TOEFL Preparation and Test

Ibu Ratna Erika sebagai pembicara dalam seminar persiapan TOEFL (Foto: Nisa Amalia)

Ibu Ratna Erika sebagai pembicara dalam seminar persiapan TOEFL

Dewasa ini, Test of English as a Foreign Language (TOEFL) telah menjadi kebutuhan dalam ranah akademis. TOEFL merupakan sebuah tes standar yang diujikan secara luas untuk menguji kemampuan bahasa Inggris seseorang. Pada umumnya, lembaga perguruan tinggi menjadikan hasil TOEFL sebagai syarat kelulusan mahasiswa. Hal inilah yang membuat TOEFL menjadi sangat penting. Namun, persiapan untuk mengikuti TOEFL ini tentu tidak sederhana. Biasanya, mahasiswa harus mengikuti TOEFL dua sampai tiga kali, atau bahkan lebih, hingga mendapatkan skor yang memenuhi standar yang telah ditetapkan universitas. Tidak hanya itu, biaya untuk satu kali mengikuti TOEFL di lembaga-lembaga pelatihan bahasa Inggris tertentu biasanya memberatkan mahasiswa. Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran, dalam hal ini memfasilitasi mahasiswanya untuk mengikuti TOEFL dengan biaya yang lebih terjangkau.

Gelanggang Mahasiswa Sastra Inggris (Gemasi) Unpad bekerja sama dengan Pusat Studi Bahasa Fakultas Ilmu Budaya Unpad, menyelenggarakan seminar dan tes TOEFL yang diadakan masing-masing pada tanggal 14 dan 15 Maret 2015 bertempat di Aula Gedung B FIB Unpad. Acara ini diikuti oleh sekitar 150 peserta dari berbagai fakultas, di antaranya Fakultas Ilmu Budaya, Fakultas Kedokteran, FMIPA, bahkan ada peserta dari Bioteknologi ITB.

Seminar persiapan TOEFL diselenggarakan pada hari pertama yang dimulai pukul 08.00. Acara dibuka dengan dua pemandu acara dari mahasiswa Sastra Inggris, yang menyapa para peserta seminar dengan menjelaskan secara singkat tentang TOEFL. Nadira selaku penanggung jawab acara memberikan sambutan pendek dan menyampaikan permohonan maafnya karena ketua pelaksana acara tidak dapat hadir. Sambutan kedua dibawakan oleh ketua Gemasi periode 2014-2015.

Dipandu oleh moderator Putri Fatmala, mahasiswa Satra Inggris angkatan 2012, seminar dimulai dengan pembicara pertama yaitu Kasno Pamungkas, M.Hum, dosen Program Studi Sastra Inggris, yang menjelaskan tentang Section 1 dari TOEFL yaitu Listening Section, bagian untuk menguji kemampuan pendengaran seseorang dalam bahasa Inggris. Beliau mengatakan bahwa kesalahan yang paling banyak dilakukan mahasiswa adalah mendengarkan soal tanpa membaca terlebih dahulu pilihan jawaban yang tertera dalam lembar soal. “Read – listen – choose,” katanya dengan tegas mengoreksi. Dengan membaca pilihan jawaban terlebih dahulu, kita dapat memetakan atau menduga topik apa yang dibicarakan dalam percakapan yang diperdengarkan. Hal tersebut juga dapat mengoptimalkan waktu karena jeda antarsoal hanya 12 detik sudah termasuk waktu untuk menghitamkan jawaban. “Tidak ada waktu untuk read – listen – read again – choose.”

Menurut beliau, dalam mengerjakan tes, kita harus bisa mengombinasikan kemampuan dengan strategi. Di samping menjelaskan hal-hal mendasar dari Listening Section, Pak Kasno juga menyajikan contoh-contoh soal TOEFL plus strategi menjawabnya. Selama satu setengah jam Pak Kasno menjelaskan dengan sangat rinci dan diakhiri dengan pemberian sertifikat dari Gemasi. Seminar kemudian diselingi dengan hiburan akustikan yang dibawakan mahasiswa Sastra Inggris, Keket dan Dani, dengan mempersembahkan dua lagu.

Sesi kedua seminar diisi oleh pembicara Ratna Erika M. Suwarno, S.S, dosen Prodi Sastra Inggris yang menyambung materi dari Pak Kasno dengan bagian Reading dan Structure. Dalam menghadapi soal bacaan ini, Ibu Erika menekankan untuk memperhatikan keselarasan antara kata kerja dan subjeknya karena kedua hal tersebut akan saling mempengaruhi struktur kalimat. Mahasiswa biasanya takut jika ada kata-kata yang tidak mengerti artinya kemudian menjadi panik dan akhirnya tidak mampu menemukan jawaban yang tepat. Untuk hal ini, Ibu Erika mengatakan bahwa tidak perlu untuk kita mengerti semua kata-kata yang terdapat dalam teks. Yang penting adalah memahami topik apa yang dibicarakan dan jangan panik. “Coba ambil informasi umum,” jelasnya.

Kesalahan besar lainnya adalah tidak membaca soal bagian akhir karena terlalu  berkutat di awal, menandai jawaban tanpa langsung menghitamkannya, dan mengosongkan jawaban. Dalam TOEFL, sangat penting untuk mengatur waktu untuk menghindari kesalahan-kesalahan di atas. Sebagai penutup, Ibu Erika menyarankan untuk tidak belajar apapun pada malam sebelum tes karena selain tidak akan berguna, juga hanya membuat stres.             Acara berlanjut pada hari kedua yaitu tes TOEFL yang dimulai tepat pukul 09.00. Setelah pengawas membacakan tata tertib dan mengisi lembar jawaban, soal kemudian dibagikan. Tes dimulai pukul 09.20, dimulai dari bagian kedua, Structure and Written Expression, guna menunggu peserta lain yang belum datang agar tidak ketinggalan Listening Section. Listening Section dilakukan setelahnya lalu dilanjut dengan Reading Comprehension. Tes berlangsung dengan tertib sampai akhir. Sebelum pulang, peserta diberikan angket mengenai tanggapan serta kesan yang didapat selama dua hari acara berlangsung. Panitia juga menginformasikan mengenai waktu keluarnya hasil tes dan sertifikat. Panitia berharap semoga hasilnya baik dan semoga acara ini bisa bermanfaat bagi para peserta. (NA)

0

Komentar