“Aku ingin terbang dengan bebas di cakrawala!”
Kecipak air membasuh wajahku. Akan kuseka, andaikan aku punya tangan. Sayangnya aku adalah batu, seluruh permukaan tubuhku kasar dan tak beraturan. Jangankan berharap untuk punya tangan, bisa diam menjadi dinding kolam pun sudah beruntung. Meskipun harus hidup berdempetan dengan batu lain, setidaknya aku tidak terbawa longsor kemudian terbelah lalu terkikis hingga jadi pasir.
Oh ya, kalimat bertanda kutip di atas bukan milikku. Itu milik seekor ikan koi yang berenang-renang di hadapanku. Faktanya, lebih dari satu ekor ikan koi yang berenang-renang di sini. Terkadang mereka membuatku kesal, tak hanya sekali kecipak air yang mereka buat membuatku basah. Posisiku yang setara dengan permukaan air membuatku setengah basah dan setengah kering. Aku pun terkadang setengah sabar dan setengah marah ketika ikan-ikan koi itu berlenggak-lenggok memamerkan ruang gerak mereka, seakan mengejekku yang menempel pada dinding selamanya.
Omong-omong, perkenalkan, kami adalah ekosistem kolam yang terletak pada suatu rumah. Terdapat diriku dan batu-batu yang menempel di dinding dalam kolam, lumut yang mengendap pada batu sebelahku, dan tentu saja ikan-ikan koi yang berenang-renang dengan sombong. Entah siapa yang menciptakan kolam ini dan menempelkanku di sini, yang kutahu penghuni rumah itu adalah seorang gadis yang rambutnya dikuncir dua dan seorang wanita yang mungkin ibunya. Aku tahu karena mereka sering bergantian memberi makan para koi itu seminggu sekali. Minggu kemarin ibunya yang memberi makan, mungkin minggu ini anaknya yang akan kulihat. Jangan tanya mengapa aku bisa tahu waktu berjalan minggu demi minggu di sini.
Meskipun aku hanya sebuah batu, aku tentu saja berbeda dari batu-batu pada biasanya. Aku batu yang bisa berbicara, jangan samakan aku dengan batu-batu sialan yang mengapitku. Dulu, aku adalah batu sebesar pintu yang teronggok di kaki gunung. Longsor dan kawan-kawannya membelahku hingga membuatku jadi sekecil kenop pintu. Entah pohon atau benda apa yang membenturku hingga aku bisa berbicara seperti sekarang.
Tak terlalu ada untungnya juga bisa berbicara di ekosistem ini. Batu-batu di sekitarku sama diamnya seperti ikan mati, tak ada yang bisa kuceritakan kisah hebatku dulu sebelum jadi batu kolam. Tak ada bedanya aku bisa berbicara atau tidak.
Sejak pertama kali aku ditempatkan di sini, pekerjaanku hanya mengobservasi, melihat koi-koi mengibas-ngibaskan sirip mereka dan menciprati wajahku tanpa bisa kucegah. Aku mendengar beberapa dari mereka berbicara pada satu sama lain, tetapi tak bisa kupastikan apakah mereka semua berbicara.
Yang mereka gumamkan di air hanya ‘apa makanan yang akan kita makan?’ dan ‘kapan makanan berikutnya dijatuhkan ke kolam?’ Tak ada yang menarik, aku tak minat mengobrol dengan mereka.
Tak ada yang mengganggu dari obrolan tak bermutu itu kecuali gelembung-gelembung air berlebih yang meledak di depan wajahku. Yang mengganggu adalah seekor koi yang coraknya paling berbeda dibandingkan kawan-kawannya. Coraknya biru-oranye dan mulutnya tak mau diam. Ia gemar sekali berenang ke sana kemari sembari mengoceh tentang terbang dan langit biru, seakan tempatnya sekarang tidak ada bagus-bagusnya.
Memangnya apa yang bagus dengan angkasa? Apa yang bisa koi itu lakukan di sana? Ia hanya seekor koi dengan corak nyentrik. Tak ada yang bisa ia lakukan selain menggelepar jika keluar air. Aku merasa kasihan pada koi nyentrik itu, ia akan terbunuh karena ketidaktahuan dan mimpinya.
Kecipak air tak separah sebelumnya, pergerakan air hampir stagnan. Satu per satu koi berenang merendah, kibasan sirip mereka tak seaktif biasanya. Aku tak bisa mendongak, tapi kutebak sekarang sudah malam. Sungguh koi-koi yang malang, mereka tak bisa menyaksikan hari secara penuh sepertiku. Mungkin mereka akan seberuntung diriku di kehidupan yang selanjutnya.
***
Tampaknya tebakanku benar. Di atas, seorang gadis yang rambutnya dikuncir dua itu sedang menjatuhkan butiran yang entah apa ke dalam kolam. Koi-koi itu bergerak mengepakkan siripnya mengikuti arah butiran yang jatuh itu. Bodoh, batinku. Mau-mau saja mereka memakan butiran yang diberikan manusia itu. Beruntungnya aku tak perlu makan untuk dapat terus mengapung.
Gerombolan koi itu mangap-mangap, berebutan butiran yang mereka sebut makanan. Tak jarang persentase air yang masuk mulut malah lebih banyak daripada makanan. Ketika makanan habis, gerombolan itu bubar. Beberapa ada yang berenang ke dasar untuk menyedot makanan yang jatuh ke bawah.
Itu yang biasanya terjadi. Namun, koi-koi itu tidak berpencar. Gerombolan itu tetap, mereka seperti menanti sesuatu. Ah, pasti Si Nyentrik itu mulai lagi.
Koi dengan corak mencolok itu berenang-renang mengelilingi gerombolan, tampak mengoceh. Entah kawan-kawannya bilang apa, tapi aku yakin pasti mereka berharap mereka tidak ada di situ sekarang.
“Langit itu hebat! Bayangkan jika aku terbang di atas sana!”
Bualan itu lagi. Koi-koi yang lain berbisik pada satu sama lain, bertanya ‘memangnya terbang itu apa?’ Sedang yang lain berceloteh ‘pasti di langit ada makanan yang lebih besar!’ Aku tak habis pikir.
Gerombolan mulai bubar, meninggalkan Si Nyentrik dan ocehannya yang tak selesai-selesai.
“Hei, kalian mau ke mana? Tidak apa-apa jika kalian tidak mendengarku, karena nanti aku pasti akan tetap terbang dan melayang di angkasa yang biru!”
Terserah saja. Kini aku berharap tidak bisa berbicara dan mendengar seperti batu-batu yang mengimpitku.
***
Kutebak, Si Nyentrik pasti makan paling banyak ketika butiran makanan ditumpahkan. Aku penasaran dari mana energi yang Si Nyentrik miliki karena ia tidak pernah lelah berbicara mengenai mimpinya. Gelembung di sana dan di sini dibuatnya setiap membuka mulut, yang mana sangat menggangguku. Kuharap Gadis Kuncir Dua dan ibunya berhenti saja memberi makan koi-koi ini.
Aku bicara seperti itu karena hari ini tiba-tiba butiran makanan dijatuhkan, padahal belum jadwalnya. Sepertinya Gadis Kuncir Dua dan ibunya menerima tamu hari ini. Butiran makanan melayang-layang di air sejak tadi, seolah ada yang menumpahkannya tiap menit. Koi-koi bersorak senang dan bergerombol untuk menyedot makanan tanpa henti. Lebih banyak gelembung yang mengganggu, aku mulai kesal. Gadis Kuncir Dua maupun ibunya selalu rutin memberi makan seminggu sekali, tak pernah terlewat atau kelebihan. Pasti ada orang lain yang iseng menjatuhkan butiran makanan itu.
Butiran makanan masih banyak yang mengambang, tapi koi-koi itu berhenti makan. Mereka kekenyangan, satu-persatu mulai bubar dari gerombolan. Perut mereka juga terlalu penuh untuk mendengar celotehan mustahil Si Nyentrik.
“Hei, dengarkan aku! Aku bersumpah suatu hari aku pasti akan terbang ke atas sana!” Si Nyentrik berseru, yang akhirnya tetap diabaikan.
Namun, sesuatu tiba-tiba menarik atensi seluruh koi. Bukan Si Nyentrik, melainkan sesuatu yang terjatuh ke kolam. Dengan perut penuh, para koi menghampiri benda itu. Meskipun jatuh di dasar, aku bisa melihatnya. Besarnya hampir dua kali lipat diriku, aku yakin itu bukan makanan.
Koi-koi itu sama penasarannya denganku. Sayangnya, sebelum aku dapat membuat deduksi mengenai benda itu, benda itu terlanjur berkilat dan meledak.
***
“Aduh! Maaf sekali! Memang kelakuan anak-anak tidak bisa ditebak.”
Sore itu, Ibu dan Gadis Kuncir Dua memang kedatangan tamu. Itu adalah saudara perempuan Ibu, Gadis Kuncir Dua memanggilnya ‘Tante.’ Tante membawa kedua anak lelakinya yang masih kecil. Gadis Kuncir Dua tidak terlalu menyukai anak kecil, dan ia bisa mencium intensi mencurigakan dari keduanya.
Benar saja, kedua anak kecil itu menyalakan petasan dan melemparkannya ke dalam kolam ikan ketika Ibu dan Tante lengah. Gadis Kuncir Dua ingat betul ekspresi ngeri Tante ketika kedua anaknya tanpa peringatan melemparkan petasan yang menyala ke arah kolam ikan. Dalam sekejap, terjadi hujan ikan koi. Koi terlempar ke mana-mana, kolam pun retak. Tante pun tak tahu-menahu mengenai petasan itu. Ia yakin benda itu tidak ada sebelum berangkat ke sini. Anak kecil memang penuh dengan trik licik.
“Anak-anak, cepat minta maaf.” Tante melotot, menyuruh dua anak nakalnya untuk meminta maaf pada pemilik kolam.
Anak yang lebih tua berinisiatif, ia menunduk lalu menginjak pelan kaki adiknya, berbisik bahwa mereka harus meminta maaf pada hitungan ketiga.
“Maaf, Bibi. Kami berjanji tidak akan mengulanginya.” Ujar keduanya dengan rasa penyesalan yang dibuat-buat.
Ibu tersenyum sambil berkata tidak apa-apa. ‘Namanya juga anak kecil, mereka belum bisa berpikir apa konsekuensi atas aksi mereka.’ Namun, Gadis Kuncir Dua tampak tidak setuju dengan ibunya. Ia merawat semua koi itu sejak lama dan semuanya hancur dalam sehari di tangan dua iblis kecil itu? Ingin sekali Gadis Kuncir Dua menjewer kuping bocah-bocah sebanyak koi yang tergeletak mati di tanah.
Mau seramah apapun reaksi sang pemilik kolam, Tante tetap saja malu. Setelah menyelesaikan konversasi dengan singkat, ia izin pulang. Ia menyeret dua anaknya untuk masuk ke dalam mobil dan pergi dari rumah itu. Di kursi kemudi, ia melakukan dua agenda: mengemudi dan mengomel. Anak yang paling tua merengut, telinganya pengang mendengar kalimat-kalimat mutiara dari ibunya. Namun, kejadian tadi menakjubkan bukan main. Tentu saja mereka akan mengulanginya di tempat lain. Ia menoleh pada adiknya, berbisik dengan antusias.
“Hei, apa kau lihat tadi? Itu keren sekali, ikan-ikan beterbangan! Tapi yang terbangnya paling tinggi warnanya aneh, campuran biru dan oranye. Memangnya ada koi yang warnanya begitu, ya?”