Presiden Prabowo Subianto dalam acara peresmian Museum Ibu Marsinah dan Rumah Singgah di Desa Nglundo pada hari Sabtu, 16 Mei 2026 menyatakan bahwa masyarakat desa tidak memakai dolar saat menanggapi pelemahan rupiah yang menuai banyak perhatian. Menurutnya, selama kebutuhan pangan dan energi masih tersedia, masyarakat tidak perlu terlalu khawatir terhadap naiknya nilai tukar dolar. Bahkan, ia menyebut bahwa pihak yang lebih terdampak oleh kondisi ini adalah masyarakat yang sering bepergian ke luar negeri serta para pelaku usaha.
Jika kita melihat dari sudut pandang yang berbeda, memang benar masyarakat desa tidak bertransaksi menggunakan dolar secara langsung. Namun, bukan berarti mereka tidak terdampak. Banyak kebutuhan sehari-hari, terutama yang berkaitan dengan pertanian dan peternakan, masih bergantung pada barang impor atau bahan baku dari luar negeri. Pupuk, bahan bakar, obat-obatan, mesin pertanian, hingga pakan ternak bisa ikut naik harganya ketika rupiah melemah terhadap dolar.
Kondisi ini juga menunjukkan bahwa pemerintah belum sepenuhnya berhasil mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor. Bahkan untuk kebutuhan yang sangat dekat dengan masyarakat, seperti kedelai sebagai bahan baku tempe dan tahu, Indonesia masih mengandalkan pasokan dari luar negeri. Padahal, komoditas tersebut seharusnya dapat menjadi perhatian dalam upaya memperkuat produksi nasional. Ketika kebutuhan dasar masih bergantung pada impor, masyarakat menjadi lebih rentan terhadap perubahan kondisi ekonomi global yang berada di luar kendali mereka.
Sejumlah pengamat ekonomi menilai bahwa persoalannya bukan terletak pada apakah rakyat memegang dolar atau tidak, melainkan bagaimana kurs dolar memengaruhi harga barang di dalam negeri. Dampak pelemahan rupiah biasanya memang tidak langsung terasa, tetapi perlahan masuk ke biaya produksi dan akhirnya memengaruhi harga kebutuhan pokok. Pada kondisi seperti ini, masyarakat kecil justru sering menjadi pihak yang paling cepat merasakan dampak dari kenaikan harga.
Di sisi lain, pemerintah tetap optimis bahwa kondisi ekonomi Indonesia masih cukup kuat. Saat dolar Amerika Serikat bahkan sempat menembus Rp18.000, pemerintah menyatakan bahwa fundamental ekonomi nasional masih terjaga. Kementerian Keuangan, Bank Indonesia, dan OJK juga disebut terus berkoordinasi untuk memantau situasi dan mengambil langkah agar dampaknya tidak semakin besar. Faktor global seperti konflik geopolitik dan tingginya harga minyak dunia juga dianggap ikut mendorong pelemahan rupiah.
Setelah sempat mengalami tekanan tersebut, Bank Indonesia bersama pemerintah telah mengambil berbagai langkah stabilisasi, seperti menaikkan suku bunga acuan dan melakukan intervensi di pasar valuta asing. Dalam beberapa pekan terakhir, rupiah mulai menguat kembali ke kisaran Rp17.700-an per dolar AS. Namun, para pengamat dan Bank Indonesia sendiri menilai bahwa tantangan belum sepenuhnya berakhir karena ketidakpastian ekonomi global masih cukup tinggi.
Pada akhirnya, perdebatan ini menunjukkan bahwa kondisi ekonomi tidak bisa dilihat dari satu sisi saja. Memang benar masyarakat desa tidak memakai dolar untuk berbelanja, tetapi perubahan nilai tukar tetap bisa memengaruhi kehidupan mereka lewat harga-harga barang. Karena itu, yang dibutuhkan bukan hanya optimisme, tetapi juga penjelasan yang jujur dan langkah nyata agar masyarakat merasa tenang sekaligus memahami apa yang sebenarnya sedang terjadi.
Sebagai pelajar, kita mungkin belum terlibat langsung dalam pengambilan kebijakan ekonomi, tetapi bukan berarti isu seperti ini tidak perlu diperhatikan. Justru, bagaimana kita dapat menjadi warga negara yang kritis jika persoalan yang memengaruhi kehidupan jutaan orang dianggap jauh dari keseharian kita? Nilai tukar rupiah, harga kebutuhan pokok, dan ketahanan ekonomi nasional bukan sekadar angka di berita, melainkan isu yang akan menentukan masa depan yang akan kita hadapi bersama.
Di tengah berbagai tantangan ekonomi yang ada, harapan masyarakat tentu sederhana, yaitu nilai tukar rupiah dapat tetap stabil sehingga harga barang dan kebutuhan sehari-hari tidak terus mengalami kenaikan. Stabilitas mata uang penting karena memberikan rasa aman bagi masyarakat, pelaku usaha, maupun investor dalam merencanakan kegiatan ekonomi mereka. Oleh karena itu, masyarakat berharap pemerintah dan Bank Indonesia dapat terus menjaga kondisi ekonomi nasional agar daya beli tetap terjaga dan kesejahteraan meningkat.
Referensi
BBC News Indonesia. (2026, 17 Mei). Pernyataan Presiden Prabowo soal rakyat desa tidak pakai dolar dikritik pengamat ekonomi. Diakses pada 14 Juni 2026, dari https://www.bbc.com/indonesia/articles/cze268ng743o
DetikNews. (2026, 4 Juni). Dolar AS tembus Rp18.000, pemerintah yakin fundamental ekonomi RI kuat. Diakses pada 14 Juni 2026, dari https://news.detik.com/berita/d-8518588/dolar-as-tembus-rp-18-000-pemerintah-yakin-fundamental-ekonomi-ri-kuat
Pikiran Rakyat. (2026, 16 Mei). Rupiah terus merosot, Prabowo: Orang desa nggak pakai dolar [Instagram Reel]. Diakses pada 22 Juni 2026, dari https://www.instagram.com/reel/DYZS1hFkq_j