Mencari Makna di Tengah Keterasingan: Alienasi Eksistensial dalam Lost in Translation (2003)

Aubrey Malika
27 views
','

' ); } ?>

I just don’t know what I’m supposed to be. I’ve tried to be a writer, but I hate what I write. I’ve tried taking pictures, but they’re so mediocre.” 

Gambar 1. Diambil dari Pinterest @elenalouiisa

Lost in Translation (2003) merupakan feature film kedua dari Sofia Coppola yang meraih penghargaan Oscar untuk best original screenplay, nomination best picture, dan historic nomination for best director. Sofia Coppola mencetak sejarah sebagai sutradara perempuan Amerika pertama yang meraih  pengakuan tersebut. 

Kehadiran Sofia Coppola di dunia perfilman merupakan langkah besar bagi perempuan. Ia muncul di kancah perfilman ketika hanya ada sedikit perempuan yang menerima pengakuan atau sumber daya untuk karya mereka. 

Sofia Coppola terkenal dengan keahliannya dalam menggambarkan kompleksitas feminitas. Karya-karyanya dominan berfokus pada kehidupan dari perspektif perempuan; kehidupan yang terisolasi, ketidakbermaknaan, alienasi dari lingkungan, transisi masa remaja ke kedewasaan, dsb. 

Dalam film Lost in Translation (2003), yang mengambil topik tentang keterasingan dalam kehidupan kota besar, tokoh utama disorot dalam penulisan minimalis. Penonton diajak untuk menyusuri cerita melalui scene tanpa suara, pengambilan gambar yang lama, dan musik untuk membangun suasana tertentu. 

Lost in Translation (2003) menceritakan apa? 

Menceritakan Charlotte, seorang wanita muda Amerika lulusan filsafat yang tengah menjalani pernikahan berusia dua tahun, dan Bob Harris,  seorang aktor Amerika yang berkunjung ke Jepang untuk membintangi iklan wiski Suntory. 

Charlotte datang ke Jepang dengan alasan ikut suaminya, John, yang berprofesi sebagai fotografer di sana. Akibat kerap ditinggal kerja suaminya, Charlotte sering merasa  kesepian, sehingga ia mengisi waktunya dengan menjelajahi kota metropolitan Tokyo, mengunjungi kuil-kuil spiritual, hingga bertemu teman-temannya yang tinggal di Jepang. 

Di saat yang bersamaan, Bob yang bersedia membintangi iklan wiski Suntory, sebenarnya memiliki alasan untuk rela pergi jauh dari negeri asalnya. Memasuki masa krisis paruh baya, Bob mulai merasa jenuh dan memiliki keinginan untuk menjauh dari istri dan anaknya. 

Pertemuan Charlotte dengan Bob terjadi tanpa sengaja. Keduanya kebetulan menginap di satu hotel, sehingga mereka acap kali makan malam atau minum-minum di restoran hotel yang sama. Satu hal yang menarik perhatian Charlotte adalah Bob selalu duduk sendirian di tempat yang sama setiap malam. Seorang paruh baya Amerika yang kesepian. Setelah sempat rekognisi satu sama lain, Charlotte menitipkan segelas minuman untuk Bob melalui pelayan. Pertemuan pertama mereka berhenti di situ. 

Pada pertemuan kedua, Charlotte menghampiri Bob yang sedang minum segelas wiski seorang diri di bar hotel. Diiringi nyanyian live jazz, mereka membicarakan tentang diri masing-masing. Keduanya pun akhirnya  merasakan percikan antusiasme yang selama ini absen di hidup mereka. 

Charlotte yang masih berusia awal dua puluhan, seakan sedang bercermin untuk mencari makna kehidupan dari Bob yang sudah hidup setengah abad. Ia menanyakan tentang pernikahan, tantangan yang akan dihadapi seiring bertambahnya usia, hingga tujuan hidup itu sendiri. Sedikit yang ia tahu, Bob yang bernotabene sebagai seorang aktor terkenal, juga masih bertanya-tanya akan banyak hal, terutama hal yang sudah ia lalui dan miliki. 

Pertemanan keduanya berlanjut seiring banyaknya agenda yang dilalui bersama, seperti ketika Charlotte mengajak Bob untuk menemui teman-temannya. Mereka menghabiskan malam dengan pergi ke klub, melakukan fotografi, dikejar-kejar segerombolan orang yang merasa teritorialnya terancam, hingga berakhir di tempat karaoke. 

Gambar 2. Diambil dari Pinterest @Lucas_Emmanuel

Terdapat scene ketika Charlotte dan Bob saling bersandar dan merokok bersama, berkontemplasi tentang dinamika hubungan mereka yang jauh lebih kompleks daripada jalinan perasaan romantis belaka. 

Meskipun terpaut jarak umur yang cukup jauh, Charlotte dan Bob membagi perasaan melankolis yang sama. Keduanya  bisa saling memahami tentang situasi krisis eksistensial masing-masing. Charlotte yang merasa sendirian dan tersesat di kota megah Tokyo dan Bob yang merasa sudah mengambil keputusan bodoh sehingga luntang-lantung di kota yang sama, bisa memiliki perspektif baru untuk menghabisi sisa waktu mereka di sana. 

Gambar 3. Diambil dari Pinterest @dreamgirldiary

I just don’t know what I’m supposed to be. I’ve tried to be a writer, but I hate what I write. I’ve tried taking pictures, but they’re so mediocre.” 

Ungkap Charlotte kepada Bob. Ia menceritakan usahanya untuk mencari tujuan hidup setelah lulus dari universitas. Bukan melalui ungkapan menggebu-gebu atau gambaran seorang depresi yang berkubang di sarangnya yang kelam, Charlotte membicarakan itu laiknya topik yang sudah ia tekuni dan beri kelapangan hati.

“You’ll figure that out. Keep writing. The more you know who you are and what you want, the less things upset you.” 

Kata Bob sebagai pribadi yang lebih berpengalaman dalam hidup. Ia percaya bahwa segalanya akan berhasil selagi terus mencoba. Ya, Bob yang sedang mengalami krisis paruh baya bisa mengatakan itu. 

Pada penghujung cerita, kita disajikan ending yang tidak eksplisit. Begitu banyak pertanyaan yang mengudara, terutama di adegan terakhir ketika Bob membisikkan sesuatu ke Charlotte yang tidak diperlihatkan kepada penonton.

Gambar 4. Diambil dari Pinterest @ReikiSonnenschein

Dilatarbelakangi kota Tokyo yang selalu padat, keduanya seakan memiliki spotlight saat mengucapkan perpisahan. Ribuan manusia yang berlalu-lalang memberikan kesan bahwa hidup sebenarnya adalah kumpulan momen-momen yang berlalu begitu cepat, seperti hubungan Charlotte dan Bob yang singkat, tapi meninggalkan kesan yang mendalam. 

Walaupun film ini memiliki dua fokus yaitu kehidupan Charlotte dan Bob, terjadi pemusatan pada dinamika kehidupan feminitas. Terdapat refleksi jiwa yang terisolasi dari kumpulan adegan keseharian Charlotte yang secara eksplisit menggambarkan perspektif kehidupan seorang istri dan perempuan dalam mengekspresikan dirinya. 

Dengan gaya penyutradaraannya, Sofia Coppola berhasil merepresentasikan tema feminitas yang terasa seperti pengakuan dalam bentuk paling sederhana. 

Referensi: 

Lost in Translation – Review. (2017, March 12). Cinema from the Spectrum. https://cinemafromthespectrum.com/2017/03/12/lost-in-translation-review/

Capturing Femininity: The Subtle Art of Visuals in Sofia Coppola Films — BARE Magazine. (2024). Baremagazine.org. https://baremagazine.org/Capturing-Femininity-The-Subtle-Art-of-Visuals-in-Sofia-Coppola-Films

Blumberg, N. (2019). Sofia Coppola | Biography, Films, & Facts | Britannica. In Encyclopædia Britannica. https://www.britannica.com/biography/Sofia-Coppola

Review and Summary: Lost in Translation (2003). (n.d.). Ashley Hajimirsadeghi. https://www.ashleyhajimirsadeghi.com/blog/lost-in-translation-2003

Subscribe
Notify of
guest

0 Komentar
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments

Artikel Lainnya