Upaya dan Strategi Pelestarian Tempat-tempat Kebudayaan Selama Masa Pandemi

Pramuditha Faren Amada
94 views

Di masa pandemi seperti sekarang yang mengakibatkan kerugian bagi seluruh masyarakat, baik dari golongan menengah bawah maupun golongan menengah atas pasti merasakan dampak yang diakibatkan dari masa pandemi ini. Kerugian yang paling terasa ada pada bidang ekonomi. Banyak masyarakat kehilangan pekerjaan yang mengakibatkan keuangan mereka tidak stabil hingga untuk membeli keperluan sehari-hari saja susah untuk terpenuhi.

Bidang pariwisata juga terdampak dari pandemi Covid-19 ini. Tidak sedikit usaha tempat wisata yang gulung tikar semenjak tahun lalu akibat sepinya wisatawan dan pengunjung dikarenakan adanya pengurangan mobilitas. Kamar Dagang dan Industri (KADIN) mencatat hingga akhir tahun 2020, total kerugian sektor pariwisata akibat pandemi covid-19 dibarengi kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) mencapai lebih dari Rp 10 Triliun.

Salah satu tempat wisata kebudayaan yang terdampak pandemi adalah Candi Borobudur. General Manager PT Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan, dan Ratu Boko, I Gusti Putu Ngurah Sedana menyatakan pandemi Covid-19 mengakibatkan penurunan jumlah wisatawan hingga 77,3 persen dibanding 2019. Ia merinci jumlah wisatawan yang berkunjung ke Candi Borobudur pada tahun 2019 mencapai angka 4,39 juta orang. Sedangkan di tahun 2020, jumlah pengunjung hanya mencapai 996 ribu. Hal ini sangat merugikan bagi masyarakat yang mata pencahariannya berasal dari sektor pariwisata seperti penjual cinderamata atau penjual oleh-oleh.

Pelestarian budaya Indonesia harus tetap dilanjutkan meskipun masih pandemi. Pelestarian budaya bukan tugas yang hanya diperuntukkan mahasiswa saja, tetapi juga pemerintah serta seluruh masyarakat Indonesia. Memang banyak sekali hambatan dalam pelestarian budaya di masa sekarang yang semuanya harus serba online serta banyak hambatan lainnya juga. 

Ada beberapa upaya yang bisa kita lakukan untuk melestarikannya. Di zaman yang serba online ini, kita bisa memanfaatkan berbagai platform mulai dari Instagram, YouTube, Facebook, dan lain-lain sebagai sarana pelestarian. Kita dianjurkan menyelenggarakan webinar tentang budaya Indonesia yang mengikuti tren adat masing-masing daerah kemudian dipromosikan ke media sosial di atas. Metode ini akan berhasil jika dikemas dengan baik, tetapi antusias masyarakat sangat dibutuhkan untuk menyukseskan acara tersebut.

Selain itu, kita bisa membuat videografi tentang profil tempat budaya di Indonesia yang tersusun serta berkonsep secara modern, contohnya membawakan lagu adat atau daerah di Indonesia menggunakan baju adat setempat dengan latar tempat kebudayaan itu sendiri atau bisa juga diselingi oleh keindahan alam Indonesia sesuai daerah masing-masing. 

Jika kita melakukan strategi tersebut, masyarakat yang masih awam tentang kebudayaan pasti akan tertarik. Bisa juga ide di atas dibuat dalam bentuk animasi  atau kartun yang diperuntukan untuk menarik perhatiaan anak-anak yang baru belajar mengenai kebudayaan Indonesia.

Walaupun beberapa tempat kebudayaan seni di Indonesia sudah bisa dikunjungi secara offline – meski tetap diberlakukan protokol kesehatan serta dibatasinya pengunjung per hari, namun tetap saja lebih dianjurkan untuk menyelenggarakan acara kebudayaan seni secara daring atau virtual online menggunakan platform seperti Youtube dan lain-lain.

Upaya-upaya di atas bisa terlaksana dengan baik jika seluruh masyarakat dan pemerintah ikut serta dalam pelestarian tempat kebudayaan di Indonesia dan juga menyadari akan pentingnya pelestarian budaya dalam kehidupan kita.

Editor: Raihan Rizkuloh Gantiar Putra

guest
0 Komentar
Inline Feedbacks
View all comments

Artikel Lainnya