Dika Aulia Ardiansyah, mahasiswi Sastra Rusia angkatan 2023 merupakan Juara I Mahasiswa Berprestasi (Mawapres) 2026 Fakultas Ilmu Budaya (FIB) sekaligus Top 10 Pilmapres Universitas Padjadjaran. Awalnya, Dika tidak memiliki minat pada ajang ini, tetapi program studi mendorongnya ikut pada tahun 2025 karena sejumlah prestasi internasional yang ia miliki.
Pada saat pelaksanaan Pilmapres FIB 2025 Dika sempat mengira kompetisi akan berlangsung kaku dan kompetitif. Namun Saat itu, langkahnya terhenti setelah tahapan wawancara sebelum presentasi Gagasan Kreatif (GK). Merasa belum tuntas, ia kembali berjuang di Pilmapres 2026 sebagai perwakilan angkatan 2023.
Menghadapi persaingan lintas rumpun, terutama saat identitas humaniora bersanding dengan sains dan teknologi, menjadi tantangan tersendiri bagi Dika. Namun, ia memilih menonjolkan kekuatan dirinya sebagai mahasiswa sastra yang terbiasa berbicara, bersosialisasi, dan berekspresi. Ia juga mendapat dukungan dari dosen pembimbing dan Kaprodi melalui pendampingan serta simulasi presentasi ilmiah. Meski sempat gugup saat presentasi berbahasa Inggris, ia mampu mengatasinya dengan latihan intensif dan keterlibatan di UKM dapat melatih manajemen waktunya serta kedisiplinan.
Sementara itu, Zilvana Aprilianiputri, mahasiswi Ilmu Sejarah angkatan 2023, juga membagikan kisahnya sebagai Juara II Mawapres FIB 2026. Sama seperti dengan Dika, ia mulai mengikuti ajang ini atas arahan dosen pada 2025. Menghadapi sesi wawancara, presentasi akademik, dan tanya jawab dengan dewan juri menggunakan bahasa Inggris menjadi fase paling menantang bagi Zilvana. Mengingat bahasa Jawa adalah bahasa ibunya dan ia baru aktif mempelajari bahasa Inggris saat SMA, ia sempat didera kesulitan di bagian speaking. “Tantangan terbesarku adalah rasa minder dan struggling di bagian speaking. Cara aku mengatasinya dengan memahami kelebihan & kekurangan diri sendiri, serta fokus memercayai karya yang dibawa,” ungkap Zilvana, ia berhasil meredam kegugupannya dengan strategi unik, seperti mengajak berbicara orang di sekitarnya atau berlatih dengan metode mengajar berbicara di depan teman sebelum tampil.
Di tingkat fakultas, Zilvana mengembangkan Gagasan Kreatif berupa Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) untuk mengurangi risiko kecelakaan di sekitar kampus, serta konsep mesin sampah otomatis berbasis poin yang dapat ditukar dengan voucer makan di kantin. Kerja keras tersebut membawanya meraih posisi Juara II, meski pengumuman diterima secara mendadak saat ia baru tiba di kampung halaman.
Perjalanan keduanya tidak luput dari berbagai dinamika di balik layar yang menguji komitmen emosional mereka. Persiapan Pilmapres yang serba mendadak dengan waktu yang padat sempat membuat Dika merasa nothing to lose, hingga ia harus melakukan kurasi ketat bersama juri universitas untuk memangkas berkas sertifikatnya agar pas menjadi 10 Capaian Unggulan (CU) terbaik. Di sisi lain, keteguhan Zilvana diuji oleh ketatnya birokrasi dan prinsip tegas dosen pembimbing yang menerapkan aturan “Take it or leave it” saat ia meminta kelonggaran seleksi secara daring demi bisa pulang ke kampung halamannya. Strategi dalam menyusun berkas Capaian Unggulan (CU) juga menjadi kunci keberhasilan mereka tembus di posisi terbaik.
Dika menerapkan strategi matang dengan melakukan analisis bobot nilai sesuai Pedoman Pilmapres Nasional yang diperbarui setiap tahun. “Strategi khusus aku adalah mengutamakan prestasi di tingkat internasional terlebih dahulu. Kemudian untuk kategori organisasi, aku memilih sertifikat yang cakupan, seperti kepala agar poinnya lebih strategis,” papar Dika.
Zilvana pun menambahkan strategi krusialnya yang berfokus mencari sertifikat eksternal di luar lingkungan Unpad, karena jika hanya mengandalkan sertifikat organisasi internal tingkat fakultas atau universitas, bobot nilainya bisa bernilai 0.
Berdasarkan pengalaman berharga mereka, proses mengumpulkan portofolio prestasi harus dicicil sejak berstatus sebagai mahasiswa baru dengan aktif mengikuti perlombaan nasional maupun internasional, karena lebih baik menyesal karena mencoba daripada menyesal tidak pernah mencoba sama sekali. Selain itu, mahasiswa disarankan masuk ke organisasi yang tepat yang memberikan ruang bagi anggotanya untuk memimpin, melatih kemampuan mengambil keputusan, mengasah leadership, serta memahami manajemen organisasi yang baik.
Sebagai penutup, ajang Pilmapres ini bukan sekadar tentang perburuan gelar juara, melainkan sebuah proses pembentukan mentalitas akademik mahasiswa. Dika berharap iklim prestasi di FIB ke depan semakin hidup tanpa ada lagi ketakutan untuk memulai, serta mengingatkan agar mahasiswa tidak menginginkan hasil yang serba instan tetapi menikmati semua proses rumit, lelah, dan dinamika di dalamnya karena proses itulah yang akan mendewasakan kapasitas diri karena itu yang akan paling membekas di ingatan. Zilvana pun berpendapat sebagai dorongan semangat bagi seluruh mahasiswa rumpun budaya agar tidak ragu melangkah ke ranah kompetitif. “Tantangan terbesar adalah berani untuk memulai, dan jika sudah dimulai, harus diselesaikan hingga akhir jangan berhenti di tengah jalan hanya karena minder melihat orang lain,” pungkas Zilvana.