Rengkuh diriku,
meski harus melalui hancurnya sebuah bintang
Meski jari manis ini tidak bisa bertaut karena terlampau ringkih
Kubilang, rengkuhlah raga ini
Yang terlalu banyak menyimpan kegamangan
Dari bait-bait yang hanya mencapai ujung lidah
Dari kasih yang kerap bermuara di tatapanmu, lalu menjadi doa yang terbawa angin
Akulah yang terjerat di antara tutur katamu
Yang berbisik menjanjikan tenang
Yang mengurai namaku laiknya filsuf
Kubilang, ah
Bermimpiku suatu kisah
Asmara yang bersanding dengan abadi
Raut yang termakan masa
Kasih yang berpendar redup menghangatkan
Misteri di kepala yang tak hentinya menakjubkanku
Dekap aku dalam luruh segala benteng
Ketika hari tak bertemu ujung
Ketika takdir terus menemukan titik yang sama
Ketika menyabak terlalu hina untuk ditunjukkan
Maka tunduklah sang dewi
Karena kita melawan penyerahan paling jujur
Untuk berserah dalam keadaan sehitam jelaga
Semortal lembayung sore
Sesingkat harsa kefanaan