Fakultas Ilmu Budaya (FIB) kembali diramaikan oleh penyelenggaraan Putra-Putri FIB 2026 dengan mengusung tema “Samanvaya Kumandra”, yang bermakna “Persatuan dan Harmoni dalam Keberagaman”. Ajang ini tidak sekadar menjadi wadah untuk memilih dua duta mahasiswa FIB, tetapi juga menjadi ruang bagi mahasiswa untuk mengembangkan kompetensi, karakter, dan jiwa kepemimpinan agar mampu memberikan kontribusi positif bagi lingkungan akademik maupun masyarakat.
Grand Final Putra-Putri FIB 2026 digelar pada 20 Agustus di Aula Gedung Program Studi Bahasa Jepang. Acara berlangsung dalam dua sesi, yakni pukul 16.00–18.00 WIB dan dilanjutkan kembali setelah jeda hingga pukul 20.00 WIB.
Ajang tahunan ini berlangsung meriah dengan keterlibatan mahasiswa dari berbagai program studi. Kehadiran para mahasiswa turut menambah antusiasme acara, baik untuk memberikan dukungan kepada teman maupun kepada program studi yang mereka wakili. Sebelum mencapai tahap Grand Final, para finalis juga telah mengikuti tiga kali masa karantina sebagai persiapan untuk mengembangkan kemampuan, menggali potensi, dan mempersiapkan penampilan terbaik mereka.
Acara dibuka oleh MC yang memasuki panggung, dilanjutkan dengan sambutan dari Rahmat Sopian selaku Manajer Akademik dan Kemahasiswaan serta Project Officer Putra-Putri FIB 2026. Tiga juri kemudian diperkenalkan kepada para hadirin, yaitu Asep Yusup Hudayat, dosen Sastra dan Kajian Budaya Sunda; Iwan Ridwan, Duta Lingkungan Jawa Barat; dan Arjuna Sastro Aji Harahap, Putra Padjadjaran 2025.
Rangkaian acara berlanjut dengan perkenalan 12 finalis yang berasal dari berbagai program studi di FIB. Para finalis tersebut adalah Aida Chairani Zahra dari Sastra Arab; Nashanda Raissya Sudaya dan Aldi Rizal dari Sastra Sunda; Zerlina Emily Fasa dari Sastra Indonesia; Arnetha Grachella Renata P. A. dan Dei Anugerah Ginting dari Sastra Jerman; Hilna Hamidah dari Sastra Prancis; Ovi Riyanti dan Dhika Ramdhani Gemilang dari Ilmu Sejarah; Keisha Azzalia Ayushita dari Sastra Jepang; Kayla Karina Sembiring dari Sastra Rusia; serta Maryam Hafizha Hanum dari Sastra Inggris.
Pada malam Grand Final Putra-Putri FIB 2026, para finalis tidak hanya menampilkan kemampuan dan bakat, tetapi juga menyuarakan berbagai isu sosial melalui pidato yang mereka bawakan. Gagasan yang disampaikan mencakup perlindungan anak dari child grooming, pencegahan cyberbullying, kesetaraan gender, penanganan budaya patriarki, hingga peningkatan kesadaran terhadap disinformasi dan polarisasi di media sosial.
Keberagaman isu tersebut menunjukkan kepedulian para finalis terhadap persoalan yang dekat dengan kehidupan masyarakat sekaligus mencerminkan semangat untuk menciptakan lingkungan yang lebih aman, setara, dan kritis.
Antusiasme terhadap rangkaian Grand Final juga dirasakan oleh para penonton yang hadir. Salah satunya adalah Darryl, yang datang untuk memberikan dukungan kepada temannya yang menjadi finalis. Ia mengaku terkesan dengan persiapan dan penampilan para peserta.
“Saya bisa lihat dari tampilan dari semua pidato itu semuanya bekerja keras,” ujar Darryl.
Tidak hanya meninggalkan kesan bagi penonton, ajang ini juga memberikan pengalaman baru bagi para finalis. Maryam Hafizha Hanum, perwakilan Putri dari Program Studi Sastra Inggris, mengaku senang dapat bertemu dan membangun koneksi dengan mahasiswa dari berbagai program studi.
“Aku senang bisa bertemu dan kenalan dengan orang-orang dari prodi lain, bisa punya koneksi dengan Putra-Putri FIB, mulai dari para delegasi tahun ini, tahun kemarin, panitia, dan jurinya,” ucap Maryam.
Memasuki sesi kedua, para finalis menghadapi sesi tanya jawab bersama para juri. Setelah melalui seluruh rangkaian penilaian, Dhika Ramdhani Gemilang dari Program Studi Ilmu Sejarah dinobatkan sebagai Putra FIB 2026, sedangkan Kayla Karina Sembiring dari Program Studi Sastra Rusia terpilih sebagai Putri FIB 2026.
Gelar runner-up juga diberikan kepada sejumlah finalis. Runner-Up I Putra diraih oleh Dei Anugerah Ginting dari Sastra Jerman, sedangkan Runner-Up I Putri diraih oleh Hilna Hamidah dari Sastra Prancis. Sementara itu, Runner-Up II Putra diraih oleh Aldi Rizal dan Runner-Up II Putri diraih oleh Nashanda Raissya Sudaya, keduanya dari Sastra Sunda.
Selain gelar utama, Keisha Azzalia Ayushita dari Sastra Jepang dinobatkan sebagai Putri Favorit, sedangkan Arnetha Grachella Renata Perangin-Angin dari Sastra Jerman meraih gelar Putri Berbakat.
Lebih dari sekadar ajang penobatan, berbagai gagasan yang dibawa para finalis juga memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi program yang berkelanjutan. Isu seperti cyberbullying, kesetaraan gender, perlindungan anak, dan literasi digital dapat menjadi bagian dari program edukasi yang melibatkan mahasiswa maupun masyarakat. Dengan demikian, gagasan yang telah disuarakan selama masa karantina dan Grand Final tidak berhenti sebagai materi advokasi di atas panggung, tetapi dapat diwujudkan melalui aksi nyata.
Dengan diumumkannya hasil akhir, rangkaian Putra-Putri FIB 2026 pun resmi berakhir. Namun, ajang ini diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan tahunan yang berakhir pada malam penobatan. Putra-Putri FIB diharapkan dapat terus menjadi wadah bagi mahasiswa untuk mengembangkan potensi, menyuarakan kepedulian terhadap berbagai isu sosial, dan menghadirkan perubahan positif di lingkungan Fakultas Ilmu Budaya.
Keberlanjutan program dan gagasan yang dibawa para finalis menjadi langkah penting agar semangat “Samanvaya Kumandra” tidak hanya hadir di atas panggung, tetapi juga tumbuh menjadi kontribusi nyata bagi mahasiswa dan masyarakat.