TIDAK APA JIKA TIDAK SEPENDAPAT DENGAN OPINI POPULER

Ajeng Sri Rahayu
115 views
','

' ); } ?>

Pernahkah kita menemukan sebuah unggahan di media sosial yang memiliki jumlah likes sampai puluhan ribu atau melihat potongan video yang ditonton hingga jutaan kali dan mendapati hampir semua komentarnya berupa respons positif? Tanpa sadar, kita sering sekali merasa bahwa isi yang disampaikan di unggahan tersebut sudah pasti benar. Setidaknya, banyak orang menyetujuinya. Bahkan, kita mungkin pernah merasakan dorongan halus untuk ikut menyetujuinya, sebab banyak orang yang setuju, seperti ada sebuah tuntutan atau perasaan menggelitik apabila kita tidak sependapat. Engagement yang tinggi dapat membuat kita silau, seolah-olah mengonstruksi sebuah legitimasi untuk benar dan baiknya sebuah unggahan. Yang kadang-kadang, kita benarkan tanpa berpikir ulang, sesuaikah isi opini tersebut dengan hati nurani kita? Faktualkah ia? Rasionalkah argumennya?

Hal itu tentu tidak mengherankan. Sebagai makhluk sosial, manusia selalu memperhitungkan pandangan orang lain sebagai sesuatu yang penting sebelum mengambil sikap. Mekanisme social proof, yakni kecenderungan manusia untuk menjadikan tindakan atau persetujuan banyak orang sebagai petunjuk tentang apa yang benar dan layak diterima secara sosial (Cialdini, 2009), menjelaskan pola tersebut. Ketika sebuah pernyataan tampak disetujui oleh banyak orang, otak kita menafsirkannya sebagai legitimasi yang membuat kita merasa aman untuk ikut menyetujuinya. Media sosial, melalui isyarat visual seperti likes, shares, dan komentar, memperkuat mekanisme itu dengan cara yang jauh lebih terang. Ia menampilkan kesepakatan publik secara kasatmata dan serentak sehingga pola pikir yang selalu mempertimbangkan pandangan mayoritas semakin menguat di ruang digital. Sebenarnya, pola itu bukan sesuatu yang baru. Dunia nyata pun memeliharanya sejak lama. Kehadiran media sosial hanya mengubah kanalnya, membuat kecenderungan manusia sebagai makhluk sosial tampak semakin jelas dalam ruang yang serba terbuka hari ini.

Di sinilah letak persoalannya. Tidak semua konten yang populer di media sosial selalu benar atau layak dipercaya, sebab sejak awal yang menjadi penentunya bukanlah logika atau ketepatan naratif, melainkan potensi engagement. Untuk membuat sesuatu tampak meyakinkan, seseorang tidak selalu perlu menghadirkan isi yang akurat, cukup memastikan bahwa unggahannya ramai dan mendapatkan atensi publik. Penelitian Avram, dkk. (2020) menunjukkan bahwa paparan metrik keterlibatan dapat meningkatkan kerentanan pengguna terhadap misinformasi karena angka-angka tersebut sering diasosiasikan dengan kredibilitas. Padahal, yang ramai belum tentu valid. Selain itu, penelitian Chan, dkk. (2025) berjudul The Ranking Effect menemukan bahwa peringkat konten dalam feed sangat memengaruhi besarnya perhatian dan engagement yang diterimanya, terlepas dari kualitas isi. Dengan kata lain, viralitas kerap merupakan hasil distribusi algoritmik, bukan ukuran mutu. Namun demikian, tidak adil pula menganggap bahwa semua yang viral pasti buruk. Kepopuleran bukan penentu kebenaran.

Tekanan untuk mengikuti opini populer memang dapat dimengerti. Teori Spiral of Silence yang dikemukakan Elisabeth Noelle-Neumann menjelaskan bahwa manusia cenderung menahan pendapat yang berbeda dari mayoritas karena takut mengalami isolasi. Apalagi bentuk pengucilan di media sosial itu tidak kalah mengerikan. Mulai dari hujan komentar negatif, cyberbullying, sampai cancel culture pun bisa dihadapi. Tidak heran jika mengungkapkan pandangan berbeda sering terasa seperti sebuah kesalahan. Ah, pada titik ini, ruang kebebasan baru yang diagung-agungkan itu memang tampak semu. Ia memberi kesempatan kepada siapa saja untuk berbicara, tetapi tekanan dari opini dominan tetap ada, membuat banyak orang enggan bersuara jujur mengutarakan isi hati dan pikirannya.

Dalam kondisi seperti ini, penting untuk menyadari bahwa ketidaksetujuan adalah hal yang wajar. Kesamaan pendapat dengan mayoritas bukanlah kewajiban dan keberanian untuk menyuarakan pandangan yang unik dan organik justru memiliki posisi penting dalam diskursus publik. Kebenaran tidak pernah ditentukan oleh jumlah orang yang meyakininya. Bersepakat membenarkan sesuatu yang keliru tidak serta-merta mengubah kekeliruan itu menjadi kebenaran. Banyak gagasan besar dalam sejarah lahir dari minoritas yang berani mempertanyakan apa yang dianggap umum. Descartes pun memulai dari keraguan. Sikap skeptis, selama berlandaskan argumen yang logis dan tepat, adalah salah satu cara kita menjaga nalar tetap jernih.

Perbedaan pendapat juga melestarikan keberagaman cara berpikir. Beda kepala beda isi, dan itu adalah kekayaan. Dunia yang menuntut semua manusia berpikiran seragam hanya menandakan hadirnya dogma sebagai tulang punggung peradaban. Keberanian untuk berbeda menjaga budaya berpikir kritis. Bila kita hanya mengikuti arus tanpa mempertanyakan kebenaran atau landasan filosofis dan etisnya, maka hilanglah kedalaman analitis yang justru sangat dibutuhkan untuk menghadapi persoalan sosial yang semakin kompleks. Selama ruangnya memang memungkinkan untuk berbeda, pandangan yang tidak mengikuti template mayoritas merupakan tanda bahwa seseorang sedang berpikir secara aktif dan kritis.

Dalam konteks literasi digital, kemampuan menghadapi informasi dengan kepala dingin, bukan tunduk pada angka likes, merupakan bentuk otonomi berpikir yang semakin penting. Kita perlu menyadari bahwa metrik keterlibatan bukanlah indikator kebenaran, melainkan sekadar tanda bahwa sebuah konten tersebar luas atau memicu respons emosional. Mengambil jeda sebelum bereaksi, memeriksa beberapa sumber, dan mempertimbangkan konteks adalah langkah kecil namun bermakna untuk menjaga kejernihan nalar. Berbincang dalam ruang yang sehat, entah bersama teman, komunitas kampus, atau forum akademik, juga dapat memperkaya perspektif. Melalui langkah-langkah itu, kita tidak hanya menjadi objek yang terhanyut arus, tetapi subjek yang berdaulat atas apa yang diyakini dan disuarakan.

Pada akhirnya, media sosial memang menciptakan ruang yang dinamis, tetapi juga penuh tekanan halus yang sering bikin kita merasa harus mengikuti kerumunan. Padahal, inti dari berpendapat itu bukan soal apakah kita sejalan dengan opini populer atau sengaja mengambil posisi berseberangan. Yang penting justru adalah atas dasar apa pendapat itu dibentuk. Opini populer tidak selalu dangkal atau salah, dan opini yang berbeda pun tidak otomatis lebih cerdas atau edgy. Yang dibutuhkan adalah keterbukaan: kemampuan untuk melihat argumen dari berbagai sisi tanpa terburu-buru ikut arus atau menolak arus hanya karena ingin terlihat berbeda. Jadi, tidak mengapa bila kita tidak sependapat dengan opini populer, asal perbedaan itu lahir dari pertimbangan yang rasional, integritas berpikir, dan keberanian untuk menilai sesuatu dengan kepala jernih. Karena pada akhirnya, nilai sebuah pendapat tidak ditentukan oleh jumlah likes, tetapi oleh proses berpikir yang jujur dan matang di baliknya.

Referensi

  • Avram, M., Micallef, N., Patil, S., & Menczer, F. (2020). Exposure to Social Engagement Metrics Increases Vulnerability to Misinformation. arXiv.
  • Chan, J., Choi, F., & Saha, K. (2025). The Ranking Effect: How Algorithmic Rank Influences Attention on Social Media. arXiv.
  • Noelle-Neumann, E. (1974). The Spiral of Silence Theory. (dikutip dalam pengembangan teori modern)
  • Thorvy, M., & Nurcahyo, A. (2017). “Perkembangan Teori Spiral Keheningan dalam Media Sosial.” Media Publica.
Subscribe
Notify of
guest

0 Komentar
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments

Artikel Lainnya