Guest Star Elit, Teknis Acara Sulit: BFF 2022, Kompetisi Porseni atau Sekadar Acara Closingan?

Ananda Bintang
560 views

Kegagapan menyelenggarakan acara besar pasca dua tahun dikurung di rumah akibat pandemi agaknya menjadi suatu fenomena yang menggejala akhir-akhir ini. Acara-acara tahunan yang sebelum pandemi berjalan dengan lancar, berubah menjadi keos tak teratur dan bahkan berujung pada munculnya korban jiwa. Kegagapan tersebut juga terasa pada perhelatan akbar Big Force Festival (BFF) yang menjadi ajang tahunan BEM Kema Unpad. 

Hal tersebut setidaknya terlihat dari cuitan-cuitan di akun menfess Draft Anak Unpad (DAU). Seperti yang sudah banyak orang tau, DAU acapkali berperan sebagai media yang seringkali menjadi acuan suatu permasalahan di Unpad. Beberapa cuitan dari akun tersebut akhirnya merepresentasikan keresahan-keresahan Kema Unpad yang memang terjadi, seperti salah satunya adalah kekacauan paripurna panitia BFF 2022 dalam menyelenggarakan kompetisi olahraga dan seni. 

BFF sendiri awalnya bernama Forsi, suatu program kerja BEM Kema Unpad di bawah Departemen Seni Budaya dan Olahraga yang mempertemukan mahasiswa antar fakultas untuk beradu keahlian di bidang kesenian dan olahraga yang sudah dihelat dari tahun 2006. Nama tersebut baru berubah pada tahun 2020, karena adanya penggabungan program kerja BEM lain yaitu Market Town, ITalks, dan Forsi itu sendiri. Meskipun bergabung, tujuan utama dari BFF masih sama dengan Forsi yaitu ajang pekan seni dan olahraga antar fakultas. 

Keluhan dari sorak-sorai pemain ke-12  

Sejak bergulir 3 Oktober, keluhan dan kritik sudah banyak dilayangkan kepada panitia BFF. Salah satu kritik tersebut diungkapkan oleh Koordinator Lapangan Ultras Sastra, Mohammad Haicael. Menurutnya, BFF tahun ini tidak sigap dan serius terutama dalam merancang teknis acara. Hal ini terlihat pada awal parade sebagai pembuka perhelatan BFF. Awalnya, parade pembuka tersebut akan dipindahkan ke tanggal lain karena hujan dan tidak adanya plan b. Dengan desakan berbagai peserta parade, akhirnya parade berhasil diselenggarakan di Bale Santika yang semula acara tersebut akan dihelat di di GOR Jati.

“Panitia nggak punya ketegasan untuk menentukan keputusan apakah suatu acara atau pertandingan batal atau jadi diselenggarain. Selain itu, urang ngeliat panitia justru lebih fokus ke acara penutupan alih-alih ke penyelenggaraan kompetisi. Soalnya nggak keitung banget kesalahan yang dilakukan panitia apalagi di bidang olahraga. Paling fatal kemarin waktu futsal FIB lawan Faperta, salah satu pemain ada yang cedera cukup parah, dan panitia ga nyiapin tandu. Alhasil pemain itu digotong sama pemain-pemain FIB dan Faperta. Itukan bisa jadi satu indikasi bahwa panitia ga becus nyiapin acara olahraga,” ujar Cael, sapaan akrabnya. 

Tidak siapnya panitia dalam menyelenggarakan kompetisi juga terlihat dari jadwal pertandingan yang tidak beraturan. Ada yang terlalu mepet atau bahkan jarak pertandingan terlalu jauh. Hal ini bisa dilihat dari jadwal futsal babak delapan besar dengan semifinal yang hanya terpaut dua hari pada akhir Oktober, sementara final futsal ditempatkan pada akhir November. 

“Urang sebagai mahasiswa yang pernah ngerasain Forsi 2019, emang lebih bagus Forsi 2019 acara teknisnya. Lebih rapih dan terstruktur, cuma emang waktu itu yang bar-bar antar supporter saling berantem. Sekarang justru kebalikannya, suporter tertib dan terstruktur, panitia sama sekali kacau,” pungkas Cael saat ditemui di PSBJ Sabtu (12/11) lalu.

Sejalan dengan Cael, Muhammad Ihsan Asy-Syakur atau akrab disapa Syakur juga merasakan hal serupa. Suporter dari Ultras Sastra ini bahkan sempat mengobrol langsung dengan penanggung jawab BFF terkait ketidakbecusan mereka dalam menyelenggarakan acara. Namun menurutnya, panita seakan-akan mendengar keluhan dan masukan dari berbagai pihak hanya sebatas angin lalu dan pada acara selanjutnya tidak banyak perubahan yang signifikan. 

Selain itu, menurut Syakur, protokol paling mendasar terkait acara dengan banyak orang seperti body checking untuk keamanan tidak pernah dilakukan. Ini menjadi indikasi bahwa panitia benar-benar tidak mengerti perihal teknis acara yang mengundang banyak orang. Ditambah acara tersebut berkaitan dengan fisik dan tensi yang tinggi, sehingga kericuhan bisa saja terjadi jika tidak ditanggulangi secara baik.  

“Sempet denger ada yang bawa pisau lipat, emang cuma buat menggertak supporter lawan dan ga ada yang melakukan kekerasan sih untungnya, tapikan itu harusnya jadi tanggung jawab panitia untuk meminimalisasi hal tersebut dengan melakukan body checking. Ini sama sekali engga ada,” ucap Syakur. 

Kengawuran panitia di bidang olahraga, ternyata tidak terlalu menular di bidang seni. Hal ini diungkapkan oleh Putri Iran, selaku Kepala Departemen Seni BEM Gama FIB Unpad yang menjaring berbagai delegasi peserta Seni dari mahasiswa FIB untuk BFF. Menurutnya, lomba seni BFF terbilang aman karena banyak tangkai lomba yang diselenggarakan secara online.

“Sebenernya bidang seni lumayan aman dibanding olahraga. Tapi ada dua cabang lomba yang menurutku lumayan kacau, yaitu mural dan solo vocal. Kalau mural kacaunya itu dari mulai tanggal ngasih bahan-bahan mural dan bahan muralnya itu sendiri ga sesuai ekspektasi peserta. Nah, kalau solo vocal setauku sempet ancur si sound systemnya. Selain dua itu, kebanyakan kekacauan panitia itu kalau ngasih informasi ngedadak banget,” ujar Puran, sapaan akrabnya. 

Panitia bingung, peserta tambah bingung

Tak hanya dari suporter dan pihak ketiga, peserta lomba menjadi salah satu pihak yang banyak dirugikan. Hal ini seperti yang diungkapkan Tiara Amalia, setter Voli dari FIB. Menurutnya, sejak dari awal pembuka pertandingan voli, beberapa kali panitia melakukan keselahan seperti adanya miskomunikasi dan perubahan jadwal mendadak. Puncaknya adalah ketika FIB bertanding melawan PSDKU. Ketidaksiapan dan ketegasan panitia dalam menentukan jadwal pertandingan, membuat FIB menang walk out, karena PSDKU tidak bisa hadir saat pertandingan karena tidak adanya bus untuk pergi ke Jatinangor dan sama sekali tidak dicari solusinya oleh panitia. 

“Perubahan jadwal yang mendadak membuat banyak pemain dirugikan karena telah melakukan persiapan dari jauh-jauh hari. Selain itu, panitia juga sama sekali nggak ikut membantu ketika ada permasalahan perubahan jadwal. Ini juga yang akhirnya membuat masalah dengan PSDKU diselesaikan tanpa bantuan panitia sama sekali,” ujar Tiara ketika dihubungi Pena Budaya melalui WhatsApp Senin (14/11) lalu. 

Selain itu, pada tahun ini terdapat program pertukaran mahasiswa MBKM. Salah satu mahasiswa yang mengikuti program tersebut di Unpad adalah A, mahasiswa yang sedang melakukan pertukaran di FIKOM Unpad. Ia mendengar banyak keluhan dari rekan mahasiswa pertukaran lain yang awalnya mengikuti beberapa rangkaian lomba BFF, seperti voli. Awalnya, temannya itu diperbolehkan untuk mengikuti voli oleh panitia, namun pada babak delapan besar, tiba-tiba ia tidak diperbolehkan untuk bermain dengan alasan bukan mahasiswa asli Unpad. Meskipun begitu ia tetap bermain karena diizinkan wasit bukan oleh panitia. 

“Di awal udah diiznin main dan bahkan udah memenuhi persyaratan seperti KTM dan Pacis. Bahkan dari orang rektorat udah turun tangan untuk mengizinkan temen saya main, tapi panita tetep ga ngizinin pas masuk ke delapan besar dengan alasan bahwa BFF ditujukan untuk mahasiswa Unpad. Inikan diskriminasi jadinya ke mahasiswa pertukaran yang sebenarnya derajatnya sama dengan mahasiswa Unpad ‘asli’. Nah, masalah ini akhirnya selesai karena tim voli temen saya kalah di babak delapan besar dan anehnya sampe sekarang pun ga ada itikad dari panitia untuk menjumpai kami. Yang disuruh malah panitia yang ga punya wewenang dan ga tau apa-apa,” ujar A saat diwawancara melalui WhatsApp Selasa (15/11) lalu. 

Tanggapan panitia

Akumulasi dari banyaknya permasalahan tersebut akhirnya membuat BEM Kema Unpad mengeluarkan suatu upaya untuk menampung kritik dan saran dari Kema Unpad bertajuk TownHall. Upaya tersebut setidaknya terlihat dari postingan Instagram BEM Kema Unpad yang membuka wadah aspirasi untuk menampung kritik dan saran. Namun pertanyaan muncul, setelah ditampung lalu apa? 

Ketua BEM Kema Unpad 2022, Virdian Aurellio mencoba menjawab pertanyaan itu. Menurutnya, kritik dan masukan yang tertampung ke BEM akan langsung disampaikan pada panitia BFF dengan mengintervensi secara langsung melalui monitoring dan evaluasi yang hampir diadakan setelah acara bahkan setiap minggu. Hal ini juga disebabkan BFF merupakan bagian dari program kerja BEM, sehingga BEM Kema Unpad juga turut bertanggungjawab atas beberapa kesalahan yang terjadi. 

“Ada masalah teknis yang akhirnya membuat jadwal pertandingan berubah, seperti hujan, jadwal praktikum dan lain sebagainya. Tapi, kami berkomitmen untuk selalu berkomunikasi ke atlet dan fakultas setiap ada perubahan jadwal yang mendadak, termasuk soal masalah lain yaitu keterlibatan mahasiswa MBKM”, ujar Iyang sapaan akrabnya. 

Menurut Iyang, sedari awal sebenarnya mahasiswa MBKM itu dilarang untuk bermain dan seluruh fakultas telah sepakat. Namun, ia mendapat laporan ada fakultas yang “nakal” dan memperbolehkan mahasiswa MBKM main. Hal ini akhirnya menimbulkan kesalahpahaman. Meskipun pada akhirnya, Iyang mengaku telah berbincang dengan rektorat, mahasiswa MBKM, dan fakultas agar memperbolehkan mahasiswa MBKM untuk bermain. 

“Ini artinya kami mendengar kok, aspirasi dari temen-temen, meskipun masalah MBKM ini juga ada kesalahan dari panitia yang kurang monitoring,” tegasnya ketika diwawancarai Pena Budaya Jumat (18/11) lalu. 

Pena Budaya telah berusaha untuk melakukan wawancara melalui direct message Instagram kepada Ketua BPH dan PO BFF, namun dari Senin (14/11) hingga tulisan ini dimuat belum ada tanggapan. Acara penutup BFF sendiri akan diadakan pada tanggal 26 November 2022 di Unpad dengan mengundang TBA, Teddy Adhitya, Olegun Gobs, KMF Fikom, The Panturas dan band luar negeri, FUR.  

BACA JUGA Tulisan lain dalam rubrik Liputan dan Berita atau tulisan Ananda Bintang lainnya.

guest
0 Komentar
Inline Feedbacks
View all comments

Artikel Lainnya

Inspirasi Budaya Padjadjaran