Covid-19 Belum Usai, Muncul Virus Lain. Perlukah Panik?

Marha Adani Putri
76 views

Pada 5 April 2022 lalu, Badan Kesehatan Dunia (WHO) telah menerima laporan dari Inggris mengenai 10 kasus hepatitis akut pada anak-anak yang belum diketahui penyebabnya. Hepatitis akut ini dianggap ‘misterius’ lantaran virus hepatitis tipe A, B, C, D, dan E tidak ditemukan sebagai penyebab dari penyakit tersebut.

Di Indonesia, kemunculan kasus hepatitis akut bermula dari adanya tiga pasien anak-anak yang dirawat di RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo Jakarta, dengan dugaan hepatitis akut yang belum diketahui penyebabnya ini. Tiga pasien tersebut meninggal dunia dalam kurun waktu yang berbeda, dengan rentang dua minggu terakhir hingga 30 April 2022.

 Saat pertama kali mengetahui berita buruk ini, tentunya ada perasaan sedih bercampur lelah. Di tengah wabah Covid-19 yang saat ini masih berstatus endemi, muncul lagi virus yang tidak kalah berbahaya. Khawatir pandemi datang lagi, sebab virus baru ini pun dapat menyebar melalui pernapasan–sebuah ciri yang sama dengan Covid-19. Ditambah lagi, sebagian warga Indonesia mengeklaim dirinya “kebal” sehingga tidak menanggapi kasus virus baru ini dengan serius. Seiring meluasnya berita ini, anak-anak dan remaja yang mengaku orang tuanya tergolong strict, apalagi soal kesehatan, sepertinya harus mempersiapkan lagi jiwa dan raga untuk bertempur melawan kehidupan yang monoton di rumah–huftttt kehidupan yang membosankan.

Namun, di tengah ramainya berita ini, saya jadi terpikir akan suatu hal. Kemunculan virus hepatitis akut misterius ini menimbulkan tanya di benak saya, “Mau apa lagi, sih? Memang yang kemarin belum cukup?” Mimpi buruk pandemi Covid-19 yang telah merenggut korban lebih dari 6 juta jiwa sudah menimbulkan kekacauan dan kekecewaan di seluruh belahan dunia, dan kurang dari dua bulan yang lalu, bibit dari kekacauan dan kekecewaan yang lain itu lahir.

Pasti ada sebagian orang yang curiga akan hal ini. Pasti sebagian mengira bahwa ada dalang di balik kejadian yang membuat anak strict parents makin stress ini. Padahal jika dipikir-pikir lagi, apakah ada keuntungan yang didapat kalau benar ini adalah perbuatan pihak-pihak tertentu? Ya, mungkin memang ada. Namun mereka tidak boleh mengharap harumnya surga jika memang benar berniat jahat. Bercanda ya, jangan dibawa serius, nanti pusing xixi.

Tapi omongan saya yang tadi gak bercanda-bercanda banget, sih. Saya tetap percaya akan suatu hal. Di balik kehebatan manusia yang semakin hari semakin luar biasa dan terus berkembang–terutama dalam bidang kesehatan, ada hal-hal buruk yang juga ikut berkembang. Jadi, manusia semakin hebat setiap harinya bahkan hingga hari ini, bukanlah tanpa alasan. Hal-hal buruk yang terjadi di kehidupan manusia pun bisa jadi akibat perbuatan manusia itu sendiri, yang pada akhirnya malah merealisasikan peribahasa “senjata makan tuan.” Itu lah pentingnya adab sebelum ilmu, ya ges ya.

Kembali lagi ke hepatitis akut misterius. Hal ini tidak hanya memunculkan kekhawatiran baru bagi masyarakat Indonesia, tetapi juga dugaan-dugaan yang memicu pro-kontra di sosial media. Hal ini terjadi karena sebuah jurnal berjudul SARS-CoV-2 Vaccination Can Elicit a CD8 T-Cell Dominant Hepatitis dipercaya membuktikan keterkaitan antara vaksin Covid-19 dengan munculnya hepatitis akut misterius ini. Sederhananya, orang-orang jadi berspekulasi bahwa hepatitis akut ini disebabkan oleh vaksin Covid-19.

Oleh karena beredar luasnya berita ini, Dokter Spesialis Patologi Klinik RS UNS Surakarta, dr. Tonang Dwi Ardyanto angkat suara. Ia mengatakan, jurnal tersebut tidak membahas hepatitis akut misterius, melainkan kondisi hepatitis yang dikaitkan dengan autoimun hepatitis usai pemberian vaksinasi. Ya, inilah kebiasaan buruk sebagian masyarakat Indonesia, jarang memeriksa ulang berita yang didapat, bahkan menyimpulkan sebuah statement tanpa dasar pengetahuan yang pasti.

Namun, virus hepatitis akut ‘misterius’ bukan satu-satunya hal yang membuat saya geleng-geleng kepala. Pasalnya, Flu burung jenis H3N8 yang selama 20 tahun hanya ditemukan pada hewan telah menyerang seorang bocah laki-laki berumur 4 tahun di China. Hal ini dapat terjadi karena bocah tersebut melakukan kontak yang sangat dekat dengan ayam dan burung gagak di rumahnya. Risiko penyebaran virus flu burung H3N8 antarmanusia memang masih rendah. Meskipun begitu, saya berharap mimpi buruk yang dimulai sejak akhir 2019 sedang tidak mencari pasangan hidup untuk saling melengkapi. 

Rasanya, pengumuman yang disampaikan oleh Presiden Jokowi pada 17 Mei 2022 lalu mengenai diperbolehkannya tidak memakai masker ketika beraktivitas di ruangan terbuka tidak akan saya tanggapi dengan begitu antusias. Sebagian orang, termasuk saya, masih memegang prinsip “lebih baik mencegah dari pada mengobati” di situasi sekarang ini. Memakai masker ketika keluar rumah juga sudah menjadi kebiasaan bagi hampir seluruh masyarakat Indonesia, terutama kaum hawa yang malas untuk make up–lumayan hemat bedak dan lipstik. Kamu gitu juga gak? Soalnya saya gitu, wkwkwk. #gakbisanabung

Namun, seperti yang sudah saya katakan di atas, sebagian warga Indonesia ada yang mengeklaim dirinya kebal dari penyakit-penyakit. Kepercayaan diri yang berlebihan ini tentunya bukan tergolong positif. Awal mula menyebarluasnya virus Covid-19 di tanah air salah satunya karena kepercayaan diri yang berdampak negatif tersebut. 

Saat bepergian ke tempat umum, kita tidak hanya bertemu orang-orang dengan latar belakang berbeda, tetapi juga latar kesehatan yang berbeda. Jadi, kita harus membangun kesadaran masing-masing untuk selalu waspada, menjaga kesehatan, dan tetap di rumah jika sakit. Memangnya mau kalo ayang jadi sakit gara-gara ketemu sama kita? Nanti yang nyuruh makan siapa? 

Baiklah. Jadi, kesimpulan dari fakta, data, dan campuran overthink saya di atas adalah semua berita mengenai munculnya virus ini dan itu tidak perlu kita tanggapi dengan panik. Kalem aja, frens. Karena kalau kita panik, akan lebih mudah bagi kita untuk mencemaskan hal-hal yang sebenarnya tidak perlu dicemaskan, bahkan kita bisa jadi makanan enak buat Si Hoaks. Terlalu banyak pikiran juga dapat membuat imun kita melemah, lho. Tapi ingat, tidak panik bukan berarti menghalalkan yang namanya tidak waspada, lalai dalam menjaga kesehatan, dan “egois” ketika sedang sakit. Kita harus bisa bersama-sama menuju garis finish dari “Indonesia yang sakit” ini, bukan hanya untuk kita, tetapi juga orang-orang tersayang di Bumi Pertiwi, termasuk ayang. HEHEHE.

guest
0 Komentar
Inline Feedbacks
View all comments

Artikel Lainnya

Inspirasi Budaya Padjadjaran