Menyoroti Dampak Fatherless dan Motherless dalam Film “Tinggal Meninggal” (2025)

Apa yang terjadi ketika sosok orang tua ada secara fisik, tetapi tidak hadir secara emosional dalam hidup anaknya? 

Fenomena pahit itu tergambarkan dalam Tinggal Meninggal (2025). Gema, sang karakter utama dalam film ini, memang memiliki orang tua, tetapi tidak pernah terlibat secara penuh dalam mengurus Gema. Mereka tidak pernah menjadi pendengar yang baik, dan tidak pernah memenuhi tangki cinta Gema. Kurangnya kasih sayang ayah dan ibu di rumah menimbulkan kekosongan jiwa bagi Gema. 

Secara satir, film ini menggambarkan bagaimana “topeng kepalsuan” terwujud melalui perilaku keluarga Gema. Di hadapan publik, mereka berlagak menjadi keluarga cemara agar dinilai baik oleh orang lain. Namun realitanya, hubungan dingin dan ketidakakuran justru menyelimuti keluarga Gema. 

Dampaknya, Gema tumbuh dalam kesepian sehingga ia terbiasa komat-kamit sebagai upaya untuk mengungkapkan perasaan karena sejak kecil, Gema tidak diberikan tempat aman untuk berkeluh kesah. Sayangnya, bentuk pertahanan diri itu membuat Gema dianggap aneh oleh orang-orang di sekitarnya sehingga ia dirundung secara verbal yang memicunya untuk semakin menyendiri dan tidak memiliki teman. Kebiasaan komat-kamit itu masih berlangsung meski ia sudah dewasa. Akibatnya, Gema mendapatkan pandangan dan perlakuan yang sama dari lingkungan kantornya sehingga ia merasa terasingkan. 

Melalui karakter Gema dewasa, kita disadarkan oleh realita pahit bahwa luka masa kecil tidak akan hilang begitu saja. Seorang anak yang dahulu mengalami pengabaian dan kurang kasih sayang akan tumbuh menjadi orang yang kaku dan sulit berbaur, sehingga ia terjebak di lingkaran rasa sepi yang terus berputar.
Uniknya, film ini menggambarkan dampak tersebut melalui serangga pada perut Gema yang menjadi simbol kondisi hatinya.

Gambar 1. Diambil dari Netflix
Gambar 2. Diambil dari Netflix

Saat Gema ditemani dan diterima oleh lingkungan sekitar, serangga itu akan banyak bergerak, menandakan euforia dan hatinya yang bahagia. Sebaliknya, apabila Gema diabaikan, serangga itu akan lemas dan tak berdaya.

Namun, keadaan berubah ketika ayah Gema meninggal dunia sehingga teman-teman kantornya tiba-tiba memedulikan Gema, memberi dukungan, perhatian, merangkul, dan menemaninya. Perlakuan dan rasa sayang dari teman-teman kantornya yang datang tiba-tiba itu membuat Gema senang, merasa diterima, dan dipedulikan, terlebih lagi karena sejak kecil ia tidak pernah mendapat perlakuan hangat dari orang tuanya. Naasnya, keadaan itu tidak berlangsung lama dan berubah seperti semula. Gema kembali tidak dipedulikan dan diabaikan oleh teman-teman kantornya. Fenomena ini mencerminkan empati performatif yang kerap terjadi di masyarakat modern, yaitu orang-orang cenderung bersimpati hanya untuk formalitas sosial, bukan karena ketulusan hati.

Karena tidak mau kembali merasa sendirian, Gema berusaha untuk ‘menjual kesedihan’. Dengan nekat, ia membuat berita palsu tentang kabar duka keluarganya demi mendapat perhatian dan empati lagi dari teman-teman kantornya. Hal ini menggambarkan kondisi ‘haus validasi’ karena kesepian. Ia ingin ditemani, dianggap, dan dilibatkan, sehingga cara yang ia lakukan adalah membuat orang lain merasa kasihan dan berempati terhadapnya. Upaya Gema dalam mencari perhatian ini kemudian dibungkus melalui perkataan getirnya yang menyentuh, “Masa harus ada yang meninggal dulu baru pada peduli?” 

Pada akhir film, pengembangan karakter Gema membuat terharu sekaligus tersadar bahwa Gema memiliki pribadi yang tulus. Dibalik kesepian dan keterasingan yang Gema alami, ia merupakan seorang pengamat yang penuh rasa peduli. Kado-kado pemberian Gema untuk teman-temannya sebagai permohonan maaf menjadi bukti bahwa ia selalu memperhatikan kondisi sekitar dan mengingat detail-detail kecil dari setiap temannya yang mungkin tidak disadari oleh orang lain. 

Omara Esteghlal selaku pemeran utama pun berperan memukau dalam menghidupkan karakter Gema. Mulai dari gestur tubuh hingga kedalaman ekspresi yang ia tunjukkan, sukses dalam membuat penonton merasakan sisi psikologisnya, bahkan ia mampu menimbulkan rasa secondhand embarrassment (kondisi seseorang merasa malu ketika melihat atau mendengar orang lain melakukan sesuatu yang memalukan, padahal mereka sendiri tidak terlibat dalam kejadian tersebut) bagi penonton di seluruh aksinya. 

Kristo Immanuel, sutradara film Tinggal Meninggal (2025), sukses menggambarkan hilangnya figur ayah dan ibu dengan menampilkan kemewahan rumah yang terasa sunyi, asing, dan dilengkapi tone yang dingin. Selain itu, ia juga mengemas esensi kesepian akut melalui perilaku Gema dewasa yang sering bercakap dengan Gema kecil sebagai safe place (tempat aman bagi seseorang sehingga ia dapat merasa diterima dan dihargai, tanpa rasa takut dihakimi). 

Referensi:

Risdawati. (2026, Juli 21) Fenomena Second-Hand Embarrassment, Ikut Malu Padahal Tidak Terlibat. https://alazharpeduli.or.id/publikasi/artikel/p/fenomena-second-hand-embarrassment-ikut-malu-padahal-tidak-terlibat 

Subscribe
Notify of
guest

0 Komentar
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments