Menanti Perbaikan, Keselamatan Pengguna Jalan di Jatinangor Jadi Perhatian

Menyusuri jalan Jatinangor, persoalan keselamatan menjadi hal yang tak bisa luput dari perhatian. Rencana perbaikan jalan yang sempat disinggung Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, saat Penerimaan Raya Mahasiswa Baru (PRABU) Unpad 2026 pun menimbulkan harapan bagi pengguna jalan. Namun, di balik padatnya lalu lintas Jatinangor, persoalan apa yang membuat perbaikan jalan perlu segera mendapat perhatian?

Deru napas kendaraan tak pernah absen di kawasan Jatinangor, Sumedang. Lalu lalang sepeda motor, mobil, dan kendaraan besar menjadi pemandangan sehari-hari yang memadati jalan di area ini. Sebagai kawasan pendidikan yang menaungi Universitas Padjadjaran, ITB Kampus Jatinangor, Institut Pemerintahan Dalam Negeri, dan IKOPIN, Jatinangor menjadi tempat beraktivitas mahasiswa yang berkumpul dari berbagai daerah. Tingginya mobilitas tersebut turut menimbulkan persoalan mengenai keselamatan pengguna jalan yang perlu diperhatikan. 

Persoalan ini dirasakan oleh pengguna jalan dengan pengalaman yang berbeda-beda. Bagi pengendara sepeda motor, kepadatan lalu lintas dan hadirnya kendaraan bermuatan besar menjadi tantangan tersendiri. Sementara itu, bagi pejalan kaki, keberadaan trotoar yang minim dan sering tidak digunakan dengan semestinya membuat perjalanan sehari-hari di Jatinangor menjadi kurang nyaman.

Hal ini dirasakan oleh Raihan, mahasiswa Universitas Padjadjaran yang setiap harinya pulang-pergi menggunakan sepeda motor dari kawasan Kopo menuju Jatinangor. Menurutnya, kendaraan besar seperti truk yang berada berdekatan dengan sepeda motor dapat menimbulkan kekhawatiran, terlebih ketika kendaraan berpindah jalur atau mendekati pengendara motor. “Paling ngerasa enggak aman itu gara-gara banyak truk-truk besar ya. Apalagi kalau pulang tuh kan selalu ngelewatin yang ke arah jalan tol, nah itu kan suka banyak truk-truk gede, kadang suka ada truk yang enggak ngelihat si pengendara motor tiba-tiba ngepepet gitu. Itu sih yang suka bikin aku enggak ngerasa aman gitu kalau misalkan berkendara pulang pergi di daerah situ,” ujarnya saat diwawancarai pada Selasa (13/10/2026). Raihan berharap perbaikan jalan dilakukan bersamaan dengan upaya mengatur jalur kendaraan besar agar keselamatan pengendara motor lebih diperhatikan.

Persoalan keselamatan jalan juga dirasakan oleh Deva, mahasiswa yang terbiasa berjalan kaki dari kawasan Ciseke menuju sejumlah tempat, termasuk Fikom Unpad. Ia mengaku kurang nyaman berjalan kaki karena cuaca panas, debu kendaraan, serta keterbatasan trotoar di jalur yang dilaluinya. 

“Yang pasti emang panas dan debunya terbang-terbang juga, terus jalanannya padat dan sempit, terus enggak ada trotoar,” ungkap Deva. Keterbatasan ruang berjalan membuatnya merasa khawatir ketika harus berjalan berdekatan dengan kendaraan yang melintas. Deva menilai penambahan trotoar menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan. Ia juga mengusulkan penyediaan ruang khusus bagi pedagang agar ruang pejalan kaki dapat dimanfaatkan sesuai fungsinya. Selain itu, Deva mengemukakan gagasan penyediaan jembatan penyeberangan orang (JPO). Menurutnya, fasilitas penyeberangan yang memadai dapat menjadi salah satu alternatif untuk mendukung keselamatan pejalan kaki di kawasan dengan lalu lintas yang padat.

Kekhawatiran terhadap keselamatan pengguna jalan juga terlihat dari pengalaman Diana Mansur, juru parkir yang telah bekerja sekitar lima tahun di lokasi wawancara. Menurutnya, kondisi lalu lintas di kawasan tersebut cukup ramai, terutama saat kegiatan perkuliahan berlangsung. Di tengah aktivitas kendaraan yang berlalu-lalang, Diana terkadang membantu sebagian orang yang membutuhkan bantuan ketika hendak menyeberang jalan. Ia mengaku khawatir mereka mengalami kecelakaan saat melintasi jalan, terutama bagi orang yang dinilainya membutuhkan bantuan.

Menurutnya, keselamatan pengguna jalan juga perlu mendapat perhatian dari aparat yang bertugas mengatur lalu lintas. “Kalau keamanannya, harusnya aparat yang menjaga. Kalau saya mah kan tukang parkir biasa yang cari uang, sedikit-sedikit, harusnya sama aparat biar lebih terjaga,” tutur Diana saat diwawancarai Pena Budaya. Diana berharap kehadiran aparat dapat membantu menjaga ketertiban lalu lintas dan memberikan rasa aman bagi masyarakat yang melintasi kawasan tersebut.

Berbagai pengalaman tersebut menunjukkan bahwa keselamatan pengguna jalan di Jatinangor masih menjadi hal yang perlu diperhatikan. Kondisi jalan, lalu lintas kendaraan besar, serta keterbatasan ruang bagi pejalan kaki menjadi persoalan yang dirasakan oleh pengguna jalan dengan pengalaman berbeda. Karena itu, perbaikan jalan dan upaya menciptakan lalu lintas yang lebih aman perlu ditindaklanjuti. Raihan berharap janji perbaikan yang disampaikan Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, saat Penerimaan Raya Mahasiswa Baru (PRABU) Unpad 2026 yang disampaikannya di depan ribuan mahasiswa, dapat benar-benar direalisasikan, sehingga pengguna jalan di Jatinangor dapat berkendara maupun berjalan kaki dengan lebih aman dan nyaman.

Subscribe
Notify of
guest

0 Komentar
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments