Eksistensi UKM Bidang Olahraga di Jurusan Saya yang Mengkhawatirkan

M. Averyl Aziz
405 views

Bisa dibilang artikel ini ada kaitannya dengan tulisan saya sebelumnya. Masih seputar olahraga, keresahan, dan kenyataan yang tidak bisa diselewengkan begitu saja. Maaf saya memberi judul yang kurang jelas, bukan karena tidak enak menyebut jurusan, hanya malas saja. Saya rasa pembaca hanya perlu sedikit bersabar dan nanti juga akan tahu dengan sendirinya.

Resah yang saya rasakan sudah lengket hingga rasa-rasanya diperlukan ruang untuk mengkritik. Sebagai informasi, Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) yang ada di jurusan saya, yang saya tahu, sekitar ada 5, yaitu: badminton, majalah (pers sepertinya), tari, futsal, dan teater. Dari kelima UKM itu, kembali lagi dari karakter FIB yang nyeni, dan jurusan saya yang nyastra banget, sudah jelas yang paling menonjol dan aktif adalah teater. Oh, mungkin satu-satunya yang menonjol dan aktif. Pengelolaan teater pun jelas lebih baik dibanding UKM di bidang-bidang lainnya, terutama olahraga. Keberadaan UKM olahraga ini pun menurut saya sangat tak berguna.

Berdasarkan fakta di lapangan, saya berpikir, lantas buat apa ada UKM olahraga kalau UKM-UKM itu pun tak dikelola dengan baik dan benar? Ngapain sih tetap maksain ada UKM olahraga kalau cuma nambah beban Departemen Minat dan Bakat? Tidak perlu hipokrit karena saya rasa semua orang di jurusan saya sudah paham situasi ini. Lantas, buat apa keberadaan UKM-UKM olahraga ini, juga UKM lainnya yang saya rasa perannya tertutup oleh superioritas teater?

Saya tak masalah bila kenyataan memang teater menjadi UKM utama dan ekslusif bagi anak-anak jurusan saya, tak masalah sama sekali. Yang saya permasalahkan, keberadaan UKM olahraga (khususnya yang saya geluti) dan UKM lain menjadi tidak ada fungsinya untuk mengembangkan minat dan bakat di bidangnya. Karena sebagian besar sudah tertarik dan tak bisa menampik kemegahan UKM teater ini.

Saya membahas eksistensi UKM-UKM ini saat perkuliahan luring, karena pada masa daring sekarang saya rasa semuanya menjadi tidak ada gunanya, sama sampahnya. Saya merasa benar-benar useless saat tahun lalu masih menjadi staf di Departemen Minat dan Bakat (Mikat) Himpunan, di mana tugas Mikat adalah menjadi penanggung jawab dan mengurusi UKM-UKM di jurusan.

Kebetulan saya menjadi Penanggung Jawab (PJ) futsal saat itu. Dan benar saja, sangatlah tidak ada gunanya keberadaan UKM futsal ini. Mengadakan program latihan susah, mau ikut kompetisi nggak ada dana dan pemainnya. Dana juga memang sulit sekali, yang di atas maunya prestasi melulu, padahal di olahraga itu harus proses, nggak bisa langsung juara. Dari pola pikir saja sudah nggak nyambung, nggak mengerti, ya susah kan kalau udah nggak satu frekuensi.

Memang mayoritas mahasiswa di jurusan saya berada di teater sehingga tak ada orang tersisa untuk ikut UKM-UKM lain. Paling-paling ya disela-sela tak ada garapan, baru mau main futsal, atau badminton. Tapi, kalau mau menuntut piala, mental seperti ini sampai Dajjal turun juga mustahil bakalan juara. Tapi saya tak masalah soal mayoritas yang memilih teater, toh itu hak perseorangan. Yang saya tanyakan, kenapa masih ada saja UKM-UKM yang jelas nggak aktif ini? Dan kepengurusannya pun nauzubillah, nggak banget. Mending dihapus atau dibekuin biar jelas nggak membebani Mikat. Lalu buat apa ada KAK (Kerangka Acuan Kerja) yang ditulis dalam suatu Program Kerja (proker)? Bukankah dilaksanakannya proker itu adalah kewajiban dan harga diri suatu departemen?

Contoh kasus yang menggambarkan mirisnya antusiasme dalam bidang olahraga di jurusan saya terlihat pada salah satu proker Mikat yang acaranya perlombaan olahraga (futsal, basket, badminton, volly, catur, dan lain-lain) antar angkatan. Miris sekali. Olimpiade olahraga malah kayak bonding Mikat. Iyalah, wong yang ngerancang acaranya panitia, yang panitiain panitia, dan yang main juga panitia. Sedih sekali melihat antusiasme yang sangat parah ini jika dikaitkan mengapa UKM olahraga di jurusan saya useless.

Juga di media sosial himpunan yang saya lihat benar-benar kurang mengakomodir olahraga dibanding seni, sangat timpang. Salah satu contoh di highlight instagram himpunan jelas paling kiri tulisannya “MIKAT”, tapi isinya adalah proker seni Karnaval Sastra, dan dokumentasi Olimpiade yang sudah beberapa tahun yang lalu. Proker yang saya jadi panitia di dalamnya tidak disimpan dengan baik dokumentasinya di Instagram. Memang, sih, ada pengumuman pemenang di feeds, tapi saya rasa hanya formalitas saja, betul?

Lain waktu saya pernah melihat lomba serupa yang diadakan jurusan Ilmu Pemerintahan di FISIP, terlihat antusiasmenya sangat seru. Yang main banyak (bukan panitia lagi yang main) sampai-sampai fun game aja berantem antar angkatan, suporter cewek-cewek heboh macam nonton Liga Mahasiswa, dan acaranya rapi. Tapi, balik lagi, beda fakultas beda cerita dan prioritas hobi.

Saya paham, alangkah baiknya jika ingin sepenuhnya mengubah, saya harus terjun langsung dan mungkin, menyusun grand design untuk mengubah hal besar ini. Tapi, rasa-rasanya saya hanya resah dan ingin berbagi pengalaman saja. Bisa jadi pembelajaran, atau guyon, terserah. Yang pasti, semua orang punya pilihan, dan tahu apa yang mesti dilakukan bahkan saat merasa tak berguna sama sekali.

guest
0 Komentar
Inline Feedbacks
View all comments

Artikel Lainnya