jarang ia alami. Ia hanya sempat mencuci muka dan berganti baju. Setelah meneguk segelas air, ia segera menggowes sepeda Wimcycle miliknya dengan laju. Ibu Ical meneriaki bekalnya yang tertinggal di atas meja. Namun, apa boleh buat, Ical sudah melaju sangat cepat hingga tak lagi tertangkap mata. Sesampainya di kelas, Ical baru sadar bahwa bekalnya tertinggal di rumah. Sisa hari itu ia jalani dengan perut keroncongan, diiringi ledekan teman-teman membentuk senandung yang sungguh memekakan batin bocah kurus ini. Sampailah di ujung hari, Ical pulang dalam keadaan lemas.

Amat kebetulan, Ical melihat seorang penjual bakso tua yang sedang mangkal di bawah pohon mangga rindang, diiringi angin sepoi-sepoi dan sinar mentari siang yang hangat. Ical berlari kecil, merebahkan sepedanya, dan langsung memesan semangkuk bakso, lengkap dengan es teh manis. Bapak penjual bakso itu tersenyum dan mulai melayani Ical dengan baik. Lima menit kemudian, ia kembali dengan membawa pesanan Ical. Ical lantas makan dengan gemetar karena sedari tadi menahan lapar, lalu diteguknya es teh manis berukuran sedang itu. Ical tersedak sebab ia amat lahap menyantap baksonya. Penjual bakso tertawa kecil dan mengingatkan agar tidak tergesa-gesa saat makan. Ia menatap Ical dengan lembut, dan bertanya,

“Apakah baksonya enak?”

Ical tanpa ragu mengangguk, disusul dengan sendawa yang tiba-tiba. Ical tertegun malu. 

Ditengah nikmatnya Ical menyeruput kuah bakso, sang penjual bercerita bahwa Ical mirip dengan almarhum anaknya yang meninggal pada usia yang sama dengan Ical sekarang.

Ical bertanya dengan lugu, “Apa penyebab anak bapak meninggal?”

Bapak tua itu lekas mengusap dahi yang berkeringat dengan sapu tangan merah muda yang melingkar di bahunya yang kurus dimakan usia. Lalu ia duduk sambil menatap langit yang sebentar lagi sore.

“Nama anak Bapak, Danu, Dek,” ucap bapak penjual bakso.

“Wah, anak Bapak—kalau boleh tau—masih SD juga?” tanya Ical dengan lugu. 

Bapak penjual bakso lekas menoleh ke arah Ical dan mengeluarkan secarik kertas yang terlipat-lipat. Ical segera meraih kertas itu. Alangkah terkejutnya ia saat melihat gambar di sana. Gambar tata surya yang lengkap dengan planet, bintang , matahari, dan bima sakti. Gambar itu seketika menghipnotis Ical yang perutnya kini sudah terbebas dari rasa lapar. 

“Ini yang menggambar anak Bapak?” tanya Ical. 

“Ya, Dek” Jawab bapak penjual bakso dengan senyum kecil yang penuh haru. 

Bapak penjual bakso melanjutkan, “Ia suka sekali dengan luar angkasa. Dulu, ia ingin saat besar nanti bisa menjadi ilmuwan atau astronot yang mengharumkan nama Indonesia. Tapi… sayangnya….” 

“Kenapa, Pak?” tanya Ical penasaran. 

“Ia meninggal dunia karena perlakuan temannya, Dek. Saat Danu berjalan ke kantin sekolahnya, ia diteriaki teman-temannya. Bapak tahu persis alasannya—karena kaus kaki yang dipakai anak itu berbeda sebelah, atau sepatunya yang sudah jebol di bagian solnya, sehingga memancing olokan teman-temannya. Namun, yang sampai sekarang masih membuat Bapak terluka adalah ketika salah satu temannya usil melemparkan bangkai kecoak ke arahnya. Danu seketika melompat terkejut dan berlari tanpa sadar hingga ia terpeleset. Kepalanya terbentur batu bata di dekat titik ia terjatuh, Dek.” Cerita sang bapak, diiringi suara yang agak gemetar. 

Ical termenung, tak bisa berkata-kata. Ia seketika merasa iba kepada bapak itu dan memutuskan untuk berhenti bertanya. Ical meratapi apa yang dialami mendiang anak bapak penjual bakso tersebut. 

“Dek, kamu mengingatkan Bapak kepada Danu. Mungkin kamu juga pintar hal-hal berbau luar angkasa,” ucap penjual bakso sambil menyeka matanya yang masih berlinang air mata. 

Ical langsung mengeluarkan buku astronomi kesukaannya dari balik tas biru miliknya. Ia lantas menunjukkan buku itu kepada bapak penjual bakso. Tak berselang lama, tangis sang bapak pecah sembari memeluk Ical yang merasa heran. Namun, melihat bapak tua itu menangis—entah karena terharu atau rindu, Ical seolah ikut merasakan apa yang bapak itu rasakan. Sebuah kebetulan yang indah. Ical bertemu sang bapak penjual bakso di kala lapar, sementara sang bapak bertemu pelanggan yang begitu mirip dengan almarhum anaknya.

Penulis: Revan Raditya Ramiro
Editor: Ririn Ramandhani

Subscribe
Notify of
guest

0 Komentar
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments

Artikel Lainnya