Sore itu, langit di kampus perlahan meredup diselimuti gerimis tipis. Di dalam Sekretariat Gelanggang Seni Sastra Teater dan Film (GSSTF), hadir Tubagus Sukma Jayadiningrat dari Program Studi (Prodi) Ilmu Sejarah 2024 sebagai sutradara, Zahra Amalia dari Sastra Inggris 2024 sebagai pimpinan produksi, dan Najla Tsabita Cinta dari Sastra Inggris 2024 yang bertanggung jawab pada tata panggung berperan sebagai tim. Ketiganya berkumpul kembali setelah Sukma, Mia, dan tim GSSTF pulang mengantarkan nama Universitas Padjadjaran menembus panggung nasional di Festamasio XII di Teater Hampa, Universitas Negeri Malang.
Perbincangan hangat kami sore itu dibuka oleh Uma, sang sutradara, dengan kilas balik mengenai awal mula keterlibatan mereka. GSSTF merupakan rumah bagi mahasiswa dari berbagai latar belakang, baik dari program studi rumpun saintek maupun soshum. “Kami datang dari latar belakang yang beragam, tetapi dipersatukan oleh sastra dan seni di GSSTF,” ujar Uma antusias. Langkah menuju Malang dimulai tanpa ekspektasi tinggi. Belajar dari Festamasio XI, Mia menyadari bahwa pertunjukan besar harus dimulai dan dibangun dari sebuah niat yang tulus. Apalagi, naskah beraliran surealis yang dipilih menuntut kolaborasi antara sutradara, penulis, aktor, hingga tim artistik. “Saat pengumuman lolos kurasi, alhamdulillah kita jadi sedikit lebih confident, tapi masih perlu dikembangkan,” kenang Mia.
Bagi Uma, posisi sutradara adalah sebuah takdir yang tak terduga. Awalnya ia hanya ingin menjadi aktor karena terinspirasi dari karakter badut di pementasan Teater Titik Dua dan tokoh ‘Topia’ dari Teater Institut UNESA. Namun, Uma justru ditawari posisi sutradara oleh Kak May (Lurah GSSTF 2025) dan Kak Aqeela (Kadiv Teater GSSTF 2025) saat mengobrol santai. Ada kejadian lucu di balik keputusannya menerima tantangan itu: hanya karena sebuah hadiah pemberian dan cerita dari “Mimpi Demam Aku”. Selain itu, naskah surealis ini menjadi tantangan besar karena GSSTF secara historis lebih dikenal dengan pementasan realis. Sementara bagi Mia, ia jatuh cinta pada atmosfer teater sejak menjadi panitia Festamasio XI tahun 2024 dan bertekad menjadi peserta di edisi berikutnya. Kolaborasi menjadi lebih mudah karena Mia dan Uma pernah bekerja sama dalam pementasan PENA 2025. Di sisi lain, Cinta terlibat di tata panggung karena tarikan pertemanan tim artistik yang selalu bergerak satu paket. Sayangnya, akibat keterbatasan kuota operasional, Cinta harus merelakan diri tidak ikut berangkat secara fisik ke Malang.
Namun, di balik layar pementasan yang megah, tersimpan perjuangan melelahkan yang harus dihadapi oleh seluruh tim. Tantangan terbesar sepanjang proses produksi adalah menjaga keseimbangan akademik. Proses kurasi pada November tahun lalu beriringan dengan UAS, sementara seminggu menjelang keberangkatan ke Malang, mereka dihadapkan pada jadwal UTS. Tim harus membelah konsentrasi di tengah situasi yang sangat hectic. Mia mengaku bahwa mereka harus membagi fokus antara tugas kuliah, rapat produksi, hingga pengerjaan properti panggung secara bersamaan. Jika Uma mendapat kelonggaran waktu tugas dari jurusannya, rekan-rekan dari rumpun saintek kerap terlambat latihan karena mengerjakan praktikum dan terjebak pada urusan log book. Cinta sendiri merefleksikan pengalamannya membagi waktu antara tugas kuliah, set prop, dan UKM di ITB dengan santai, “Alhamdulillah masih selamat, masih hidup sampai sekarang.”
Setelah melewati badai ujian di kampus, perjalanan panjang akhirnya membawa mereka menapakkan kaki di kota Malang. Setibanya di Malang, mereka langsung dihadapkan pada kendala logistik. Karena tiba pada hari Minggu saat banyak toko bangunan tutup, tim hanya memiliki tiga hari efektif untuk membangun properti dari nol. Rangkaian yang padat membuat tim artistik terpaksa bekerja fisik dari malam hingga subuh dengan bahan minim. Ditambah kendala biaya teknis dan buta geografi medan, tekanan fisik dan mental berada di titik tertinggi. Uma membenarkan bahwa kelelahan tim sudah menumpuk sejak persiapan lima bulan di Jatinangor, yang memicu kejenuhan (demotivasi). Namun, tekanan kompetisi seketika luntur berkat solidaritas komunitas teater tuan rumah, Teater Hampa yang ikut turun tangan membantu proses pembuatan properti. Kompetisi pun berubah menjadi festival persaudaraan yang hangat.
Karya yang bertajuk “Tari Mentari” mengisahkan hubungan manusia dan alam, di mana keserakahan manusia dalam mengeksploitasi alam membuat bumi dan matahari murka, hingga akhirnya kedua sumber kehidupan tersebut memilih tidak pernah muncul lagi (kiamat). Menurut Uma, pesan moral lakon ini sangat relevan dengan isu lingkungan di Indonesia saat ini, seperti alih fungsi lahan dan pembabatan hutan untuk lahan sawit yang memicu pemanasan global. “Ini mengingatkan agar manusia jangan merusak alam. Mumpung oksigen masih gratis, sebaiknya kita jaga,” tuturnya. Lebih dari sekadar isu ekologi sosial, Uma melihat naskah ini memiliki dimensi spiritual yang kuat tentang hubungan manusia dengan Tuhan melalui alam.
Menerjemahkan tema ke estetika panggung sempat menghadirkan dilema personal bagi Uma karena merasa belum menerapkan gaya hidup yang selaras. Namun, penampilan berskala besar ini digarap secara imajinatif dan keluar dari zona nyaman pertunjukan GSSTF sebelumnya yang condong ke bentuk realis. Meski membuat tim make-up wardrobe kalang kabut, warna khas GSSTF yang cheerful, ekspresif, dan penuh misteri tetap kuat di atas panggung.
Didominasi wajah baru angkatan GSSTF 25, manajemen produksi dipersiapkan dari nol, terbantu oleh wejangan jarak jauh para alumni seperti Kak May, Kak Sasa, dan mantan Pimpro Festamasio IX. Meski ketidakhadiran alumni secara fisik sempat memicu rasa canggung, mereka memanfaatkan kesempatan dengan menyaksikan 9 pementasan komunitas lain secara gratis untuk menyerap ilmu pengaktoran, tata panggung minim bahan, hingga musik.
Pengalaman di Malang ini telah berhasil mendewasakan tim secara artistik sekaligus membuka mata terhadap realitas industri seni pertunjukan. GSSTF berhasil menembus jajaran 10 peserta nasional, meraih nominasi Aktor Pendamping Terbaik, serta pujian kostum nyentrik dari Teater Gabi 96’.
Namun, keberhasilan ini memicu refleksi kritis sekembalinya mereka ke kampus Jatinangor mengenai ketimpangan iklim kesenian sendiri. Di FIB Unpad terdapat 10 hingga 12 komunitas teater aktif, Uma menilai atmosfer sastranya mati suri karena didominasi prestasi akademik dan riset. “Kampus sastra tapi nggak kerasa sastra,” katanya. Ia menyayangkan vakumnya program seperti Rineka Padjajaran dan berharap pihak dosen serta dekan bersedia memfasilitasi ruang pementasan rutin bulanan.
Mia menambahkan bahwa sebagian besar komunitas teater di Unpad masih terjebak dalam lingkaran internal fakultas. Hal ini diperparah sikap skeptis birokrasi kampus yang ragu memberikan dukungan finansial karena menganggap operasional teater terlalu besar dengan hasil yang tidak pasti unpredictable. “Padahal semakin sering didukung berkompetisi keluar, semakin kaya pengalaman dan besar peluang membawa kemenangan bagi universitas,” tegas Mia. Pada akhirnya, pementasan ini memunculkan kesadaran bahwa perjuangan kesenian mahasiswa harus terus berjalan, terlepas dari ada atau tidaknya dukungan birokrasi.
Menutup obrolan, Uma berpesan agar mahasiswa tidak takut gagal untuk mulai berkarya, bahkan dari hal sederhana seperti membaca satu bait puisi. Menurutnya, keberanian tampil lahir dari kesiapan kolektif seluruh tim di balik layar. Uma juga berharap kampus dapat memberikan ruang apresiasi bagi mahasiswa yang ingin berkesenian.
Mia turut mengajak mahasiswa untuk menumbuhkan rasa percaya diri sejak awal proses kreatif. Baginya, proses berkarya memang penuh tantangan, tetapi akan terasa lebih ringan karena dijalani bersama komunitas yang telah tumbuh layaknya keluarga.
Senja pun menyingsing, menyisakan kehangatan di Sekretariat GSSTF seiring meredanya gerimis. Obrolan ini bermuara pada apresiasi bagi Uma, Mia, Cinta, dan seluruh tim GSSTF Unpad yang berhasil membawa Tari Mentari melangkah hingga panggung nasional Festamasio XII Malang.
Pencapaian tersebut menempatkan GSSTF sebagai salah satu dari 10 komunitas teater terpilih dari seluruh Indonesia. Melalui proses panjang yang penuh tantangan, mereka membuktikan bahwa solidaritas, keberanian, dan niat tulus akan selalu menjaga api kreativitas tetap menyala di panggung seni pertunjukan.