Di Balik Layar Festival Ilmu Budaya: Sebelum Lampu Sorot Menyala

Anisa Putri Balqis
110 views
','

' ); } ?>

Menelusuri dinamika dan kerja kolektif di balik Festival Ilmu Budaya 2025 Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran.

Sebelum sorotan lampu menari di atas panggung, sebelum tepuk tangan dan sorak gembira menggema memenuhi udara, ada puluhan pasang tangan yang bekerja dalam diam. Festival Ilmu Budaya (Fesbud) 2025 bukan sekedar perayaan tahunan. Ia adalah hasil dari puluhan rapat, ratusan pesan grup, dan kerja senyap puluhan mahasiswa yang memilih menjadi tulang punggung di balik cahaya.

Tahun ini, Festival Ilmu Budaya (Fesbud) hadir dengan tema besar SENARA, akronim dari Satu Arena, Seribu Makna. SENARA diusung untuk menjadi identitas dari Fesbud 2025, menjadi pananda sekaligus pembeda dari Fesbud tahun sebelumnya maupun yang akan datang. 

“Walaupun mereka bertarung membawa nama himpunan, semua akan kembali ke satu titik: Fakultas Ilmu Budaya,” ujar Akmal Abdullah Faqih, Project Officer Fesbud 2025.

Bagi Faqih, Satu Arena Seribu Makna melambangkan ruang bersama untuk berproses dan berkompetisi, menggambarkan beragam ekspresi yang muncul dari tiap individu. SENARA menjadi pengingat bahwa perbedaan di FIB bukan hal yang memisahkan, melainkan sumber kekayaan yang justru menyatukan.

Jika tahun-tahun sebelumnya Fesbud identik dengan pertandingan olahraga, Fesbud tahun ini menghadirkan sesuatu yang baru. Kini aspek seni kembali diangkat melalui Hari Seni yang digelar pada 26 September 2025. Dalam satu hari penuh, mahasiswa FIB memamerkan karya-karya mereka dan membaca puisi di gedung aula PSBJ.

“Inovasi baru ini sebenarnya sudah muncul di tahun 2023 yang silam. Namun tahun ini kami mengadopsinya kembali, tetapi dijadikan satu hari penuh,” jelas Najma.

Tujuan utama Festival Ilmu Budaya tetap sama: menjadi wadah bagi mahasiswa FIB untuk menyalurkan minat dan bakat, baik di bidang olahraga maupun seni. Namun, rangkaian acara tahun ini terlihat lebih terencana dan menyeluruh. “Tahun ini lebih berfokus pada seni juga, tidak hanya olahraga. Selain itu, Fesbud dirancang untuk menjadi ajang pencarian bakat untuk ke skala universitas,” tambah Najma.

Target utama Festival Ilmu Budaya 2025 adalah mahasiswa FIB yang memiliki minat dan bakat di bidang olahraga maupun seni. Antusiasme peserta dan penonton pun melampaui ekspektasi panitia, menunjukkan bahwa acara ini berhasil menarik perhatian dan partisipasi lebih besar dari yang diperkirakan.

Meski terlihat lancar dari luar, proses penyelenggaraan tidak selalu mudah. Pelaksanaan Festival Ilmu Budaya tahun ini diwarnai berbagai dinamika. Acara sempat mengalami beberapa kali perubahan jadwal hingga penundaan yang juga tercantum di unggahan media sosial panitia. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa proses penyelenggaraan di balik layar tidak selalu berjalan mulus. Beberapa informasi mengenai tempat perlombaan dan kegiatan bahkan baru dapat disampaikan kepada himpunan satu hari sebelum pelaksanaan, termasuk untuk acara penutupan.

Meski begitu, koordinasi antarpanitia tetap terjaga. Mereka memiliki sekretariat tersendiri di luar lingkungan fakultas yang menjadi tempat rapat rutin. Lokasi sekretariat ini hanya diketahui oleh panitia, menjadi semacam ruang rahasia yang mempererat hubungan dan kekompakan di antara mereka. Tempat ini menggambarkan bahwa kebersamaan panitia tidak hanya terjalin karena tanggung jawab, tetapi juga karena rasa percaya dan solidaritas yang kuat.

Persiapan Festival Ilmu Budaya 2025 hanya berlangsung selama 70 hari, menjadikannya salah satu masa persiapan tersingkat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Waktu yang terbatas tersebut mendorong panitia untuk bekerja lebih cepat dan efisien, sekaligus menjadi bahan evaluasi agar penyelenggaraan di tahun berikutnya dapat berlangsung lebih optimal dan terencana.

Najma Athira Hanana, selaku Vice Project Officer, juga menyampaikan harapannya. “Aku sendiri melihat yang sekarang udah upgrade dari dua tahun kebelakang. Jadi tahun depan semoga lebih meriah lagi dan ditunggu-tunggu oleh warga FIB,” ujarnya.

“Tahun ke tahun tentunya membutuhkan perkembangan. Untuk itu tahun depan penyelenggaraannya perlu lebih dioptimalisasi, persiapannya harus lebih matang dan baik, dan berlangsung lebih lama,” ujar Akmal Abdullah Faqih, selaku Project Officer

Festival Ilmu Budaya 2025 resmi dimulai pada 8 September dan ditutup pada 10 Oktober. Di balik setiap sorotan panggung dan sorak penonton, ada kerja panjang dan kolaborasi erat yang membuat semua itu mungkin terjadi.

Subscribe
Notify of
guest

0 Komentar
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments

Artikel Lainnya