Musyawarah Mahasiswa (Musma) kedua untuk membahas perencanaan pembentukan Badan Perwakilan Mahasiswa (BPM) Gama FIB yang seharusnya berjalan pada Rabu (23/9) mengalami penundaan hingga waktu yang belum dapat ditentukan. Keputusan tersebut diambil sesuai kesepakatan peserta forum yang merasa bahwa tujuan Musma lanjutan ini, yaitu penetapan ketua dan anggota BPM, tidak akan mencapai mufakat yang optimal. Hal tersebut disebabkan oleh absennya delegasi dari beberapa Himpunan Mahasiswa (Hima) dan kuota forum yang tidak terpenuhi.
Delegasi merupakan individu dari setiap Hima yang mencalonkan diri untuk menjadi bagian dari BPM Gama FIB. Kehadiran delegasi setiap Himpunan menjadi sangat penting untuk melaksanakan agenda Musyawarah Mahasiswa kedua. Mekanisme delegasi ditempuh atas dasar hasil keputusan bersama pada Musma yang dilaksanakan pekan lalu. Dalam keputusan tersebut, setiap Hima diharuskan mengirim perwakilan untuk pembentukan BPM Gama FIB selambat-lambatnya pada Jumat (18/9). Risiko terhadap keputusan itu yang telah dibahas pada artikel sebelumnya (“Usai Beberapa Waktu Mengalami Kekosongan, Akankah BPM Gama FIB Kembali Terbentuk”) ternyata benar-benar terjadi. Terdapat Hima yang tidak memiliki delegasi karena kesulitan mencari individu yang bersedia menjadi bagian BPM Gama FIB. Mengutip kembali perkataan Moh. Cahya Kurnia sebagai Presidium 1 pada Rabu (16/9), keputusan lanjutan terkait dengan mekanisme pendelegasian—apakah tetap sah dengan kondisi beberapa Hima saja yang mengumpulkan perwakilan atau akan ada perpanjangan waktu—akan dibicarakan dengan Gama FIB pada Musma berikutnya.
Minimnya tingkat partisipasi Gama FIB masih menjadi persoalan dalam penyelenggaraan Musma kedua. Duta Athallah selaku Ketua Himpunan Mahasiswa Sastra Arab sekaligus Presidium 2 mengatakan, “Dari saya, saya mengakui kalau penyebaran informasi untuk sidang Musma lanjutan ini tidak se-efektif sidang Musma minggu lalu. Maka dari itu, ada kemungkinan delegasi tidak hadir karena informasi mengenai sidang Musma lanjutan ini tidak sampai ke mereka.”
Lalu, bagaimana perbaikan yang akan dilakukan mengenai penyebarluasan informasi Musma ini? Duta menyatakan rencananya untuk meminta tiap Hima membuat Broadcast Chat (BC) yang nantinya akan menjangkau mahasiswa dengan lebih praktis dan konkret. Selanjutnya, mengenai pelaksanaan Musma yang sejauh ini selalu dilaksanakan secara luring, terdapat kemungkinan untuk dilakukan dengan cara yang lebih fleksibel ke depannya agar dapat meningkatkan partisipasi Gama FIB. “Saya berencana untuk diskusi dengan pimpinan Hima lain di FIB untuk penyesuaian baru. Kalau nantinya akan ada opsi daring, setiap delegasi tentu akan diwajibkan hadir dan menyimak isi Musma,” imbuh Duta.
Sebagai penutup, Duta menyampaikan bahwa ia berharap akan ada diskusi lanjutan bersama pimpinan Hima lainnya mengenai mekanisme penyebarluasan informasi Musma ke depannya. Broadcast Chat atau selebaran akan menjadi opsi yang akan dipertimbangkan untuk membuat Musma ini lebih banyak menarik perhatian mahasiswa. Terkait dengan pelaksanaan Musma akan dilakukan secara luring atau daring juga akan diumumkan setelah Presidium berdiskusi dengan kumpulan pimpinan Hima minggu ini.
Tentu, setiap pelaksanaan Musma selalu menjadi ruang untuk belajar dan berbenah. Atas berbagai evaluasi yang telah disampaikan, akankah Musma selanjutnya benar-benar terealisasikan dengan lebih baik? Berikan pendapatmu di kolom komentar!