Siang ini bus kota terasa begitu ramai, Aku duduk di kursi paling belakang, tepat di samping jendela. Pagi tadi cukup melelahkan bagiku, aku bangun tidur dengan pikiran yang sesak dan mata yang sembab. Untungnya hari ini aku pulang lebih cepat.
Bus melaju perlahan. Semua kursi terisi penuh, ada yang duduk dekat sopir, ada pula yang berdiri sambil berpegangan pada handle grip.
Cahaya matahari menyapa wajahku, cerah sekali. Namun entah mengapa hatiku enggan merekah sepenuhnya. Rasanya abu-abu bagai kabut di pagi hari. Oh, mungkin aku sedang rindu rumah, karena hidup di perantauan tentu tidak mudah. Aku rindu dengan Ibu yang selalu membuatkan sarapan pagi untukku, membuat bekal untuk aku makan di sekolah, dan usapan lembut di kepala saat aku menangis. Barangkali hari ini aku tidak hanya merindukan rumah atau Ibu. Tampaknya, aku juga sedang kehilangan seseorang. Bukan, bukan kehilangan seorang lelaki atau ikatan cinta yang pernah ada. Bukan pula kehilangan tangan yang selalu menggenggam tanganku.
Tapi aku kehilangan diriku sendiri.
Karena itulah aku memutuskan untuk pulang hari ini, menemui Ibu.
Perjalanan selama tiga jam akhirnya usai. Berbagai wajah kutemui di sepanjang perjalanan. Mungkin mereka juga sedang pulang untuk melepas rindu, atau justru sedang meninggalkan seseorang yang akan mereka rindukan.
Aku turun dari bus dan memesan ojek daring menuju rumah. Untungnya, hanya perlu tujuh belas menit hingga akhirnya aku tiba.
Ibu menyambutku dengan pelukan hangat.
Rambutnya telah memutih. Tangannya mulai dipenuhi keriput. Langkahnya tak lagi tegap, sedikit membungkuk dimakan usia. Padahal dulu, Ibu adalah perempuan yang begitu kuat. Ia bekerja tanpa mengenal lelah demi keluarga, lalu tetap menjalankan seluruh tanggung jawabnya sebagai seorang ibu rumah tangga.
“Sehat, Nak?” Suara itu begitu lembut.
Aku tak mampu menjawab. Aku hanya memeluk Ibu semakin erat sambil menangis.
Sesaat kemudian Ibu membuatkan secangkir teh hangat agar aku sedikit lebih tenang. Ia duduk di sampingku, mengusap kepalaku, lalu tersenyum.
Rumah ini terasa sunyi. Dingin. Namun tetap hidup, sebab Ibu masih ada di dalamnya.
“Ibu… maaf ya, akhir-akhir ini aku sering merepotkan Ibu.”
“Lho, kata siapa? Ibu tidak pernah merasa direpotkan oleh anak Ibu sendiri.”
Ibu kemudian mengalihkan pembicaraan. Ia bertanya tentang kebahagiaan-kebahagiaan kecil yang kutemui selama hidup di perantauan. Tanpa kusadari, aku kembali tertawa.
Keesokan paginya aku mengantar Ibu ke pasar membeli bahan masakan. Senyumnya tampak begitu cerah pagi itu. Waktu bersama Ibu selalu menjadi bagian yang paling kutunggu setiap kali pulang.
Namun hari itu aku menyadari sesuatu.
Langkah kaki Ibu tak lagi secepat dulu. Beberapa kali ia berhenti di depan lapak sayur, menghela napas pelan, lalu mengusap keringat di dahinya. Aku pulang karena ingin kembali menjadi anak kecil. Ingin bersembunyi dari kerasnya kota perantauan di balik punggung Ibu yang dulu terasa begitu kokoh.
Namun kenyataan tidak berjalan seiring harapan.
Punggung itu tak lagi setegap benteng tempatku berlindung.
Waktu telah mengikis kekuatannya.
Sore harinya, aku dan Ibu duduk berdua di teras sambil menikmati teh buatanku. Ibu menatapku dengan mata yang seolah menyimpan seluruh rahasia waktu. Senyumnya begitu tenang, seakan mengetahui semua badai yang sedang berkecamuk di dalam dadaku.
“Nak, perantauan itu seperti bus kota.”
Aku menoleh.
“Ramai, bising, dan terkadang membuatmu merasa sendirian di kursi paling belakang. Tapi ingat, bus tetap berjalan karena memiliki tujuan. Begitu juga hidupmu.”
Aku terdiam, menahan sesak di tenggorokan.
“Tapi… kota membuatku merasa kehilangan diriku sendiri.”
Ibu menggeleng pelan.
“Bukan kehilangan dirimu. Kamu hanya sedang bertumbuh menjadi lebih dewasa. Menjadi dewasa memang seperti berjalan di tengah kabut. Kadang membuatmu bingung ke mana arah yang harus dituju. Tapi kabut tidak pernah selamanya tinggal.”
Ibu mengusap pipiku, menghapus setitik air mata yang jatuh.
“Besok pulanglah lagi ke kotamu. Bawalah bagian dari Ibu dalam setiap cangkir teh yang akan kamu minum. Kamu merantau bukan untuk menjadi kalah, melainkan untuk menjadi lebih kuat. Dan kalau rindu, pulanglah. Ibu akan selalu memelukmu.”
Kalimat Ibu sore itu membuat kabut abu-abu di hatiku perlahan menghilang, berganti cahaya jingga yang hangat.
Di hadapan seorang ibu yang terus menua, aku akhirnya menemukan kembali sepotong diriku yang sempat hilang—yang perlahan belajar menjadi pelindung, bukan lagi sekadar anak yang selalu ingin dilindungi.
Tentramnya telinga yang mendengar
Tanpa menghakimi
Secangkir kopi hangat
Yang kita hirup berdua
Gurauan dalam petuahmu
Ibu, ibu, ibu, aku rindu