Film Penyalin Cahaya: Suara dari Para Penyintas Kekerasan Seksual

Marha Adani Putri
285 views
Penyalin Cahaya

Film yang berjudul Penyalin Cahaya dirilis pertama kali dalam skala internasional di BIFF (Busan International Film) pada 8 Oktober 2021 dan tayang di Netflix pada 13 Januari 2022. Film ini merupakan film panjang pertama yang dibuat oleh sang sutradara, yaitu Wregas Bhanuteja dan berhasil memenangi 12 Piala Citra di FFI (Festival Film Indonesia) 2021.

Film bergenre drama thriller misteri ini mengangkat isu kekerasan seksual. Tokoh utama dalam film tersebut diperankan oleh Shenina Cinnamon. Hal ini menjadi sesuatu yang baru bagi Shenina karena ia baru pertama kali menempati posisi sebagai pemeran utama dalam sebuah film selama 4 tahun berkarir sebagai aktris.

Penyalin Cahaya bercerita tentang Sur, seorang mahasiswi tahun pertama yang sukarela menjadi perancang web untuk kelompok teater di sebuah universitas. Berkat usahanya pertunjukan teater kelompok tersebut mendapat banyak penonton. Untuk merayakan kemenangan, kelompok teater tersebut mengadakan pesta di rumah salah satu anggota. Sur juga diajak dan turut menghadiri pesta tersebut. Ia mengajak Amin (Chicco Kurniawan), sahabatnya, yang merupakan karyawan di salah satu tempat percetakan yang dekat dengan universitasnya.

Dalam pesta tersebut, Sur mengabaikan peringatan dari ayahnya untuk tidak meminum alkohol. Ia meminum beberapa gelas alkohol hingga akhirnya tidak sadarkan diri. Ia  kemudian bangun di pagi hari dalam keadaan tidak dapat mengingat hal apa pun yang terjadi pada dirinya kemarin malam. Hidupnya benar-benar berubah di pagi itu. Sur harus kehilangan beasiswanya karena foto dirinya dalam keadaan mabuk telah tersebar luas di media sosial dan diketahui oleh pihak kampus. Setelah kejadian tersebut, Sur mencoba mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Ia kemudian mencari bukti untuk mendapatkan kembali beasiswanya yang dicabut dengan bantuan Amin. Ia menemukan fakta bahwa ia telah menjadi korban pelecehan seksual.

Kejadian yang dialami Sur dalam film bisa dikatakan mirip dengan perjuangan para penyintas kekerasan seksual di Indonesia yang sangat sulit mendapat keadilan. Pihak instansi tertentu seharusnya memiliki kewajiban mendampingi mereka dalam mengusut kasus pelecehan seksual yang mereka alami. Namun, kenyataannya instansi tersebut seringkali menolak memberikan pendampingan dengan alasan untuk menjaga nama baik. Bahkan keluarga yang menjadi tempat berlindung pertama seketika tidak bisa diandalkan dan menyalahkan korban yang ‘mengundang’ terjadinya pelecehan seksual.  

Kesulitan dalam mendapat keadilan atas kasus kekerasan seksual yang dialami oleh para penyintas salah satunya karena kesadaran masyarakat terutama pihak yang berwenang di ranah hukum dalam keberpihakan terhadap korban masih kurang. Hal-hal seperti cara berpakaian sering dijadikan alasan untuk tidak membela korban, sehingga mereka harus berjuang sendiri. Perjuangan para penyintas pun terkadang sia-sia, karena pelaku biasanya merupakan orang yang berkuasa seperti yang dialami oleh tokoh Sur.

Jika penonton menghayati film ini, sebenarnya Penyalin Cahaya tidak berfokus pada tujuan untuk menjadi tontonan yang menghibur. Penyalin Cahaya menyebarkan kesadaran tentang isu kekerasan seksual yang bisa terjadi kepada siapapun tanpa memandang gender atau pun cara berpakaian, serta keberpihakan kepada para korban atau penyintasnya secara simbolis. Kualitas akting para pemeran yang ada dalam film ini juga menjadi faktor penting dalam terciptanya emosi di setiap adegan, sehingga pesan dari film dapat disampaikan dengan baik. 

Sepanjang film, mungkin penonton hanya fokus pada akting para pemain dan alur cerita. Namun, selain dua hal tersebut ada beberapa simbol yang mungkin tidak disadari oleh penonton, yang justru merupakan bagian penting dari film ini. Dalam film, diperlihatkan kelompok teater Mata Hari menampilkan pertunjukan mengenai kisah Medusa dan Perseus.

Dalam mitologi Yunani, Medusa mengalami pemerkosaan oleh Poseidon. Namun, Medusa justru mendapat hukuman dari Athena yang kemudian membuatnya menjadi monster berkepala ular. Meskipun Medusa dianggap jahat, ia sebenarnya adalah simbol perlawanan terhadap patriarki. Dari kisah Medusa, lagi-lagi kita mendapat gambaran mengenai kondisi penyintas-penyintas kekerasan seksual di Indonesia. Posisi mereka seolah diputar balik, sehingga dipandang menjadi seseorang yang ‘jahat’ sehingga kasus yang mereka alami berakhir tanpa diusut tuntas. Selanjutnya ada Perseus, manusia setengah dewa diberi tugas untuk memenggal kepala Medusa. Dalam adegan teatrikal menjelang akhir film, tokoh Rama (Giulio Parengkuan) yang merupakan pelaku pelecehan seksual, muncul sebagai Perseus yang berhasil membungkam Medusa dan saudara Gorgon-nya sebagai simbol kemenangan patriarki.

Selain kisah Medusa dan Perseus, adegan penyemprotan nyamuk demam berdarah (fogging) muncul beberapa kali. Fenomena ini sangat lekat dengan slogan 3M (Menguras, menutup, mengubur), seolah-olah menggambarkan kasus pelecehan seksual yang kerap menguras emosi serta tenaga para korbannya lalu ditutup dan dikubur begitu saja. Fenomena fogging dalam film juga menggambarkan betapa sulitnya penyintas kekerasan seksual untuk mengungkap kebenaran dan terpaksa harus tutup mulut, seperti terhalang oleh asap yang tebal.

Tujuan dibuatnya sebuah karya, termasuk film, tidak lepas dari memberi amanat atau pesan kepada para penikmatnya. Film ini mengandung pesan bahwa setiap lingkungan memiliki sisi gelapnya masing-masing, begitu juga dengan dunia perkuliahan. Kita dipertemukan dengan orang-orang yang memiliki sifat dan niat yang berbeda dan tidak dapat ditebak. Maka dari itu, kita harus meningkatkan kewaspadaan dalam menghadapi kekerasan seksual dan jangan pernah takut untuk menentang hal yang salah.

BACA JUGA Tulisan lain dalam rubrik Resensi dan tulisan Marha Adani Putri lainnya.

guest
0 Komentar
Inline Feedbacks
View all comments

Artikel Lainnya

Inspirasi Budaya Padjadjaran