Hantu di FIB Tidak Perlu Bayar UKT untuk Merasakan Fasilitas Toilet Kotor FIB

Irna Rahmawati
405 views

Hai, para mahasiswa baru (maba) FIB. Sini, saya bisiki kabar baik kuliah daring di telingamu.

“Kamu tidak perlu merasakan penderitaan susah payahnya buang air di FIB.”

Bagi saya pribadi, keberadaan toilet jauh lebih penting daripada gedung rektorat yang sering dijadikan tempat foto-foto untuk maba sekalipun. Iya, sungguh jauh lebih penting. Bahkan ketika tulisan ini diedit oleh mbak Tia dan bapak Bintang, mereka setuju dan bilang bahwa tolak ukur tidak betahnya seseorang terhadap suatu tempat, bisa diukur dari seberapa kamu nyaman dengan toilet di tempat itu.

Lantas, bagaimana dengan toilet di FIB?

Begini, sejauh yang saya tahu, setiap gedung di FIB masing-masing mempunyai dua toilet yang diperuntukkan untuk perempuan dan laki-laki. Jumlah totalnya kurang lebih ada 14, tapi itu belum termasuk toilet yang ada di Gedung D. Ada satu toilet yang paling sering saya gunakan, yaitu toilet perempuan yang berada di dekat bangsal. Letaknya nggak jauh dari pintu belakang Shokudo (kantin Pusat Studi Bahasa Jepang). 

Kondisi toilet di seluruh gedung fakultas kita ini hampir serupa, kotor dan bau. Fasilitasnya pun kurang memadai. Mulai dari beberapa pintu toilet yang rusak dan nggak bisa dikunci, corat-coret pesan cinta, hingga persediaan air yang seringkali nggak ada, baik di keran maupun di wastafelnya. Bahkan, gayung atau ember di beberapa toilet pun berulang kali raib, entah dibawa pergi sama siapa, ke mana, dan untuk apa.

Bukannya saya ingin menjelek-jelekkan bangunan tempat saya menimba ilmu, tapi itulah kenyataannya. Kenyataan seringkali lebih menyakitkan bukan? Apalagi bagi kamu yang ketika sekolah diiming-imingi kebaikan kampus oleh kakak kelasmu yang mengunjungi sekolahmu untuk mempromosikan kampus, akan terasa lebih menyakitkan.  

Para mahasiswa FIB yang sedang membaca ini juga pasti bakal ngangguk-ngangguk tanda setuju, dijamin. Tapi kita berdoa saja sih, siapa tahu para petinggi yang-insyaallah-mudah-mudahan-mari-kita-aminkan-saja kelak membaca tulisan saya, jadinya mau introspeksi dan mulai membenahi fasilitas kampus yang paling dibutuhkan ini, hehehe.

Balik lagi ke toilet bangsal, begitulah saya menyebutnya, salah satu toilet yang mewah bagi saya. Sebab, hanya toilet bangsal lah yang punya cermin besar dan juga wastafel walaupun nggak berfungsi banyak juga sih, hehe.

Tidak seperti toilet-toilet pada umumnya yang punya penerangan seterang masa depan saya (aamiin), toilet bangsal ini punya pencahayaan yang nggak begitu bagus, cenderung suram. Tentu hal ini mendukung suasana ngeri dan pas banget rasanya jadi sarang makhluk-makhluk tak kasatmata.

Di antara beberapa bilik di toilet bangsal (saya nggak ingat persis berapa, yang jelas lebih dari empat bilik), saya yakin nggak ada yang berani menggunakan bilik paling ujung. Karena dibandingkan bilik-bilik lain apalagi yang dekat pintu masuk, bilik paling ujung ini penerangannya paling buruk alias gelap banget.

Begitulah kiranya penderitaan yang saya alami saat kemarin kuliah offline. Eits, tapi penderitaan tentang toilet tidak sampai di situ saja ferguso. Selain penderitaan kasatmata (tidak ada air, gayung dan sebagainya), penderitaan tak kasat mata pun pernah saya alami.

Semuanya berawal ketika saya hendak pergi buang air kecil di toilet ini tanpa ditemani kawan saya yang tengah lahap makan siang di Shokudo.

Saya bukan orang yang penakut, apalagi waktu itu keadaan ramai dan cuacanya cerah. Tapi saya tidak menduga bahwa toilet bangsal itu bakal kosong dan nggak ada siapa pun, ditambah suasananya cukup… mengerikan. Karena ‘alam sudah memanggil’, akhirnya saya abaikan perasaan takut ini.



Pertama-tama, saya pastikan dulu bilik yang saya tempati punya gayung dan kerannya nggak macet. Total empat bilik depan yang saya cek, tapi akhirnya saya putuskan untuk menggunakan bilik sebelah kiri urutan kedua.

Ketika saya sedang melaksanakan kewajiban, tiba-tiba saya mendengar langkah seseorang yang terdengar dari ujung toilet.

“Tap, tap, tap, tap.”

Padahal jelas-jelas tadi nggak ada siapa-siapa selain saya.

Pergerakan saya terhenti, hanya kedua bola mata saya saja yang bergerak panik, mencoba memastikan suara yang barusan saya dengar itu bukan halusinasi. Namun, suasana ternyata kembali hening seketika. Kesimpulannya, itu halusinasi saja. Mudah-mudahan.

Ketika saya sedang sibuk menggunakan celana, saya mendengar suara air dari arah wastafel, jelas sekali. Ada yang sedang menggunakan keran wastafel.

“Cuuuurrrr”

Karena memang sangat jelas, saya jadi agak lega karena tandanya saya nggak sendiri lagi di toilet bangsal itu. Saya nggak berpikir macam-macam saat itu. Suara keran itu lalu berhenti ketika saya akan pergi keluar.

Dalam hati, saya merasa senang karena ternyata keran wastafelnya berfungsi. Jadi, saya bisa cuci tangan dulu sebelum lanjut menyantap makan siang. Tapi, ketika saya keluar lalu mencoba menyalakan kerannya, jeng jeng jeng….ternyata nggak menyala! Oh, mungkin hanya salah satu wastafel saja yang berfungsi, saya masih mencoba berpikir positif.

Hingga akhirnya saya mengecek semua kerannya satu persatu, tapi nggak ada satupun yang menyemburkan air. Lalu setelahnya saya ngapain? Tentu saja saya putuskan buat cepat-cepat keluar, tanpa berpikir aneh-aneh lagi.

Saat saya tengah menuliskan pengalaman saya ini, sekarang, saya sadar bahwa nggak ada permukaan wastafel yang basah atau terciprat air, semuanya kering. Saya juga ingat, kalau waktu itu pun nggak ada yang masuk ke dalam toilet. Karena biasanya, kalau pintu toilet bangsal dibuka, cahaya matahari dari luar akan menelusup masuk ke ruangan toilet yang agak gelap itu.

Saya juga yakin, pasti nggak ada yang menggunakan toilet itu selain saya. Ingat, empat bilik depan saya kosong. Dan sisanya, saya yakin nggak ada orang yang menggunakannya karena nggak ada gayung, apalagi ember.

Pertanyaanya, siapa yang beruntung betul dapat cuci tangan di keran wastafel toilet bangsal itu? Sementara saya tidak sama sekali. Di mana sila kelima Pancasila untuk saya!

Hmm, tapi mungkin saja, keran wastafel toilet bangsal hanya akan berfungsi khusus untuk “mereka” yang bahkan tidak diakui sebagai warga negara Indonesia, apalagi mahasiswa FIB. Kita yang bayar UKT, malah mereka yang menikmati fasilitas. Huh! Curang!

Editor: Tatiana Ramadhina

guest
0 Komentar
Inline Feedbacks
View all comments

Artikel Lainnya