“Pak Semir, kenapa beliau belum menikah lagi? Kasihan. Setiap hari kerjaannya duduk di teras, sambil melamun dan minum kopi. Gak ada teman mengobrol,” tanya seorang tetangga kepada anak bungsu Pak Semir, yang hanya bisa menggaruk kepala dan menjawab sopan “Bapak belum ada keinginan, Bu. Tampaknya pun beliau bahagia-bahagia saja. Perkara duduk di teras sambil melamun, bukankah suami Ibu juga seperti itu?” Begitu katanya. Jawaban telak yang berhasil membuat si tetangga menggerakkan kipas tangan dengan menggebu-gebu, lantas berpamitan singkat dan pulang. Ingin menghadiri pengajian sore, katanya.
Pembicaraan yang terjadi di depan pagar rumah itu telah Bapak dengarkan dengan khidmat, menjadi backsound dari hamparan visual pepohonan asri dan langit biru yang ia lihat sekarang. Diraihnya secangkir kopi tanpa gula, lantas diseruput pelan. Pikirannya penuh dengan ayam-ayam di halaman belakang rumah yang sudah seminggu belum mau bertelur. Juga dengan pendingin ruangan di kamar tidur yang tidak terasa lagi dinginnya. Oh iya, juga soal kursi teras kayu yang saat ini sedang ia duduki. Sepertinya aku beli saja yang baru dan lebih nyaman, yang ada bantalnya itu. Kira-kira harganya berapa ya?
“Pak, sungguh ndak mau menikah lagi?” Tanya si Bungsu yang sudah ikut duduk di kursi teras sebelah meja kopi. Bapak yang sejak tadi sedang menunduk sambil meraba-raba kursi pun mendongak,
“Bukannya tidak mau, tapi bukan berarti mau juga. Lalu, kenapa kamu bicaranya jadi campur-campur bahasa Jawa begitu? Karena merantau, kuliah di Jawa?” Bapak balik bertanya, cengar-cengir mengganti topik.
“Ini serius, Pak. Bapak sungguh ndakpapa? sendirian di rumah, ndak ada teman? Sebentar lagi aku balik ke Jawa, lho, Pak.”
Bapak diam sebentar, kemudian menyeruput kopi untuk kedua kalinya.
“Tidak apa-apa. Nanti kalau mau menikah lagi, Bapak akan bilang,” jawab Bapak pendek, mengalihkan pandangan. Menolak untuk menatap mata anaknya yang sudah berubah sendu.
Percakapan itu telah terjadi bertahun-tahun yang lalu. Selama itu pula percakapan Bapak dan si Bungsu tentang pernikahan terhenti, berlalu begitu saja tanpa ada pembicaraan lebih lanjut. Tidak sekalipun terlintas di benak Bapak untuk menjalin ikatan pernikahan lagi atau mencari pasangan baru “Aku sudah cukup nyaman tinggal sendiri, Nak. Tidak perlu khawatir yang berlebihan. Aku masih bisa mengurus diri dengan baik.” Begitu jawab Bapak, setiap kali anak-anaknya datang ke rumah dengan harapan ada orang baru yang bertaut di hati Bapak.
Hingga suatu waktu, Bapak bertemu dengan seorang wanita yang usianya sepantaran. Ibu Ina panggilannya. Ia adalah keluarga jauh tetangga sebelah rumah Bapak yang untuk pertama kalinya datang berkunjung di hari lebaran. Saat itu, Bapak juga datang menghampiri untuk silaturahmi. Begitu agenda salam-salaman, mereka bersitatap. Kemudian mengunci pilihan pada satu sama lain. Bukan tanpa alasan. “Pak Semir, perkenalkan. Ini sepupu saya, Ina. Dia datang jauh-jauh dari Wonogiri. Oh iya, Bapak tahu? Ina juga memelihara ayam! Nama jenis ayamnya apa, Ina? Aku lupa,” Begitu kata tetangga pemilik rumah ketika memperkenalkan keduanya. Maka, sudah jelaslah topik obrolan Bapak dan Ibu Ina pada hari itu.
Kamu jadi teman ngobrolku hari ini. Batin keduanya.
Siapa sangka, mereka cocok sekali. Keduanya suka bermain dengan ayam, suka kopi pahit, suka bakso malang gerobak, suka olahraga jalan pagi, dan suka baca buku. Kalimat Bapak yang belum tuntas dikeluarkan seringkali dibalas lebih dulu oleh Ibu Ina. Bukan hanya itu, Bapak senang sekali ketika mengetahui bahwa humornya dan humor Ibu Ina klik satu sama lain.
“Tahu tidak, Bu? Menurut saya, ayam itu hidupnya membosankan sekali,” kata Bapak, sembari meletakkan cangkir kopi di meja tamu. Bu Ina membuka toples, hendak mengambil nastar.
“Kenapa begitu, Pak?”
“Karena ayam itu kerjaannya antara membangunkan orang tidur atau berbicara saja seharian. Yang dibangunkan pun tidak bangun-bangun karena kebo, dan yang diajak bicara pun tidak paham karena bicaranya hanya petak-petok-petak-petok!”
Tuan rumah dan para tamu sedikit meringis mendengar candaan Bapak yang lucu tidak, aneh iya. Namun, wajah mereka cukup berseri ketika melihat senda gurau Bapak ditanggapi dengan baik oleh Ibu Ina,
“Justru saya kira Bapak akan bilang, ‘hidup ayam membosankan, ya karena dia ayam. Kalau bukan jadi telor ceplok, jadi sate!’”
Makin pecahlah tawa keduanya. Orang lain yang memperhatikan ikut senyum-senyum tersipu melihat kedekatan mereka, mulai melirik satu sama lain dengan batin hati yang sama. Bukan hanya karena hadirnya seseorang yang sekiranya bisa menjadi calon pasangan Bapak, tetapi juga wajah bahagia yang terukir di keduanya.
Cocok sekali itu, jodohin saja kali, ya? Suruh nikah sekarang juga.
Mereka menikah 6 bulan setelah pertemuan pertama. Keduanya memutuskan untuk melaksanakan akad nikah di rumah Bapak, tidak perlu resepsi besar-besaran. Momen mengikat janji itu dihadiri oleh beberapa anggota keluarga Bapak dan Ibu Ina, serta tetangga-tetangga terdekat saja. Pakaian yang dikenakan pun tidak perlu mewah. Bapak berkemeja putih dan berjas coklat tua, sedangkan Ibu Ina berkebaya tunik krem yang dipadu dengan rok batik dan kerudung sewarna jas Bapak. Setelah akad, mereka bersama para tamu menyantap bersama nasi kuning yang sudah siap di ruang tengah. Lantas membagikan kotak bingkisan ke setiap rumah “Kami baru saja melaksanakan pernikahan tadi pagi. Mohon doanya untuk kebahagiaan dalam pernikahan kami.” Begitu kata Bapak dan Ibu Ina, yang dibalas dengan tawa dan tangis haru.
Cepat, tetapi memang tidak ada perihal yang perlu ditunda. Keduanya seperti dua sahabat lama yang bertemu, lantas membuat warna baru di jalanan tua. Tak tanggung-tanggung, Ibu Ina dengan senang hati menyetujui permintaan Bapak untuk segera pindah ke kampung, “Aku suka disini. Lebih tenang, lebih banyak pohon. Tidak hiruk-pikuk dengan kemacetan atau gedung-gedung tinggi,” begitu katanya. Bapak senang bukan kepalang.
Sekarang, ayam-ayam di halaman belakang rumah sudah bertelur dengan baik. Pendingin ruangan di kamar tidur pun sudah diperbaiki. Segar sekali anginnya sampai-sampai Bapak harus duduk di lantai ketika membaca Al-Qur’an, karena kalau di kasur sudah pasti tertidur. Kursi-kursi teras kayu juga sudah diganti dengan yang lebih nyaman, yaitu kursi yang ada bantal kecilnya. Sebuah pilihan Ibu Ina, tanpa kompromi dengan Bapak.
“Eh, kok kamu tahu sekali Ina? Sejak kemarin aku kepingin beli kursi seperti ini,”
“Eh, sungguhan, Pak? Aku pilih ini karena suka saja. Lagipula yang biasanya aku suka pun sudah pasti kamu suka juga. Ternyata benar. Perkara kursi pun selera kita sama!”
Lagi-lagi, keduanya tertawa riang. Menatap penuh cinta satu sama lain.
Bertahun-tahun berlalu lagi. Pernikahan Bapak dan Ibu Ina sudah berjalan 5 tahun lamanya. Nyamannya Bapak sudah berganti. Ia yang dulu serba mencukupkan diri dengan kesendiriannya, sekarang telah dicukupkan oleh Ibu Ina. Satu hal yang Bapak tidak akan pernah tahu apabila ia masih menolak untuk menikah lagi.
Sejak hari pertama, keduanya selalu mengisi keseharian layaknya sejoli yang baru menikah, tidak terpisahkan. Jika Bapak menyapu halaman, maka Ibu Ina memberi makan ayam. Jika Bapak berbelanja di toko sayur, maka Ibu Ina berbelanja di toko daging sebelahnya. Jika Bapak merawat bunga di halaman, maka Ibu Ina mengupas bawang di teras. Begitu terus, hingga ibu-ibu tetangga yang lewat selalu bilang, “Pak Semir dan Ibu Ina itu mesra sekali. Mau melakukan apapun atau mau pergi kemanapun pasti berdua terus. Coba saja suamiku mau diajak begitu. Pasti menyenangkan. Nyatanya, malah tidur terus!” Ujar sebagian dari mereka. Bapak dan Ibu Ina tertawa kecil mendengarnya, menggeleng-gelengkan kepala.
Selain itu, ada satu hal wajib yang pasti dilakukan oleh Bapak dan Ibu Ina. Bercengkerama di teras rumah pada sore hari. Tentunya sambil ditemani 2 cangkir kopi pahit panas. Bapak dan Ibu Ina akan mengobrol lama sekali tentang banyak hal.
“Pak, kata berita di televisi tadi pagi, harga-harga bahan pokok mulai naik. Pantas harga bakso malang gerobak yang sering kita beli itu ikut naik juga, Pak!” Seru Ibu Ina.
“Begitulah. Tukang bakso saja kena pengaruh besar, apalagi tukang dagingnya? Untungnya kita punya ayam. Sehat-sehat pula. Bila kepepet, bisa kita potong untuk dimasak,” kata Bapak sambil menyeruput kopi.
“Eh, janganlah, Pak! Kasihan ayamnya,”
“Lah, kalau tidak dimakan, lalu buat apa? Buat hadiah Pak Galih, ketua RT yang baru diangkat itu?”
“Jangan juga. Nanti nasibnya sama saja. Kita pelihara saja sampai mati!”
Bapak tertawa mendengarnya, “Baiklah. Sebagian ayam kita pelihara, sebagian lagi memang diternak untuk dimasak. Bagaimana menurutmu?”
Ibu Ina mengangguk-angguk.
“Oh iya, Pak. Apa kabar ya, cucu kita? Kenapa si Sulung belum datang juga ke rumah? Aku sudah tidak sabar ingin bertemu!” Ibu Ina kembali riang. Ia seruput kopi dengan nikmat. Bapak tertawa lagi, lantas menjawab,
“Sabarlah, Ina. Belum 100 hari cucu kita lahir, ibunya masih butuh waktu untuk beristirahat. Jika mereka butuh bantuan, baru kita datangi.” Ibu Ina mengangguk-angguk lagi.
Kadangkala, keduanya hanya akan duduk diam sambil menatap langit yang sudah kemerahan. Sesekali diraihnya cangkir kopi sambil melirik satu sama lain, tertawa kecil. Tak lupa juga ditemani oleh kicauan tetangga yang sering lewat, “Dipikir-pikir, Pak Semir dan Ibu Ina itu memang unik. Setiap hari aku lihat mereka melamun begitu, melihat langit. Memangnya tidak takut kesambet, ya?” Bapak dan Ibu Ina sudah terlanjur tenggelam dengan pikirannya masing-masing.
Namun, dibalik kebersamaan Bapak dan Ibu Ina, ada satu hal yang luput dibicarakan. Sesuatu yang begitu kuat di hati, tetapi ringkih bila sudah sampai pada pikiran dan tubuh yang mengingat.
Meskipun, memang bukan sesuatu yang harus diungkapkan. Bapak sudah terlalu lama menelantarkan rasa itu, ingatan itu. Namun, mau sepandai apapun Bapak menyembunyikannya, pada akhirnya semua muncul ke permukaan. Memaksa Bapak untuk menghadapinya lagi.
Terik matahari menerangi ukiran emas bertuliskan nama di puluhan nisan yang berdiri tegak. Angin dengan lembut menyapu daun-daun yang berguguran dari satu-dua pohon besar. Bidang tanah seluas satu hektar itu sepi dan sunyi, menyisakan suara-suara burung yang hilir mudik di atasnya. Sekarang, Bapak sedang berada di sebuah pemakaman umum yang letaknya sejauh 10 kilometer dari rumah.
Bapak duduk diam di samping makam Ibu. Ibu dari anak-anaknya yang meninggalkannya 8 tahun lalu.
“Selamat siang, Kasih,” kata Bapak, setelah satu jam membisu menatap nisan.
“Maaf. Aku baru datang berkunjung setelah 5 tahun lamanya.”
Bapak menunduk, memainkan jari. Berpikir sebentar, lalu melanjutkan ceritanya.
“Ingatkah kamu, ketika aku datang mengabari perihal pernikahanku dengan seorang wanita yang usianya sepantaran. Ina namanya,”
“Ina itu… Dia adalah wanita yang cantik dan lembut hatinya. Keceriaannya mewarnai setiap sudut rumah. Hal-hal yang ia ceritakan selalu lucu dan menyenangkan. Kehadirannya menghilangkan penat di tubuhku yang sudah tua. Rasa masakannya enak sekali, membuat betah perutku yang kadangkala sulit diberi makan. Senyumnya… senyumnya menghadirkan nyaman di hati. Aku jatuh cinta kepadanya, Kasih.”
Senyum takzim tersungging di wajah Bapak. Ia sisir rambut putih di kepalanya, ia merapikan jaket di tubuhnya. Lantas, Bapak kembali duduk diam, hendak melanjutkan ceritanya.
“Kasih, aku mulai melupakan ketiadaanmu di rumah. Aku mulai lupa cerita-ceritamu tentang kelakuan aneh si Sulung dan si Bungsu. Aku mulai lupa dengan kamu yang cekatan, berlari kesana-kemari untuk bermain dengan mereka. Aku mulai lupa suaramu yang memanggil-manggil namaku dari dapur, beradu dengan suara wajan dan sendok. Aku mulai lupa tawamu yang pecah ketika candaanku telak mengenai kegundahanmu. Aku… aku mulai lupa dengan ketiadaanmu dalam keseharianku, Kasih.”
Bapak menghembuskan napas pelan, kemudian tersenyum lembut menatap nisan.
“Kasih, aku ingin berterima kasih kepadamu. Kamu telah menerimaku yang datang dari sepi dan sunyinya masa lalu, berbaik hati membantuku untuk kembali meraba di jalan yang lurus. Kamu sudah berkorban sedemikian rupa, membawa dua anak manis ke dunia ini dan merawat mereka sepanjang hidupmu. Terima kasih karena telah mewarnai sebagian besar waktu di hidup kami. Semoga, besarnya cintamu sudah sempat kami balas ketika kamu masih hidup di dunia.”
Bapak merapikan kembang bunga yang masih segar di atas makam, lalu berdiri.
“Aku pamit, Kasih. Selamat tinggal, dan sampai jumpa di lain waktu.”
Bapak sudah melangkahkan kaki, menjauh dari makam Ibu. Wajahnya cerah diterpa sinar matahari. Ia hembuskan napas lega atas tumpah ruahnya kenangan masa lalu yang sudah lama ia tampung. Sekarang, jalannya terasa lebih ringan. Hatinya tidak seberat dulu. Bapak menatap lurus ke depan, hendak kembali pulang ke rumah.
Di pertengahan jalan, sudah dekat dengan pintu keluar, mata Bapak bertemu dengan seorang wanita yang sedang berdiri di samping sebuah makam. Dari jarak 500 meter, wanita itu berjalan pelan menghampiri Bapak. Bapak tersenyum, memperhatikan tiap geraknya.
“Sudah selesai bercerita kepadanya, Ina?”
“Sudah. Bapak sendiri, sudah bercerita kepadanya?”
“Sudah,” jawab Bapak, “Sekarang, aku mau pulang. Lalu beli bakso malang gerobak untuk makan siang. Bagaimana, kamu mau?”
“Mau!” jawab Ibu Ina riang.
“Baiklah. Ayo, kita pulang.”
Bapak dan Ibu Ina berjalan bersisian. Tangan keduanya bertaut satu sama lain, mengikat kuat hati baru yang kini tengah diemban. Mereka langkahkan kaki menuju rumah. Siap kembali pada kesederhanaan hidup yang dibalut dengan dua cangkir kopi pahit dan cinta.