Ketika Keadilan Tak Kunjung Pulang: Suara Perempuan dalam “Women from Rote Island”

JudulWomen from Rote Island (Perempuan Berkelamin Darah)
Sutradara Jeremias Nyangoen
Tahun rilis2023
Durasi± 106 menit
Pemeran utama Merlinda Dessy Adoe, Irma Novita Rihi, Bani Sallum Ratu Ke

Sembilan hari jenazah Abram tak kunjung dikuburkan. Bukan karena adat yang rumit, melainkan karena satu permintaan terakhirnya: pemakaman tidak boleh dimulai sebelum Martha, putrinya, pulang. Dari premis sederhana inilah Women from Rote Island membuka kisah yang jauh lebih besar daripada sekadar penantian keluarga: tentang tubuh perempuan yang harus menanggung beban sejarah, adat, dan kekerasan yang tak pernah benar-benar mereka pilih, tentang perempuan yang terus-menerus menunggu keadilan yang tak kunjung datang, dan tentang suara yang harus diperjuangkan untuk bisa benar-benar didengar.

Ringkasan Singkat

Martha kembali ke Pulau Rote setelah dua tahun menjadi buruh migran ilegal di perkebunan sawit Sabah, Malaysia. Kepulangannya disambut haru oleh ibunya, Orpa, dan adiknya, Bertha, tetapi jelas ada sesuatu yang berubah pada dirinya. Trauma yang dibawa Martha dari perantauan perlahan terkuak, sementara di rumah, keluarganya  masih harus berhadapan dengan tekanan adat, pandangan masyarakat, dan kenyataan bahwa kekerasan terhadap perempuan di lingkungan mereka bukan kasus yang berdiri sendiri.

Dibalik kisah personal Martha dan keluarganya, Women from Rote Island juga merepresentasikan sesuatu yang jauh lebih luas: bagaimana perempuan di wilayah pinggiran Indonesia kerap menanggung beban berlapis—ekonomi, adat, dan kekerasan—tanpa ruang yang cukup untuk didengar. Empat hal berikut menjadi kunci untuk memahami lapisan makna yang dibangun film ini.

Tubuh Perempuan sebagai Medan Pertaruhan

    Film ini menempatkan tubuh Martha dan tubuh wanita lain sebagai tempat di mana kekerasan struktural sungguh-sungguh terjadi: kekerasan ekonomi yang memaksanya merantau, kekerasan seksual yang dialaminya di perantauan, dan kekerasan sosial berupa stigma yang menantinya di kampung halaman. Nyangoen tidak menjadikan trauma Martha sebagai twist dramatis, melainkan sebagai kondisi yang terus-menerus dihidupi, bahkan setelah ia “aman” kembali di rumah.

    Gambar 1. Tangkapan layar dari film Women from Rote Island (Dokumentasi pribadi)

    Film ini  menautkan ketiga jenis kekerasan tersebut sebagai satu rantai sebab-akibat. Tubuh perempuan dalam film ini tidak pernah benar-benar menjadi miliknya sendiri; ia terus-menerus menjadi taruhan dari sistem ekonomi, hukum, dan sosial yang tidak dirancang untuk melindunginya. Pilihan sinematografi yang kerap menempatkan kamera dekat dengan tubuh Martha, alih-alih menjaga jarak aman, turut menegaskan bahwa penonton diajak untuk tidak berpaling dari kenyataan itu.

    Adat dan Pemakaman sebagai Simbol Penundaan Keadilan

      Gambar 2. Tangkapan layar dari film Women from Rote Island (Dokumentasi pribadi)

      Jika tubuh Martha menjadi ruang di mana kekerasan berlapis itu terjadi, maka jenazah Abram yang tak kunjung dikuburkan menjadi ruang di mana kekerasan itu dibiarkan menggantung. Pemakaman yang tertunda berfungsi sebagai metafora yang kuat: seperti jenazah Abram yang tak bisa diistirahatkan sebelum Martha pulang, keadilan bagi perempuan-perempuan dalam film ini juga terus tertunda—menunggu pengakuan, menunggu perlindungan, menunggu sistem yang sebenarnya tidak pernah benar-benar hadir untuk mereka. Adat yang seharusnya menjadi ruang pemulihan justru kerap menjadi ruang yang menuntut perempuan untuk diam dan menanggung sendiri.

      Otentisitas Lokal sebagai Kekuatan sekaligus Pernyataan

        Gambar 3. Tangkapan layar dari film Women from Rote Island (Dokumentasi pribadi)

        Persoalan tubuh dan adat yang dibedah film ini tidak akan terasa sekuat itu tanpa keputusan artistik yang menopangnya, yaitu menghadirkan Rote apa adanya, bukan sebagai latar eksotis semata. Dengan memilih hampir seluruh pemeran dari penduduk asli Rote yang tak berpengalaman akting, serta mempertahankan dialek dan lanskap otentik pulau tersebut, film ini berfungsi ganda: sebagai drama personal sekaligus catatan etnografis. Pilihan ini menegaskan bahwa persoalan yang diangkat bukan fiksi abstrak, melainkan kenyataan yang hidup di Indonesia Timur, wilayah yang jarang mendapat panggung dalam wacana nasional soal kekerasan berbasis gender.

        Solidaritas Perempuan sebagai Ruang Pemulihan

          Namun, di tengah kekerasan yang berlapis itu, film ini juga menyisipkan satu lapisan makna yang tidak kalah penting tentang bagaimana perempuan justru saling menopang ketika institusi lain—adat, hukum, bahkan negara—gagal hadir untuk mereka. Ikatan antara Orpa, Martha, dan Bertha berkembang menjadi semacam ruang pemulihan tersendiri, di mana kehadiran satu sama lain menjadi bentuk perlindungan yang paling nyata tersedia bagi mereka.

          Gambar 4. Tangkapan layar dari film Women from Rote Island (Dokumentasi pribadi)

          Orpa tidak hanya berperan sebagai ibu yang menunggu, tetapi juga sebagai sosok yang mengorganisir keluarga untuk bertahan menghadapi tekanan sosial sekaligus melindungi Martha dari penghakiman lingkungan sekitar. Kehadiran Bertha menjadi pengingat bahwa kekerasan yang dialami Martha bukan kasus terisolasi, melainkan ancaman yang membayangi hampir setiap perempuan di lingkungan tersebut—sehingga solidaritas di antara mereka bertiga terasa seperti garis pertahanan terakhir. Film ini tidak menyajikan solidaritas ini sebagai penyelesaian yang menghapus trauma, melainkan sebagai satu-satunya bentuk keadilan yang benar-benar bisa mereka wujudkan sendiri, di tengah sistem yang terus-menerus menunda datangnya keadilan yang sesungguhnya.

          Kekuatan dan Kekurangan

          Dari keempat lapisan makna itu, terlihat bahwa film ini berhasil menyeimbangkan potret kekerasan dengan potret ketahanan, tanpa kehilangan keberpihakannya pada perempuan. Kekuatan utama film ini terletak pada keberanian tematik, sinematografi yang menyatu dengan lanskap Rote, serta penampilan Merlinda Dessy Adoe dan Irma Novita Rihi yang membawa kedalaman emosional tanpa terasa berlebihan. Sedangkan kekurangannya terletak pada pengulangan motif kekerasan yang bagi sebagian penonton terasa berlebihan sehingga sedikit mengaburkan arah cerita Martha sebagai individu, bukan sekadar simbol korban.

          Pada akhirnya, kekurangan dan kekuatan itu tidak saling meniadakan, melainkan sama-sama menegaskan posisi film ini sebagai karya yang penuh keberpihakan. Women from Rote Island bukan tontonan yang nyaman, dan barangkali memang tidak dimaksudkan untuk nyaman. Ia adalah usaha untuk memindahkan derita perempuan Indonesia Timur yang selama ini luput dari sorotan, ke layar yang lebih luas. Namun, film ini juga menegaskan bahwa di tengah derita itu, perempuan tidak pernah benar-benar sendirian: pulang saja tidak pernah cukup untuk menyembuhkan luka yang bermula jauh sebelum seseorang pergi, tetapi kehadiran sesama perempuan setidaknya menjadi awal dari pemulihan itu.

          Referensi

          Diamandis, P. (2024). Jeremias Nyangoen’s ‘Women from Rote Island’: Advocating Against Sexual Violence, Empowering Women from East Indonesia. ArtsHelp.com. Diakses pada 17 Juli 2026, dari https://www.artshelp.com/women-from-rote-island-advocating-against-sexual-violence-empowering-women-from-east-indonesia/

          Ningrum, A. T. W. (2024, 15 Februari). Sinopsis Film Women from Rote Island (2024), Kisah Pilu Buruh Migran Indonesia. Sediksi.com. Diakses pada 17 Juli 2026, dari https://sediksi.com/sinopsis-film-women-from-rote-island/ 

          Nyangoen, J. (Sutradara). (2023). Women from Rote Island (Perempuan Berkelamin Darah) [Film]. Bintang Cahaya Sinema & Langit Terang Sinema.

          Wikipedia. (2026, 19 Mei). Women from Rote Island. Wikipedia. Diakses pada 16 Juli 2026, dari https://en.wikipedia.org/wiki/Women_from_Rote_Island

          Subscribe
          Notify of
          guest

          0 Komentar
          Oldest
          Newest Most Voted
          Inline Feedbacks
          View all comments