Deru kendaraan di samping kiri dan kanan memenuhi kepalaku. Rasanya pusing sekali, langkahku gontai sembari melihat papan reklame yang mencolok mata dengan sinar LED-nya di atas gedung tinggi. Disana tertulis “Pilih #### demi kemajuan!” sayangnya papan tersebut beradu dengan reklame lain yang mempromosikan rokok kretek. Mataku mengarah ke arah lain, muda-mudi berpacaran di tengah malam, lampu jalan berkedip, jalanan yang becek. Tiba-tiba mataku terhenti pada sesosok tinggi berkain putih dengan aroma tanah.
“Aku pasti sudah gila, aku kebanyakan menatap layar hari ini…”
Aku bergumam pada diriku sendiri kemudian mengusap mata sambil memaki pekerjaan dengan beban kerja tidak masuk akal itu. Langkahku tiba-tiba dihentikan oleh wujudnya di depan mata, badanku hampir menabraknya.
“Masnya… bisa liat saya? eh jangan takut mas saya laki-laki kok”
Aku merutuk diriku sendiri karena menatap matanya, langsung kupalingkan wajahku pada wanita yang sedang duduk sendirian di samping toserba sambil menyesap rokoknya. Aku berusaha mengabaikan wujudnya di belakangku sembari memaksa langkahku membeli seporsi mie cup instan sebelum memilih duduk di taman yang nampak sepi. Terlihat dari banyaknya pemuda bertato yang duduk sambil merokok di pojokan ditemani botol hijau.
“Mas… habis kerja ya? ngobrol dong sama saya, pendiem banget”
suaranya berat, agak tertahan oleh ikatan kain di bawah dagunya.
Aku hanya mendengus, mencium aroma tubuhnya membuat nafsu makanku sedikit menurun namun kupaksa mengaduk mi instan yang kuahnya sudah mulai dingin oleh angin malam itu. Pikiranku menolak untuk memproses kehadirannya. Kuputuskan untuk menelan mi itu secepat mungkin, membuang mangkuk plastiknya ke tempat sampah yang sudah meluber, lalu berjalan cepat menuju gang indekosku.
Anehnya, langkah terseret-seret itu terus mengikutiku. Melewati aspal berlubang, masuk ke dalam gang sempit yang berbau got mampet dan becek dengan sampah plastik.
“Pak gausah ngikutin saya deh, mau maling pun uang saya habis cuma buat beli mi. Lagian sekarang akhir bulan”
“Masnya kegeeran orang kosan saya sebelah mas, jarang begaul ya mas?”
Aku mengabaikannya, memilih mempercepat langkahku hingga akhirnya sampai di teras kamar kos petak seukuran lapas namun ajaibnya dapat ditinggali oleh manusia bebas. Lampu neon 5 watt di atasku berkedip-kedip, seolah ikut kelelahan menjalani hari. Terlihat kursi rotan panjang di depan kos kami berdua.
Aku duduk di kursi rotan, suaranya berdecit kemudian mengeluarkan sebatang rokok dan mulai menghisapnya. Kupikir bapak pocong itu akan pergi, tapi ia malah ikut merebahkan tubuhnya yang terbalut kain putih kotor di sampingku. Aku memilih mengabaikannya lagi. Merogoh saku celana, aku mengeluarkan ponsel keluaran 6 tahun lalu yang layarnya sudah retak di ujung.
Aku berniat mencari hiburan kosong untuk menutup hari, tapi yang menyapaku justru deretan notifikasi portal berita.
“Harga Kebutuhan Pokok Meroket, Menteri Sarankan Masyarakat Kurangi Makan.”
“Inflasi Tertinggi dalam Dekade Ini, Kebijakan Impor Berubah ujar ####”
“Video Viral! Balasan Anggota Dewan Ketika Ditanya Kenaikan BBM: ‘Jalan Kaki Lebih Sehat’ ”
Mataku terpaku pada layar. Kuputar video itu. Terlihat seorang pria berjas rapi yang perutnya buncit, berguyon ketika ditanya pasal kenaikan harga kemudian BBM kemudian segera masuk ke mobil keluaran terbaru itu. Dengan refleks, jariku mengusap layar yang telah retak itu hanya untuk disambut dengan canda tawa selebritas dan deretan konten hedonisme yang trending.
Dadaku tiba-tiba sesak. Udara malam yang dingin terasa seperti mencekik leherku. Selama ini, aku selalu mengutuk diriku sendiri, memandang jalanan, papan reklame, wanita di toserba, hingga pengamen jalanan. Kesanku pada mereka hanya selayang pandang, sesuai yang nampak di permukaan. Sulit rasanya hidup di negeri ini, melihat berita selayang pandang saja sudah tak sudi.
Kenapa? karena realitas absurd ini.
Orang-orang berjas rapi di puncak rantai makanan sana, sedangkan aku dan jutaan pekerja yang berangkat sebelum matahari terbit dan pulang setelah bulan meninggi. Kami bukan manusia bernyawa. Kami hanyalah deretan angka statistik kehidupan warga negara besar, sekrup kecil penebus pajak, sebuah lelucon besar yang bisa mereka tertawakan sambil menyesap anggur mahal. Kami semua hidup di bawah sol sepatu mereka, dianggap tak lebih dari debu, hanya selayang pandang saja bagai janji mereka.
Di tengah lamunanku, terdengar suara tarikan nafas panjang dari sampingku.
Sosok berkain kafan itu duduk. Dengan susah payah, ia membuka ikatan tali di atas kepalanya. Kain putih itu melorot, memperlihatkan kaus partai yang sudah pudar warnanya. Pria paruh baya itu merogoh kantong kresek di balik kainnya, mengeluarkan botol air mineral bekas, dan membasuh wajahnya yang cemong oleh bedak tabur murahan yang kini luntur karena keringat yang masam.
Ia meminum airnya teguk demi teguk, lalu menoleh ke arahku yang masih mematung menatap layar ponsel.
“Dunia ini emang lucu ya, Mas”
ucapnya santai, suaranya kini terdengar seperti bapak-bapak pada umumnya. Ia mengusap sisa bedak di ujung bibirnya. Kantong matanya masih nampak hitam, entah karena begadang atau sisa kosmetik hitam agar wajahnya tampak serupa pocong.
Aku terdiam, tak tahu harus merespons apa.
“Saya ini seharian pura-pura mati, dibuntel kain gatel, loncat-loncat di lampu merah cuma buat dapet recehan. Kadang diusir satpam, kadang ditertawakan anak sekolah”
Ia terkekeh kecil, menatap lurus ke mataku.
“Tapi setelah merhatiin Mas dari tadi… saya jadi mikir.”
“Mas ini yang sebenarnya udah mati, ya? Jalan nunduk terus, liat orang cuma sebelah mata, nggak peduli sekitar. Pergi pagi pulang malam cuma buat dikerjain bos dan negara. Masih napas sih, badannya masih gerak…”
Bapak itu berdiri, menepuk debu di celana jin belelnya yang sebelumnya tersembunyi di balik kafan.
“…tapi kayaknya, jiwa Mas udah lama dikubur, diajak ngobrol pun diam kaya pocong”
Ia menghela napas berat, mengangguk setengah sopan, kemudian berjalan pergi masuk ke kamar samping kosku, membiarkan kain kafan palsunya terseret, timbul dari kresek hitamnya. Pintu kosnya tertutup rapat.
Aku tertinggal di sana, di bawah lampu teras kos yang berkedip, terdengar suara token listrik nyaring. Sendirian. Tanganku gemetar memegang ponsel yang layarnya masih menyala. Deru kendaraan dari jalan raya terdengar seperti lagu pemakaman, dan untuk pertama kalinya, aku menyadari bahwa aku sedang menghadiri pemakamanku sendiri.
“Harus tidur besok shift pagi…”
Terdengar pintu kayu tua berderit, sebelum berdebam tertutup. Meninggalkan kursi berderit, kucing mengeong, berlari melewati kosan sembari mengejar tikus yang berhasil kabur ke dalam got berlumpur.
– Tamat –