Museum Lampung, Tempat Menarik yang Sudah Jarang Dilirik

Tiara Yasmina Febriani
59 views

Siapa yang nggak kenal siger? Siger adalah mahkota atau hiasan kepala berwarna emas dengan tujuh atau sembilan lekukan di bagian atasnya. Eits, walaupun ada beberapa jenis siger dari berbagai daerah, siger yang dimaksud di sini adalah siger Lampung, ya. Siger Lampung biasanya digunakan sebagai atribut perempuan dalam acara adat seperti pernikahan, tarian, atau upacara adat.

Kalau kamu sedang berkunjung ke Provinsi Lampung, khususnya Kota Bandar Lampung tempat aku tinggal, hal yang terasa berbeda dan menjadi ciri khas adalah hampir setiap bangunan di tepi jalan raya seperti ruko, mall, sampai tugu dan gapura memiliki siger sebagai ornamennya. Sayangnya, karena ornamen yang selalu terlihat adalah siger, hal yang biasanya muncul di pikiran orang dari daerah lain ketika mendengar kata “Lampung” hanyalah “siger”. Padahal, masih banyak budaya Lampung lain yang menarik, lho.

Saat masih kelas 6 Sekolah Dasar sekitar enam tahun lalu, aku dan teman-teman sekelas pernah berkunjung ke Museum Lampung Ruwa Jurai. Kesan yang pertama kali muncul adalah: tempatnya luas, bersih, dan cukup terawat. Saat baru sampai, kami disambut oleh petugas museum. Tetapi, setelah acara pembukaan selesai, siswa-siswi yang sudah dibagi menjadi beberapa kelompok disuruh berpencar dan melihat-lihat koleksi museum sendiri tanpa didampingi pemandu. Memang ada teks deskripsi di setiap koleksi, tapi tentu saja siapa pun akan lebih senang jika sejarahnya dijelaskan secara langsung oleh pemandu. Alhasil, aku yang awalnya bersemangat menjadi agak kecewa dan bosan, begitu juga dengan kebanyakan teman-temanku.

Menurut website resmi Dinas Pariwisata Provinsi Lampung, Museum Lampung memiliki beragam hasil seni seperti keramik China dari zaman Dinasti Ming, stempel dan mata uang kuno zaman penjajahan Belanda, sampai bejana perunggu yang merupakan koleksi langka. Terdengar menarik, bukan? Sayangnya, kelengkapan koleksi saja tidak cukup untuk menarik minat pengunjung. Dilansir dari Republika, pengunjung Museum Lampung pada Oktober 2014 tidak mencapai 100 orang__yang artinya memang sejak dulu museum ini kurang peminat. Seperti pengalaman kunjunganku, pengunjung Museum Lampung di bulan itu hanya rombongan sekolah saja, bahkan tak jarang museum tutup lebih awal saking sepinya.

Hal ini sangat disayangkan mengingat Lampung sebenarnya memiliki banyak budaya yang menarik, tempat yang luas dan bersih, juga koleksi yang cukup lengkap, tapi justru tidak mampu membantu museum ini untuk menarik banyak pengunjung. Berbeda dengan tempat pelestarian budaya lain, sebut saja Saung Angklung Udjo di Bandung yang juga pernah aku kunjungi. 

Bedanya, aku mengunjungi Saung Angklung Udjo bersama keluarga besar dengan inisiatif sendiri, bukan karena program sekolah. Selain angklung yang memang semestinya ada di sana, Saung Angklung Udjo juga menjual berbagai suvenir dan menyajikan pertunjukan angklung. Aku bahkan sempat membeli gantungan kunci dari bambu yang bisa ditulisi tulisan sesuai request. Sangat berkesan.

Di masa pandemi seperti ini, sektor pariwisata memang sedang terpuruk, termasuk tempat-tempat pelestarian budaya. Mirisnya, Museum Lampung bisa dibilang “sudah terpuruk” bahkan sejak jauh sebelum pandemi dimulai. Supaya budaya Lampung tidak hilang ditelan zaman, diperlukan strategi dan inovasi. Menurutku, di masa di mana orang-orang dianjurkan untuk tetap di rumah, upaya yang bisa dilakukan adalah dengan mempromosikan tempat pelestarian budaya melalui media sosial.

Di era digital ini, menyebarkan informasi melalui media sosial adalah upaya yang paling efektif. Upaya itu bisa dimulai dengan membuat akun media sosial Museum Lampung Ruwa Jurai, misalnya Instagram, menjadi lebih menarik. Saat ini, setidaknya sampai tanggal 22 Agustus 2021, akun Instagram Museum Lampung @museumlampung_ruwajurai hanya memiliki 12 unggahan. 

Museum Lampung bisa mengunggah apa saja, misalnya foto-foto koleksi museum, informasi jadwal operasi museum, atau sekadar ajakan mematuhi protokol kesehatan, setidaknya untuk membuat akun Instagram-nya terlihat aktif. Tentu saja tidak boleh asal-asalan, unggahannya harus memiliki tampilan yang menarik. 

Walaupun sampai tanggal 23 Agustus 2021 masih harus tutup sementara, Museum Lampung bisa mulai menarik minat pengunjung misalnya dengan menjanjikan pemandu. Dengan begitu, pengunjung tidak akan lagi berkeliling-keliling sendiri, tetapi diarahkan pemandu yang ramah. Tidak usah repot-repot membaca teks deskripsi yang panjang dengan tulisan kecil-kecil, pengunjung bisa mengetahui sejarah koleksi di sana hanya dengan mendengarkan. Museum Lampung setidaknya bisa mendapat perhatian netizen melalui akun Instagram, meski entah kapan tempat wisata akan ramai lagi.

Selain memperbarui unggahan media sosial dan menambah pemandu, Museum Lampung juga bisa menambah nilai jual lain misalnya suvenir dan hiburan. Jika Saung Angklung Udjo memiliki suvenir bernuansa bambu dan pertunjukan angklung, Museum Lampung bisa menjual suvenir khas Lampung, misalnya gantungan kunci siger sebagai simbol Lampung, atau menampilkan pertunjukan tari, misalnya Tari Sigeh Pengunten atau Tari Bedana. 

Pertunjukan tari bisa diberi jadwal, misalnya setiap pukul sepuluh pagi dan pukul empat sore setiap akhir pekan. Informasi jadwal hiburan dan suvenir yang dijual itu bisa diunggah di media sosial. Dengan promosi melalui media sosial, eksistensi tempat pelestarian budaya tidak akan hilang di masa pandemi ini.

Kesimpulannya, di masa pandemi ini, tempat pelestarian budaya seperti Museum Lampung Ruwa Jurai bisa tetap mendapat perhatian masyarakat melalui media sosial. Dengan terus eksis di media sosial, informasi-informasi tentang museum bisa terus tersampaikan pada masyarakat. 

Tak hanya dengan memperbarui unggahan media sosial, Museum Lampung juga bisa menjanjikan pemandu untuk menemani pengunjung berkeliling andai kelak sudah dapat dikunjungi kembali, menjual suvenir-suvenir menarik, dan menampilkan pertunjukan tari. Dengan begitu, diharapkan Museum Lampung bisa kembali ramai diminati saat pandemi selesai dan budaya Lampung dapat terus lestari.

Editor: Raihan Rizkuloh Gantiar Putra

guest
0 Komentar
Inline Feedbacks
View all comments

Artikel Lainnya