Gerakan Mahasiswa dan Problematika di Dalamnya

Ananda Bintang
542 views
Webinar HMPS Ilpol X LPPMD “Gerakan Mahasiswa: Sebuah Refleksi Kritis”

“Dalam kultur gerakan, BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) sebenarnya tidak diperlukan ada,” ujar Rolip Saptamaji, seorang mantan aktivis mahasiswa Unpad yang menjadi salah satu pembicara dalam webinar kolaborasi Himpunan Mahasiswa Ilmu Politik Unpad (HMPS ILPOL) dan Lembaga Pengkajian dan Pengabdian Masyarakat Demokratis (LPPMD) Unpad bertajuk “Gerakan Mahasiswa: Sebuah Refleksi Kritis” pada Minggu (5/12) lalu.

Menurut Rolip, gerakan mahasiswa sebenarnya berada dalam ranah abu-abu, antara resmi dan tidak resmi. BEM berada dalam kanal resmi mahasiswa sebagai jalur khusus ke rektorat, meskipun selalu diakhiri dengan lobi dan negosiasi. Sementara gerakan tidak resmi biasanya bersifat aksi massa yang lebih sulit berkompromi dengan pihak tertentu (khususnya kampus) dibanding BEM.

“Kultur gerakan tidak diciptakan oleh BEM tapi dibangun oleh 3 hal, yaitu, aksi massa, diskusi dan publikasi tulisan. 10 tahun yang lalu di Unpad masih sering ada zine di setiap kelompok-kelompok kecil mahasiswa dan ada polemik saling berbalas tulisan. Aliansi mahasiswa yang dilakukan UGM, sebenernya nggak asing-asing juga di Unpad waktu dulu. Kultur gerakan itu selalu ada di Unpad, cuma mungkin sekarang melemah aja,” tambah Rolip.

Ia juga menjelaskan bahwa aksi mahasiswa tidak bisa dijadikan sentral atau goals karena sifatnya yang sementara. Gerakan Mahasiswa biasanya terkesan spontan dan menunggu momentum. Meskipun cukup banyak perubahan secara ekonomi politik yang pernah dilakukan sebelumnya, sifat temporer dan spontan tersebut membuat gerakan mahasiswa menjadi tidak konsisten dan melahirkan hal-hal yang sensasional alih-alih esensial. Menurutnya, gerakan mahasiswa hanyalah gerbang untuk menuju gerakan-gerakan yang sebenarnya.

Selain Rolip Saptamaji, webinar ini juga turut menghadirkan tiga pembicara lain, yaitu; Georgious Benny, Kepala Departemen Proaksi BEM FISIP Unpad 2021; Surya Anta, Aktivis Pro-Demokrasi; dan Mustabsyirotul Ummah, Dosen Fisip Unpad.

Diskusi yang berlangsung selama tiga jam ini, dibuka oleh pemaparan dari Georgious Benny. Menurutnya, kultur gerakan mahasiswa sekarang terhambat oleh penokohan, terlalu banyak gimik, inkonsistensi gerakan, dan cenderung meromantisasi gerakan masa lalu.

“Konsistensi gerakan itu harus sebagai gelombang bukan gelembung. Sama seperti gelombang di laut, kadang kecil, kadang menimbulkan ombak sampai tsunami. Perlu membangun eskalasi gerakan hingga akhirnya menemukan momentum agar tuntutan bisa terwujud. Jangan sampai gerakan jadi sama seperti gelembung yang mudah menyebar tapi mudah hilang,” jelas Benny.

Surya Anta menambahkan, bahwa gerakan mahasiswa memiliki peran untuk menciptakan atmosfer politik yang bisa merangkul seluruh gerakan guna mendobrak kebuntuan politik saat ini, meskipun di tengah keterbatasan seperti yang sudah dijelaskan oleh pembicara-pembicara sebelumnya. 

“Gerakan mahasiswa memiliki peran untuk menumbuhkan kesadaran politik pada gerakan lain seperti gerakan buruh misalnya yang punya problem dalam menumbuhkan kesadaran politik sesama buruh,” imbuh Surya.

Perspektif lain datang dari Mustabsyirotul Ummah yang berbicara dari sudut pandang akademisi. Menurutnya, secara teoritis gerakan mahasiswa tidak akan pernah mati meskipun pasti akan terdapat fase naik turun di dalam gerakannya. Setidaknya ada empat hal yang membuat gerakan mahasiswa masih bisa relevan sampai masa depan.

“Pertama, mahasiswa punya kecenderungan memiliki gagasan baru. Kedua, mahasiswa diberi kebebasan berekspresi lebih oleh Universitas dibanding misalnya buruh atau pejabat negeri, walaupun sistem pendidikan saat ini justru menjadi bagian dari praktek politik itu sendiri. Ketiga, memiliki tradisi aktivisme politik di dalam mahasiswa. Keempat, akan selalu terdapat mitos bahwa mahasiswa adalah corong dari masyarakat,” jelasnya.

Perlu digaris bawahi juga dalam setiap gerakan mahasiswa, menurut Mustabsyirotul Ummah, memiliki cara gerak dan penyampaiannya masing-masing yang unik tergantung konteks setiap zamannya. Meskipun masih memiliki relevansi, dalam praktiknya, gerakan mahasiswa masih memiliki tantangan dan problem tersendiri.

“Gerakan mahasiswa cenderung elitis merasa istimewa di tengah masyarakat. Sifat eksklusivitas dalam gerakan mahasiswa juga bisa menjadi problem. Sebab tokoh-tokoh yang dianggap vokal dalam gerakan mahasiswa justru malah merendahkan mahasiswa lain yang tidak sejalan dengannya. Hal tersebut juga diperparah dengan adanya bias gender di dalam gerakan mahasiswa itu sendiri yang masih didominasi laki-laki,” pungkasnya.

guest
0 Komentar
Inline Feedbacks
View all comments

Artikel Lainnya

Inspirasi Budaya Padjadjaran