Film Yuni: Benturan Tradisi dan Realitas Perempuan Masa Kini

Ita Rosita Setianingsih
588 views
Resensi Film Yuni

Film Yuni merupakan film hasil garapan Kamila Andini yang turut mengangkat isu-isu perempuan di dalamnya. Film berdurasi 122 menit ini telah resmi tayang di bioskop pada penghujung tahun 2021 lalu. Yuni berkisah tentang seorang remaja berumur 16 tahun yang tidak tahu secara persis apa yang ingin dia lakukan dengan hidupnya, tetapi ia tahu bahwa ia tidak siap untuk mengikuti tradisi dan menjadi seorang pengantin remaja.

Mengangkat tema yang serius, Kamila Andini dan timnya bahkan sampai melakukan perjalanan panjang sejak tahun 2017 lalu demi melakukan berbagai riset langsung. Berbagai riset dan upaya lainnya dilakukan untuk mendukung permasalahan yang ditampilkan dalam film yang terinspirasi dari kisah nyata ini.

Kamila Andini dalam film garapannya kali ini memberikan kepercayaan kepada para aktor dan aktris muda yang cenderung belum terlalu berpengalaman dalam dunia perfilman untuk memerankan para tokoh dalam film Yuni. Meski begitu, kualitas akting mereka tidak mengecewakan dan tidak boleh dipandang sebelah mata. Arawinda Kirana, aktris pendatang baru yang memerankan tokoh Yuni ini telah berhasil menyabet beberapa penghargaan dalam waktu yang begitu singkat berkat kepiawaiannya dalam berakting. Meskipun seorang pendatang baru, ia terlihat sangat apik dan total dalam memerankan tokoh utama dari film Yuni

Dalam tulisan ini saya ingin menghaturkan ucapan selamat kepada Kamila dan timnya atas berbagai prestasi yang telah dicapai oleh film Yuni. Mulai dari menjadi film pertama dari Asia Tenggara yang berhasil menjuarai Platform Prize di Toronto International Film Festival (TIFF), hingga menjadi wakil dari Indonesia untuk maju ke ajang Piala Oscar. Keberhasilan Kamila Andini mengantarkan sebuah cerita yang menyentuh hati para juri di TIFF dengan mengangkat persoalan sosial untuk mendobrak patriarki yang telah lama mengukung kaum perempuan memang harus diacungi jempol!

Yuni adalah Potret Kehidupan yang Amat Dekat

Yuni adalah potret kehidupan masyarakat yang dekat dengan kita, kira-kira sedekat Bandung-Jatinangor, tapi sayangnya belum berhasil mendapatkan atensi lebih. Latar tempat yang diambil dari film ini bukan tempat yang jauh dari kota, tepatnya di Serang, Banten. Sesuai dengan latar tempatnya bahasa yang digunakan dalam film ini pun menggunakan perpaduan bahasa Jawa-Serang-Sunda. Penggunaan bahasa daerah tersebut menjadi salah satu faktor yang membuat film ini terasa semakin dekat dengan kehidupan masyarakat Indonesia. 

Film Yuni menampilkan cerita dengan sangat sederhana. Konflik yang diangkat dalam film ini tidak ditambah atau dikurangi, apalagi sampai dibuat-buat. Saking sederhananya, saya berpikir kalau film ini seperti film dokumenter karena isinya benar-benar mengambarkan keseharian seorang siswi SMA biasa. Bagaimana kehidupan Yuni sebagai seorang siswi tingkat akhir di SMA, seorang remaja yang masih suka bersenang-senang bersama para sahabatnya, sampai akhirnya terbentur pada kenyataan bahwa ia sedang berdiri di persimpangan antara mimpi untuk melanjutkan pendidikan atau pasrah mengikuti tradisi dan menikah di usianya yang masih sangat belia. Hal ini yang kemudian menjadi perbincangan sekaligus pertanyaan besar di masyarakat. Apakah perempuan memang terlahir hanya sebagai penerima takdir ? Lantas, bagaimana dengan kebebasan untuk menentukan jalan hidupnya sendiri ?

Mungkin sebagian besar dari kita menolak pernyataan tersebut, termasuk saya. Akan tetapi pada kenyataannya tidak semua perempuan dapat dengan mudah menyuarakan penolakannya terhadap takdir yang datang kepada mereka. Bahkan meskipun mereka ingin, mereka tetap tidak bisa menyuarakannya. Hidup di tengah-tengah tatanan masyarakat yang terpaku pada stigma dan mitos warisan para pendahulu bukanlah hal yang mudah. Yuni, tokoh utama dalam film ini, menjadi salah satu contoh yang mewakili dari banyaknya kasus seperti ini yang sayangnya tidak disorot media mana pun. 

Yuni telah berhasil menolak dua lamaran lelaki, tetapi pada saat lamaran ketiga datang, cicit-cuit dari orang-orang sekitarnya mulai terlampau bising. Kurangnya edukasi dan kepercayaan terhadap mitos yang masih kuat telah memupuk stigma bahwa yang seharusnya dilakukan perempuan setelah lulus sekolah, ya, menikah. Berlanjut setelah menikah idealnya perempuan adalah yang berhasil ‘memproduksi’ anak. 

Indeks keberhasilan seorang perempuan dalam pandangan masyarakat pada umumnya dinilai dari bagaimana ia bisa melayani suami, cekatan dalam beberes rumah, mendidik anak dengan baik dan sabar. Semua hal soal pernikahan yang Yuni dengar dari pengalaman temannya, Suci, menjadi alasan lain selain mimpinya yang membuat Yuni ragu untuk menerima lamaran lelaki. 

Tokoh Suci yang diperankan oleh Asmara Abigail juga punya kisah yang menarik. Ia menjadi contoh dari kasus perempuan yang menjadi korban dan terjebak dalam hubungan toksik serta penuh kekejaman. Namun, ia tetap menjadi pihak yang terhunus oleh segala macam penghakiman seolah-olah ia adalah pihak yang bersalah dan bertanggung jawab atas apa yang terjadi pada dirinya sendiri.

Film ini juga menampilkan realitas lain yang cukup ironi. Di saat Yuni yang notabene belum dewasa dan emosinya pun belum stabil, orang tua yang semestinya dapat menjadi tumpuan atau petunjuknya saat merasa kehilangan arah tidak dapat memberikan arahan yang tepat untuknya. Alih-alih dapat memantapkan hati dan keputusan, Yuni malah mendapatkan kepasrahan karena orang tuanya menyerahkan keputusan sepenuhnya kepada Yuni. Bukan tanpa alasan, orang tuanya ingin Yuni bahagia dengan pilihannya sendiri, tetapi di sisi lain sang Ibu pun skeptis akan sekolah tinggi dapat memberikan kehidupan yang lebih ‘menjanjikan’.

Film ini tidak hanya seputar perempuan, meski garis besarnya seperti itu. Pak Damar yang diperankan oleh Dimas Aditya menjadi tokoh lain yang menambah bumbu dari film ini. Pak Damar adalah salah satu contoh dari seseorang yang memiliki orientasi seksual yang berbeda dan dianggap menyimpang oleh masyarakat. Intinya, film ini banyak menampilkan potret-potret penyimpangan sosial yang terjadi. Entah disadari atau tidak, mereka sudah melakukannya dan membingkai orang lain dalam hal itu.

Hebatnya lagi, Kamila Andini sebagai director juga banyak memberikan pesan yang subliminal dalam Yuni. Dimulai dari hadirnya budaya-budaya yang menjadi identitas dari daerah yang menjadi tempat untuk syuting filmnya, penyampaian makna melalui puisi-puisi Sapardi Djoko Damono, sampai perihal penggunaan warna ungu yang dominan. 

Melansir beautynesia.id, Kamila Andini sebagai sutradara dalam film ini memberikan penjelasan bahwa film ini didominasi oleh warna ungu karena terinspirasi dari kehidupan nyata, tepatnya dari salah seorang temannya semasa SMA yang berperilaku unik seperti tokoh Yuni. Namun, warna ini dianggap identik dengan simbol isu perempuan juga.

Dalam film Yuni ada beberapa puisi karya Sapardi yang turut ditampilkan, di antaranya “Yang Fana adalah Waktu”, “Berjalan ke Barat Waktu Pagi Hari”, “Aku Ingin”, dan “Hujan Bulan Juni”. 

Salah satu alasan yang Kamila jelaskan adalah hadirnya puisi “Hujan Bulan Juni” dalam film ini yang dimaknai sebagai hujan yang tidak turun pada musimnya. Seperti Yuni, seorang remaja yang harus dewasa sebelum waktunya. Sementara pada puisinya yang lain adalah bagaimana Yuni dan Yoga sebagai digambarkan sebagai remaja yang sedang mencari romantisasi dalam sajak atau bagaimana mereka, terutama Yuni, menemukan dirinya dalam bait-bait yang ia baca.

Bikin Penonton Gagal Paham

Bagaimana Kamila Andini mengarahkan film ini membuat beberapa orang gagal paham, terutama mereka yang hanya menonton trailer filmnya saja. Beberapa dari penonton akhirnya berpikir bahwa Kamila tidak konsisten menggarap film ini. Bagaimana bisa di satu sisi ia mengangkat isu perempuan, tapi yang ditampilkan dan dari hasil camera movementnya sendiri malah  terlihat seperti film ini mengobjektivikasi perempuan?

Entah bagaimana, tapi saya rasa perlu ada yang diluruskan. Dalam film Yuni Kamila ingin memberikan pemahaman kepada para penonton atas hal-hal krusial yang sayangnya masih dianggap sepele. Menurut saya pribadi, apa yang telah kalian tonton itu bukan sebuah usaha untuk mengobjektivasi atau memberikan kenikmatan kepada beberapa oknum lewat veyeourisme (sebuah kenikmatan yang didapatkan ketika seseorang diam-diam menatap orang lain secara seksual). Justru itu adalah bagian dari bagaimana Kamila ingin menunjukkan bahwa baik perempuan maupun laki-laki itu memiliki hak yang sama: hak yang penuh atas tubuhnya sendiri. Jadi, jangan sampai disalahartikan kalau ini adalah bentuk dari visual experience atau semacamnya.

Terakhir, ada satu cuitan di internet yang membuat saya enggak habis pikir, yang intinya dia bilang kalau ‘jadi maksut dari adegan seksnya itu menjadi salah satu alternatif untuk keluar dari belenggu patriarki’. Oh ya, jelas, kalau begitu dia harus menonton ulang film ini untuk kemudian memaknai ulang isinya. 

Yuni dan semua tokoh dalam film ini adalah contoh dari banyaknya kasus nyata yang tidak terpublikasi. Mereka adalah korban dari segala sistem yang ada seperti patriarki, kepercayaan pada mitos, dan stigma yang melekat dalam kehidupan masyarakat. Kamila hanya mencoba untuk menampilkan semua apa adanya dan tidak berusaha untuk menampik satupun kenyataan yang ada. 

Yuni mungkin bukan film pertama yang mengangkat isu perempuan, tetapi menjadi salah satu film yang dengan berani mengangkat isu ini dan mengemasnya dengan cara yang berbeda. Secara keseluruhan, mulai dari durasi sampai penampilan dari para pemainnya menurut saya sudah pas dan sesuai dengan porsinya. Tidak ada yang kehilangan atau kekurangan porsi. Film ini sangat bagus untuk ditonton. Bukan karena track recordnya atau karena telah dinovelisasi, tapi karena memang punya cerita dan alur yang menarik untuk ditonton dan ada banyak hal yang bisa diambil dari film ini. 

BACA JUGA Tulisan lain dalam rubrik Resensi dan tulisan Ita Rosita Setianingsih lainnya.

guest
0 Komentar
Inline Feedbacks
View all comments

Artikel Lainnya

Inspirasi Budaya Padjadjaran